Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Merasa bersalah,


__ADS_3

🎵Dan sesungguhnya bila kamu


Kehilangan cinta sejatimu


Itu semua karna kamu


Tak sungguh-sungguh pelihara


Dan menjaga cinta matimu


( Cinta Mati 2 by Mulan Jameela FT. Mitha)


Alunan lagu yang di nyanyikan oleh Mulan Jameela ini tengah menggema di ruang keluarga Jessica. Sorot matanya menatap lurus ke depan, memancarkan sebuah kegelisahan dan kecemasan disana. Sebuah rasa bersalah menyelinap dalam hati nuraninya. Setelah apa yang dilakukannya bersama Ezar tadi siang, tiba-tiba hatinya merasakan sakit yang teramat sakit, entah apa sebenarnya yang sedang ada dalam pikiran Jessica.


"Tidak ... tidak ... semua ini bukan salahku!" Jeje menggelengkan kepalanya.


Jessica mengusap kasar wajah tanpa polesan make-up miliknya. Nafasnya terasa berat karena sebuah beban yang ada di hatinya.


"Mama ... Fano sudah selesai mewarnai," ucap Fano yang sedang duduk di lantai.


"Coba bawa sini," Jeje menyambut putranya, ia mengangkat tubuh Fano ke atas pangkuannya.


Sebuah kecupan penuh rasa berhasil mendarat di puncak rambut Fano. Semua rasa yang baru saja menyerang hatinya kini hilang sudah ketika Fano ada di pangkuannya. Jeje mengeratkan pelukannya kepada pangeran kecil yang menemani hari-hari nya itu.


"Kenapa Fano mewarnai gambar ini?" tanya Jeje sembari menunjuk hasil karya putranya. Kertas putih itu di penuhi gambar seorang pria yang sedang menggandeng tangan seorang anak kecil.


"Ini kan gambar Papa dan Fano, kita lagi jalan-jalan ini Ma," ucap Fano sembari menatap Jessica.


Bibir tanpa warna itu melengkung kedalam untuk menjawab ucapan Fano, tidak ada yang bisa di ucapkan Jessica jika Fano sudah membahas tentang Papanya.


Pandangan keduanya beralih ke suara derap langkah dari ruang tamu, Senyum kebahagian terlukis jelas di wajah kecil Fano tatkala mengetahui siapa yang datang.


"Papa ...." Fano berlari untuk menyambut kedatangan Jerry.

__ADS_1


Jerry merentangkan tangannya untuk menyambut tubuh Fano yang menghambur ke arahnya. Obrolan ringan pun terjadi di antara kedua pria beda generasi ini.


"Darimana?" tanya Jessica setelah Jerry sampai di ruang keluarga.


"Dari sana mau kesini," Ucap Jerry tanpa menatap Jessica.


"Ck!" Jessica berdecak karena mendengar ucapan menyebalkan yang terlontar dari bibir Jerry.


Jerry tak menghiraukan wanita yang tengah menampilkan wajah tertekuk itu, ia fokus ngobrol bersama Fano walau sesekali ekor matanya menangkap wanita yang sedang merapikan buku pelajaran Fano.


Kedua manik hitam Jerry seketika melebar tatkala menemukan beberapa tanda kepemilikan di leher Jessica, la juga melihat tanda lain di bagian dada yang terbalut dress dengan model dada yang rendah.


"Apa Jessica bercinta dengan Ezar?" Jerry bertanya dalam hatinya.


Beberapa saat setelah bermain dengan Fano, Jerry memutuskan untuk bertanya langsung kepada Jessica, rasa penasaran benar-benar menggerogoti hatinya.


"Je, apa kamu sudah melepas gelar 'Janda suci' dariku?" tanya Ezar sembari menatap lekat Jessica.


"Lila ... Lila ...." Jeje memanggil pengasuh putranya agar membawa Fano ke dalam kamar, ia tidak ingin putranya mendengar pembicaraan seriusnya bersama Jerry.


Setelah memastikan Fano dan Lila masuk kedalam kamar, Jeje mengajak Jerry ke ruang tamu untuk membicarakan masalah ini. Mereka duduk bersanding di sofa putih tulang itu.


"Harus darimana aku mulai membicarakan ini, Jer?" tanya Jessica tanpa menatap wajah resah di sampingnya.


"Apakah pertahanan hatimu telah runtuh?" tanya Jerry dengan jari telunjuk yang mengetuk pahanya.


"Sepertinya begitu, kali ini hatiku ikut terseret ke dalam arus terlarang ini," ucap Jeje dengan nada penuh sesal.


"Jadi, kamu sudah menodai dirimu sendiri, Je? Kamu melakukan semua itu dengan pria beristri?" cecar Jerry sembari menatap wajah yang mulai memerah itu.


Bulir air mata perlahan turun dari sudut mata Jessica, tidak bisa di pungkiri bahwa rasa bersalah itu tengah menyerang hatinya, namun semua sudah terlanjur terjadi.


Obrolan dari hati ke hati terjadi di ruang tamu ini, beberapa kali Jerry harus menghela nafas yang berat tatkala mengetahui semua yang di lakukan oleh Jessica.

__ADS_1


"Sudahlah, tenangkan dirimu sekarang! pikirkan langkahmu selanjutnya jika istri sah Ezar mengetahui semua ini," ucap Jerry seraya berdiri dari tempat duduknya.


Jessica menatap tubuh yang menjulang tinggi itu, ia menaikkan sudut alisnya karena heran menatap ekspresi tak biasa yang terlihat di wajah pria keturunan Mexico ini.


"Kenapa buru-buru pulang?" tanya Jessica sembari menatap wajah Jerry.


"Aku harus menemui Dara di Apartemennya, dia baru pulang kemarin. Aku sangat merindukan dia, Je," ucap Jerry diiringi senyum manis setelahnya.


"Cih! rindu? aku tidak percaya! katakan saja jika kamu ingin transfer bibit unggulmu kepada Dara," sarkas Jessica dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan.


"Baguslah kalau kamu paham apa maksudku," ucap Jerry sebelum berjalan menuju pintu rumah milik Jessica.


Setelah mengantar Jerry sampai di teras rumah, Jeje pun berjalan menuju ruang keluarga, ia meraih kedua ponselnya sebelum pergi ke lantai dua menuju kamarnya.


Dering ponsel yang ada di genggaman tangan Jessica, berhasil menghentikan langkahnya menuju kamar, ia berhenti di undakan terakhir anak tangga sembari menjawab telfon dari Ezar.


Hampir tiga puluh menit mereka ngobrol lewat sambungan telfon, " Ya sudah besok pagi aku akan bersiap bersama Fano, jemput aku di butik saja ya. Tapi ingat baik-baik, aku tidak bisa menginap disana, oke?" ucap Jessica sebelum panggilannya dengan Ezar terputus.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka♥️😍


Maap ya jika upnya terlambat, othor lagi flu berat nih🤦 jadi bawaannya rebahan mulu🙆


Ada yang bisa menebak Jeje dan Ezar mau kmn?


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2