Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Luka lama,


__ADS_3

"Aku jatuhkan talak tiga untukmu! mulai detik ini kamu bukan lagi istriku!"


"Sudah tidak ada tempat lagi di hidupku untuk wanita mandul sepertimu!"


Atmosfer udara yang terasa di ruang VIP resto ini terasa menyesakkan. Dua kalimat keramat yang tersimpan dalam memori lama Jessica kini harus kembali terputar tatkala Jessica menatap wajah seorang pria yang pernah hadir dalam hidupnya.


"Kalian tidak salah masuk ruangan?" tanya Jessica kepada dua orang yang masih berdiri di ambang pintu.


"Tidak, kami memang akan bertemu seseorang di ruangan ini," jawab wanita berambut sebahu itu.


"Jadi ... kamu yang kemarin menghubungiku?" Jeje menyakinkan dua orang di hadapannya.


Jessica tersenyum sinis ketika tak mendapati jawaban dari wanita yang sangat di bencinya selama ini. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang ada di atas meja, kakinya seakan lemas mendapati kenyataan yang sulit di percaya ini.


"Takdir macam apa ini?" gumam Jeje dalam hatinya. Ia kembali duduk di kursinya dengan segenap kerapuhan yang mulai menjalar dalam diri karena sebuah kenangan pahit.


Sepasang suami istri itu adalah Fery Sasongko dan Siva Aruna. Dua nama yang tidak pernah Jessica lupakan dalam hidupnya. Fery adalah mantan suami Jessica. Pernikahan mereka hanya bertahan selama dua tahun.


Sungguh, Jessica rasanya ingin segera pergi dari ruangan penuh luka ini. Ia tak sanggup untuk menatap dua orang yang kini duduk di hadapannya. Kenangan pahit itu mulai berkeliaran dalam pikirannya.


"Jadi, yang menghancurkan rumah tangga adik iparku adalah kamu, Ca?" Fery akhirnya membuka suara dengan pandangan mata yang tak beralih dari wajah wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu.


Caca, begitulah Jessica di panggil dulu. Fery memberikan panggilan sayang itu untuk Jessica ketika mereka masih berpacaran. Saat itu Jessica memutuskan menikah di usia yang masih muda, ia belum lulus kuliah saat Fery melamarnya. Cinta berhasil mengalahkan segalanya, membuat pikiran tak lagi jernih ketika sang kekasih datang melamarnya. Jessica harus membagi waktu sebagai istri dan mahasiswa karena ia masih berada di semester tujuh ketika Fery menikahinya.


Siva mencengkram ujung dress yang ia pakai saat ini. Kedua manik hitamnya tak beralih dari wajah Jessica, rasanya ingin sekali ia menarik rambut wanita yang berhasil membuat perasaan adik kesayangannya hancur.


Ya, seseorang yang kemarin di temui bella di Bintaro adalah Siva, kakak kandungnya. Bella mengadu kepada kakaknya karena sudah tidak kuat lagi menahan beban berat dalam hatinya. Ia menangis di hadapan Siva dan Fery malam itu, membuat Siva menjadi geram. Karena rasa sayang yang begitu besar kepada Bella, akhirnya Siva memutuskan untuk ikut andil dalam kerumitan yang terjadi dan kini semuanya terjawab sudah.

__ADS_1


"Jadi, kamu ingin balas dendam dengan menghancurkan rumah tangga adikku?" tanya Siva dengan wajah yang memerah karena menahan sebuah amarah yang begitu besar.


Jeje tersadar dari lamunannya setelah mendengar pertanyaan Siva. Ia mencoba menguasai dirinya kembali, mencoba bersikap tenang di hadapan wanita yang pernah menggores hatinya.


"Balas dendam?" Jeje memastikan apa yang baru saja di dengarnya.


"Kamu salah sasaran jika ingin balas dendam! Adikku tidak tau apa-apa tentang semua kejadian di masa lalu!" ucap Siva dengan suara yang mulai naik.


Jeje mengangkat satu sudut bibirnya, sebuah senyum mengejek tampak jelas di wajah cantiknya, "aku tidak pernah tau jika Ezar adalah adik iparmu, dan untuk masalah balas dendam ...." jeje menjeda ucapannya, lalu ia lebih mendekatkan tubuhnya di hadapan Siva.


"Aku tidak pernah punya niat untuk balas dendam kepadamu, mungkin semua ini adalah balasan dari Sang Kuasa atas semua perbuatanmu di masalalu," ucap Jeje dengan nada penuh penekanan.


Siva terhenyak dari tempatnya, ia seakan ingin meremas bibir milik Jessica yang sudah lancang mengatakan semua itu. Namun, Fery memberikan kode agar Siva kembali menguasai dirinya.


"Kenapa? kamu marah? atau mau menamparku?" cecar Jessica dengan wajah yang menyeringai. Ekspresi wajahnya semakin di buat-buat demi memancing kemarahan Siva.


Perdebatan pun terjadi di atara dua wanita itu, Fery hanya diam menyaksikan istrinya yang sedang berseteru dengan Sang mantan istri. Ia benar-benar tidak menyangka jika Caca yang ia kenal dulu bisa berubah seratus delapan puluh derajat seperti saat ini, Tak ada lagi jiwa Caca yang lembut seperti dulu.


"Ca, tolong jangan seperti ini. Lepaskan Ezar, biarkan dia kembali bersama istri dan anaknya," sebuah permohonan yang keluar dari bibir Fery untuk mengakhiri semua masalah yang terjadi.


Jessica semakin melebarkan matanya, tangannya terkepal karena merasakan emosi yang semakin berkobar dalam hatinya. Tatapan penuh kebencian tersorot dari mata indahnya.


"Jangan harap aku melepaskan Ezar! buang jauh-jauh harapanmu itu, karena setelah Alana sembuh, kami akan segera menikah!" ucap Jeje penuh penekanan.


Jeje berdiri dari tempat duduknya, ia meraih tak 'kremes' miliknya sebelum pergi dari hadapan dua orang yang pernah menggores luka dalam hatinya.


Tangis Jessica pun akhirnya pecah tatkala ia masuk ke dalam mobilnya, ia tergugu disana karena merasakan rasa pedih kembali menyerang jiwanya.

__ADS_1


Kepadatan lalu lintas seakan tak membuat gentar Jessica, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju perusahaan Jerry. Ya, kali ini hanya Jerry yang bisa menenangkan hatinya.


Tiga puluh menit kemudian, Jeje akhirnya sampai tempat parkir khusus untuknya. Ia segera mengayun langkah menuju lantai teratas gedung raksasa ini untuk menemui Jerry.


Langkah Jessica semakin cepat, ia mengabaikan setiap orang yang menyapanya, membuat semua orang bertanya-tanya dengan apa yang terjadi kepada Jessica. Mereka menatap heran wajah cantik Jessica yang basah karena air mata.


Lift akhirnya terbuka setelah sampai di gedung paling atas. Jeje mempercepat langkahnya dengan derai air mata yang sulit untuk di hentikan.


Tanpa mengetuk pintu, Jessica menerobos masuk ke dalam ruangan Jerry, membuat sang empu terkejut bukan main, apalagi ketika Jeje menghambur begitu saja pada tubuh tegapnya.


"Ada apa, Je? katakan!" cecar Jerry yang kini membalas pelukan Jessica.


"Fery ...." hanya itu yang bisa Jessica ucapkan di sela-sela tangisnya.


Jerry melebarkan matanya ketika mendengar nama itu, ia menerka apa yang sebenarnya terjadi. "Jelaskan padaku! kenapa Fery? apa kamu bertemu dengannya?" Jerry mengusap rambut hitam itu untuk menenangkan Jessica yang sedang terguncang.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ๐Ÿ˜โ™ฅ๏ธ


Terima kasih untuk yang sudah memberikan mawar, kopi, vote ataupun koin kepada othor. Apresiasi dari kalian semakin menambah semangat othor agar bisa memberikan yang lebih baik lagi.


Ada yang bisa nebak bagaimana masa lalu Jessica? Tulis di kolom komentar yah Zheyenk๐Ÿ˜‚


_

__ADS_1


_


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


__ADS_2