
Hari terus berlalu begitu saja meninggalkan kenangan-kenangan dalam hidup setiap insan. Tak ada yang bisa menghentikan waktu, yang ada kita terus berjalan mengikuti kemana waktu akan membawa kita.
Curahan rasa yang di berikan keluarga Wongso untuk Jessica tak pernah ada habisnya, apalagi kasih dan sayang yang di miliki Nyonya Monik, seakan tak pernah habis untuk Jessica, putri dari sahabatnya. Nyonya Monik sudah menganggap Jessica bagian dari keluarga besarnya.
Kondisi Jessica mulai membaik, Nyonya Monik harus terbang dari Bali menuju Jakarta setelah mendapat kabar dari Jerry. Beliau lah yang membantu Jessica pulih dari keterpurukan akibat kenangan masa lalu yang kembali hadir dalam hidupnya.
Jerry benar-benar protektif kepada Jessica, selama tinggal di Istana megahnya, Jessica di larang keras untuk bertemu dengan siapapun, bahkan ia dilarang pergi ke butik, Jerry pun menyembunyikan Jessica dari jangkauan Ezar.
Dua minggu telah berlalu begitu saja. Kondisi Jessica jauh lebih baik dari sebelumnya, ia sudah bangkit dari masa-masa kelamnya karena selama beberapa hari ini kondisinya terus di pantau oleh Psikiater.
Seperti pagi ini, ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, sebuah span berwarna hitam selutut yang di padukan dengan blous berwarna merah muda berhasil membuatnya penampilannya sempurna pagi ini.
"Kamu mau kemana, Je?" tanya Nyonya Monik ketika melihat penampilan Jessica.
"Hari ini Jeje mau ke Butik, Moms. Sudah lama Jeje tidak kesana, pasti banyak pekerjaan yang sudah menumpuk di meja kerja," ucap Jessica seraya menarik kursi yang ada di samping Fano.
"Tidak, tidak ku izinkan kamu kemana pun, Je." ucap Jerry sembari mengoles selai coklat di atas rotinya.
"Ayo lah Jer, aku mohon ... aku sangat bosan, Jer," ucap Jessica dengan wajah penuh harap, ia menatap Nyonya Monik dengan sebuah isyarat agar beliau mau membantunya.
Nyonya Monik mengulas senyumnya ketika menatap wajah Jessica yang penuh makna," biarkan Jeje pergi, Jer. Dia butuh suasana baru, mungkin dengan bertemu Rima si wanita jadi-jadian itu, suasana hati Jessica akan lebih baik," Seloroh Nyonya monik.
"Baiklah, tapi kamu tidak boleh membawa mobil sendiri, aku yang akan mengantarmu setelah mengantar Fano terlebih dahulu ke sekolahnya," akhirnya Jerry pun mengalah.
"Baiklah Sultan Jerry, aku mengikuti perintahmu," ucap Jessica sembari menatap wajah tampan yang ada di hadapannya.
Sarapan bersama telah usai, mereka bertiga akhirnya berangkat satu mobil. Nyonya Monik mengantar mereka sampai di teras rumah.
"Da da ... Grandma ...." Fano melambaikan tangannya sebelum kaca mobil itu tertutup rapat.
Nyonya Monik mengulas senyumnya sembari melambaikan tangan kepada Fano. Beliau terus menatap mobil hitam yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Kalian sudah cocok menjadi keluarga bahagia, tapi kenapa susah sekali untuk menyatukan kalian, dasar anak muda jaman sekarang!" gumam Nyonya Monik sebelum berjalan masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹...
Sebuah sambutan meriah berhasil membuat Jessica tersenyum bahagia, seluruh karyawannya sangat bahagia melihat kedatangan Jessica, mereka rindu dengan Bu Bos yang sangat loyal kepada semua karyawan di Butik maupun di Salon.
"Hey Cin, eyke rindu serindu-rindu kepada Yu," ucap Rima usai memeluk tubuh Jessica.
"Aku lebih rindu denganmu, Romi ..." kelakar Jessica yang berhasil membuat pria kemayu itu mendengus kesal.
"pacarmu empat kali datang kemari, Cin ... dia sepertinya rindu sama Yu," bisik Rima.
"Biarkan saja," ucap Jessica dengan entengnya.
Jessica akhirnya mengecek keadaan Butik dan Salonnya, ia sedang fokus meneliti laporan yang sudah di siapkan oleh kasir Butiknya.
Jessica mengembangkan senyumnya ketika melihat hasil yang tertulis dalam laporan itu, tidak ada penurunan selama ia sakit. Semua berjalan lancar sama seperti biasanya.
"Banyak pelanggan yang ingin bertemu dengan Ibu, katanya mereka ingin memesan gaun khusus untuk acara tertentu, Bu." ucap seseorang yang merupakan orang kepercayaan Jessica.
"Segera hubungi mereka, buatlah jadwalnya untuk pertemuan besok pagi," ucap Jessica sebelum berlalu pergi ke depan untuk melihat barang baru yang sedang tertata rapi di sebuah gondola.
"Je ...." suara bariton seorang pria yang baru masuk berhasil membuat Jessica mengalihkan pandangannya.
"Ezar ... " lirih Jessica, ia menatap pria yang beberapa hari ini berhasil mengusik hati dan pikirannya.
Keduanya saling menatap satu sama lain, sebuah kerinduan terpancar dari sorot mata masing-masing, tanpa banyak bicara Jeje menarik tangan Ezar agar mengikuti dirinya, ia membawa Ezar masuk ke dalam ruangannya yang ada di lantai dua.
"Silahkan duduk," ucap Jessica sembari duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.
Ezar pun mendaratkan tubuhnya tepat di samping Jessica, tanpa banyak bicara ia meraih tubuh wanita yang sangat ia rindukan selama ini kedalam dekapannya. Ezar terus menghujani Jessica dengan kecupan yang mendarat di puncak rambut yang harum milik Jessica.
"Aku sangat merindukanmu, Je ... aku sudah berusaha mencarimu, tapi Jerry menutup seluruh aksesmu, dia menyembunyikanmu dariku. Apa yang sebenarnya terjadi, Je? kamu sakit apa?" cecar Ezar dengan tangan yang tak henti mengusap rambut Jessica.
Jessica masih diam, ia tidak ingin menjelaskan apapun kepada Ezar karena ia sendiri belum tahu apa yang ia inginkan sebenarnya. Melepas atau mempertahankan Ezar.
__ADS_1
"Keadaanku sekarang baik-baik saja, Zar ...." ucap Jessica seraya mengurai diri dari dekapan hangat sang kekasih. Ia pun bangkit dari sofa itu dan berdiri membelakangi Ezar.
Jessica sedang menghindari Ezar, entah mengapa ia seakan ragu dengan perasaannya saat ini. Jessica terkesiap ketika merasakan kedua tangan Ezar tiba-tiba mendekap tubuhnya dari belakang, Jeje pun mengubah posisinya agar bisa menatap wajah yang ada di belakangnya.
"Sepertinya kita harus menunda pernikahan kita dulu, Je. Besok aku akan berangkat ke Thailand untuk memantau langsung peresmian perusahaan baru yang aku bangun disana, kemungkinan aku akan lama disana, sekitar satu bulan," ucap Ezar dengan jari yang menyusuri rahang Jessica, kedua matanya menatap manik hitam di hadapannya.
Beberapa detik kemudian, kedua bibir itu akhirnya saling bertautan, melepas sebuah kerinduan yang selama ini terpendam. Suara decapan mengiringi permainan lidah mereka berdua, hingga Jessica tiba-tiba mendorong tubuh Ezar agar menjauh darinya.
Jessica berlari ke kamar mandi ketik merasakan mual yang begitu hebat. "Hoek ... hoek ... hoek ...." suara Jessica yang terdengar dari kamar mandi, hal itu berhasil membuat Ezar menaikkan satu alisnya sambil bergumam.
"Apa Jessica Hamil?"
Ezar segera masuk ke kamar mandi untuk memastikan keadaan Jessica, ia memijat tengkuk Jessica dengan rasa khawatir yang menelusup dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua keluar dari kamar mandi. Ezar terus menatap wajah Jessica yang terlihat lemas itu.
"Aku harus memastikan keadaanmu sebelum aku berangkat, Je. Sekarang ikutlah denganku, kita harus ke dokter kandungan untuk memastikan dia tumbuh disini atau tidak," ucap Ezar seraya mengusap lembut perut rata Jessica.
"Tidak, aku tidak mungkin hamil, Zar," sanggah Jessica.
Ezar terus membujuk Jessica agar ikut bersamanya, berbagai rayuan berhasil lolos dari bibir Ezar untuk meyakinkan Jessica dan benar saja, akhirnya Jessica pun menyetujui permintaan Ezar.
"Kalau kamu benar-benar hamil, hari ini juga kita harus menikah, Je. Aku tidak mau menundanya lagi," ucap Ezar seraya membukakan pintu untuk Jessica.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
Duh gimana nih? Jeje hamil gak ya?
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷