
Satu bulan kemudian ....
Semilir angin malam tengah menerpa seorang wanita yang sedang duduk di balkon kamarnya, untuk menikmati cahaya redup dari sang rembulan yang sedang bersembunyi di balik awan hitam.
Jessica sudah sembuh dari rasa sakit yang pernah menimpanya setelah hampir dua belas hari ia di rawat di Rumah sakit. Tentu saja itu adalah waktu yang sangat lama untuk Jessica, bayangkan saja ia harus menikmati aroma obat-obatan yang membuatnya bosan. Jerry membawa pulang Jessica dari rumah sakit setelah luka jahitan di perutnya kering dan tidak sakit lagi, ia meminta dokter bedah untuk memberikan obat terbaik yang bisa menyembuhkan luka sayatan dengan cepat.
Jessica tersenyum simpul tatkala mengingat semua yang terjadi beberapa waktu yang lalu di Rumah sakit dan sampai saat ini pun hubungannya bersama Jerry belum ada peningkatan, masih sama seperti sebelumnya.
Keraguan yang begitu besar masih menyelimuti hatinya, ia takut menerima Jerry dalam hidupnya sebagai seorang pasangan. Berbagai hal telah menjadi pertimbangannya, terutama karena masalah kehamilannya di masa depan.
"Sudahlah, Je. Kamu jangan memikirkan hal itu, aku tidak perduli jika setelah kita menikah, kamu tidak bisa mengandung anakku, Fano sudah cukup bagiku!"
"Kalau pun kamu menginginkan untuk hamil lagi, kita bisa melakukan program hamil ataupun bayi tabung."
"Kita sama-sama saling mencintai, Je. Bukankah saling memiliki dalam sebuah ikatan yang sah lebih membahagiakan dari pada sekedar persahabatan?"
Kalimat panjang yang di ucapkan Jerry beberapa hari yang lalu terus terngiang dalam indera pendengarannya. Jeje sedang di landa kegundahan hati. Entah mengapa, setelah mengetahui perasaan Jerry terhadapnya, ia menjadi galau setiap hari. Ia takut untuk melangkah lebih jauh dari hubungan mereka saat ini.
"Aku sangat takut, Jer. Aku takut kamu di rebut wanita lain ketika aku sudah memilikimu seutuhnya, aku tak sanggup jika harus dua kali kehilangan suamiku karena orang ketiga," lirih Jeje dengan kepala yang tertunduk.
Rasa trauma dan takut merasakan karma, dua hal itulah yang membuat Jessica ragu untuk membina sebuah rumah tangga bersama orang yang di cintainya.
Jerry tak pernah bosan untuk meyakinkan hati Jessica. Ia semakin menambah perhatiannya kepada janda anak satu itu agar bisa meluluhkan hati yang di selimuti sebuah keraguan.
Dinginnya angin malam semakin menusuk ke dalam jiwa. Jessica memutuskan untuk kembali ke kamarnya setelah puas merenung dalam keheningan malam. Ia berjalan menuju ranjangnya untuk berkelana dalam alam mimpi yang sudah menanti kedatangannya.
...🌹🌹🌹...
"Je, bersiaplah ... aku akan menjemputmu di butik, kita makan siang bersama," ucap Jerry sebelum sambungan telfonnya terputus.
__ADS_1
Hampir setiap hari Jerry mengajak makan siang bersama Jeje dan Fano. Pria keturunan Mexico itu harus menjemput Fano terlebih dahulu di rumah sebelum menjemput Jessica di butiknya.
Seperti siang ini, mereka bertiga sudah siap untuk berangkat ke salah satu Restoran ternama di Jakarta Selatan. Fano sangat bahagia karena setiap hari ia bisa bertemu dengan Jerry, bisa berdekatan dan memeluk pria yang selama ini di panggilnya Papa.
"Fano nanti pengen makan apa?" tanya Jerry sambil menatap Fano lewat kaca spion dalam mobil.
"Emm ... apa ya? Fano bingung Pa," ucap Fano dengan menampilkan ekspresi wajah bingung.
Jessica mengalihkan pandangannya, ia menengok Fano yang duduk sendiri di jok belakang. Ia sangat gemas melihat ekspresi putranya itu, "Fano makan ikan paus mau?" kelakar Jessica.
"Memang ada ya Ma?" Fano malah menanggapi semua itu dengan serius, tentu saja hal itu membuat Jerry tergelak di tempatnya.
Gelak tawa menggema di dalam mobil ketika Fano terus melontarkan pertanyaan yang menggelitik jiwa. Perjalanan terasa sangat singkat karena mereka bertiga asyik dalam candaan yang tiada habisnya.
Dua puluh menit telah berlalu, kini mereka bertiga telah sampai di tempat tujuan. Jerry mengangkat tubuh Fano ke dalam gendongnya, sungguh mereka cocok sekali untuk menjadi satu keluarga yang harmonis.
Berbagai macam makanan asia telah tersaji di meja bundar itu, makan siang pun telah di mulai tanpa ada yang mengeluarkan suara, Fano begitu menikmati makanan yang tersaji untuknya.
"Papa ... Fano mau beli robot Pa," ucap Fano dengan pandangan yang tak beralih dari layar pipih di pangkuannya. Ia sedang menikmati tontonan yang tersaji di yutub.
"Fano!! kemarin kan sudah beli ...." ucap Jeje dengan kedua alis yang di satukan.
"Baiklah, kita pergi ke toys store sekarang." Jerry segera melajukan kuda besinya menuju tempat yang diinginkan Fano.
Jessica mendengus kesal karena Jerry selalu menuruti semua yang di ucapkan Fano, ia tidak suka jika Fano menjadi manja nantinya, dan pada akhirnya Jerry harus mendengar tausiah panjang dari Jessica.
"Kenapa diam? sudah selesai?" Jerry sengaja menyulut emosi wanita yang ada di sampingnya.
Pukulan keras berhasil mendarat di lengan bergelombang milik Jerry, membuat si empu meringis karena menahan sakit.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Jerry berhasil menghentikan mobilnya di tempat parkir toys store untuk memenuhi keinginan putranya. Mereka masuk untuk mencari robot yang diinginkan oleh Fano.
Satu jam waktu yang cukup untuk Fano memilih robot keluaran terbaru. Jeje menghela nafasnya ketika melihat dua paper bag yang ada dalam genggamannya.
"Kita pulang, Jer!" titah Jessica sebelum membuka pintu mobil.
***
Jessica mengernyitkan keningnya ketika melihat sebuah mobil berwarna kuning terparkir di halaman rumahnya. Ia menerka kira-kira siapa tamu yang datang ke rumah ini.
"Tumben ada tamu di rumahmu, Je?" tanya Jerry sambil membuka sabuk pengamannya.
"Entahlah," jawab Jessica sambil membuka pintu mobil.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju teras rumah. Jeje terkesiap ketika melihat siapa yang sedang duduk di kursi yang terletak di sisi kanan terasnya. Ia tidak percaya jika sepasang suami istri itu berhasil mengetahui tempat tinggalnya selama ini.
"Untuk apa lagi kamu datang ke rumahku?" suara lantang Jessica berhasil membuat tamunya beranjak dari tempatnya.
"Caca ...."
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷