Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Anda harus bangun!


__ADS_3

"Bu Lidya ...."


Jessica mulai mendekat ke sisi ranjang, di mana ada seorang wanita paruh baya tak sadarkan diri. Jessica menarik kursi yang tak jauh dari ranjang lalu ia mendaratkan tubuhnya di sana.


Berkali-kali Jessica menghela nafasnya, tatapan matanya tak beralih dari Bu Lidya. Dalam hatinya yang paling dalam ada sebuah rasa kasihan ketika melihat kondisi Bu Lidya saat ini.


"Bu Lidya ... apa anda tidak ingin bangun untuk menyapa saya?" ucap Jessica di dekat telinga Bu Lidya.


Tangan Jessica meraih tangan dingin bu Lidya, di usapnya dengan lembut tangan dengan guratan otot di atasnya. Jessica sepertinya mencari cara agar Bu Lidya bisa membuka matanya.


"Bu Lidya, anda harus bangun walau hanya sebentar saja! bukan kah anda ingin bertemu saya hmm?" ucap Jessica dengan suara yang lirih.


Tidak ada pergerakan apapun dari Bu Lidya, kelopak mata wanita paruh baya itu masih tertutup rapat, bibirnya bawahnya sedikit terbuka hingga suara dengkuran halus terdengar di sana.


"Saya minta maaf jika beberapa waktu ini telah bersikap buruk kepada anda!" kali ini Jessica berdiri dari tempat duduknya, ia sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa berbisik di telinga Bu Lidya.


Hati nurani Jessica tiba-tiba merasakan duka yang sama seperti dulu, saat Mama nya berada di akhir hidupnya. Bulir air mata menetes begitu saja tanpa komando dari sang empu. Entah mengapa Jessica merasa jika hidup Bu Lidya tidak akan lama lagi.


Bella tergugu di tempat nya, ia sedih melihat kondisi Bu Lidya saat ini. Selama tiga minggu ini segala upaya sudah dilakukan oleh tim medis, nyata nya semua itu nihil.


Sejak pulang dari kediaman Jerry, kondisi Bu Lidya langsung drop. Beliau belum bisa menerima kenyataan jika Jessica masih murka dan tidak mau menerima rumah yang Bu Lidya kembalikan. Tertekan, itu lah salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi bu Lidya.


Bella mendekat di tempatnya, berada di sisi ranjang bersebrangan dengan Jessica. Ia menangis di sisi kepala Bu Lidya, "Mama ... Mama harus bangun, Ma! bukankah Mama ingin sekali bicara kepada Jessica? ayo ma bangun!" rengek Bella di sela-sela tangisnya.


Jessica terenyuh mendengar ratapan pilu Bella, ia bisa merasakan bagaimana rasanya ada di posisi Bella saat ini. Dalam hati yang paling dalam, Jessica pun tak tega melihat semua yang terjadi di ruangan ini.


Klak ....


Suara handle pintu yang di tarik terdengar di ruangan Bu Lidya, sejenak Jessica mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa yang datang. Kedua manik hitam Jessica tak sengaja bersirobok dengan manik hitam pria yang baru saja masuk bersama anak kecil, Pria itu tak lain adalah Ezar.

__ADS_1


"Astaga," gumam Jessica dalam hati ketika menyadari Jerry mengawasi pergerakan matanya. Jessica bisa menangkap tatapan kecemburuan di sana.


Jessica kembali fokus kepada Bu Lidya, ia membungkukkan tubuhnya di sisi Bu Lidya. Tanpa di komando tiba-tiba tangannya terulur di kepala Bu Lidya, telapak tangan itu tiba-tiba mengusap rambut Bu Lidya dengan penuh kelembutan.


"Bu Lidya, tolong buka kelopak mata anda! saya ingin mengucapkan sesuatu yang anda tunggu selama ini," ucap Jessica dengan suara yang lirih tepat di telinga Bu Lidya.


Tanpa di duga, kelopak mata yang beberapa hari ini tertutup, tiba-tiba terbuka lebar. Hal itu membuat semua orang yang ada di dalam ruangan terkejut bukan main.


"Mama!!" teriak Bella, air matanya seketika turun dengan derasnya.


Bu Lidya hanya bisa mengedipkan matanya, sesekali beliau bisa menggerakkan manik hitamnya walau cuma sebentar. Setetes air mata turun begitu saja dari pelupuk matanya ketika manik hitam itu menangkap sosok wanita yang selama ini ingin di temuinya.


"Bu Lidya bisa mendengar suara saya?" tanya Jessica dengan suara yang lembut.


Kelopak mata Bu Lidya berkedip dua kali untuk menjawab pertanyaan Jessica.


Melihat pergerakan sang mama, senyum Bella mengembang begitu saja. Ia meraih tombol Nurse call yang ada di atas bed Bu Lidya agar dokter ataupun perawat datang memeriksa kondisi Bu Lidya.


"Sebelumnya saya akan mengucapkan terima kasih kepada anda, karena berkat perbuatan anda dan putri anda, saya bisa menemukan kebahagiaan yang saya rasakan saat ini."


"Apakah anda pernah tau apa yang saya alami dulu ketika hamil dan melahirkan tanpa seorang suami? itu sangatlah menyakitkan Bu, saya hampir gila karena semua itu." Jessica menghela nafasnya dalam, entah mengapa tiba-tiba ia ingin membahas masa lalu di hadapan Bu Lidya.


"Bu Lidya, saya tidak mau menerima barang apapun dari anda. Jika memang anda tidak menginginkan lagi rumah peninggalan orang tua saya, silahkan saja di jual atau di berikan kepada orang lain karena saya tidak butuh semua itu--" Jessica menghentikan ucapannya karena ada perawat dan dokter yang masuk ke dalam ruangan.


"Dokter, tolong beri saya waktu dua menit lagi ya," ucap Jessica setelah menegakkan tubuhnya seraya menatap dokter yang berdiri di depan bed.


Setelah mendapat persetujuan dari dokter, Jessica akhirnya kembali membungkukkan tubuhnya untuk menatap Bu Lidya.


"Mungkin saya seorang wanita jahat karena sulit menerima permintaan maaf yang tulus dari anda,. tapi mau bagaimana lagi, memang saya masih merasakan sakit, Bu." Jessica bisa melihat pancaran kesedihan dari sorot mata Bu Lidya.

__ADS_1


"Tapi ibu jangan khawatir, karena hidayah dari Tuhan yang berhasil meluluhkan hati keras saya--" Jessica menjeda ucapannya sambil menatap Bu Lidya dengan tajam.


"Mulai detik ini saya memaafkan semua kesalahan Bu Lidya, saya membebaskan Bu Lidya dari kesalahan Bu Lidya di masa lalu. Saya juga minta maaf karena sudah membuat ibu menjadi tertekan," ucap Jessica sambil menggenggam tangan Bu Lidya.


Air mata Bu Lidya turun dengan derasnya ketika mendengar kalimat panjang yang terucap dari bibir Jessica. Beliau hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali, entah apa yang ingin di sampaikannya.


"Silahkan di periksa dok, saya permisi dulu," ucap Jessica sebelum keluar dari ruangan ini. Tanpa pamit kepada Bella, Jessica menarik tangan Jerry agar suaminya itu ikut keluar.


Sepasang suami istri itu akhirnya berjalan menuju pintu keluar lobby ruangan VVIP, Jerry menggenggam tangan Jessica selama berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Setelah sepasang suami-istri itu berlalu pergi, ada pasangan suami istri lain yang keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka tak lain adalah Siva dan Fery.


"Akhirnya kita keluar juga dari ruangan ini, Mas!" ucap Siva sambil menatap ruangan kosong yang ada di dekat ruang perawat.


Mereka berdua sengaja bersembunyi agar tidak bertemu dengan Jessica, sesuai dengan permintaan Jerry tadi siang saat di temui Ezar dan Bella.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Wah ada yang penasaran ada apa sebelumnya? tunggu di eps selanjutnya yakkk.


Happy Weekend kakak🌹


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2