
"Bukan salahku jika suamimu nyaman di pelukanku, kamu terlalu asyik dengan dunia mu hingga kau tidak tau suamimu mencari kenyamanan di luar rumah."
"Kau adalah wanita sombong, Nona! apa perlu aku ingatkan kepadamu tentang apa yang kau ucapkan di salah satu Salon kecantikan waktu itu."
"Kau adalah wanita ter bo-do-h di dunia ini karena membiarkan pria baik seperti suami mu harus terjerat cinta wanita lain."
"Sekarang berusahalah memperbaiki hubungan dengan suamimu, atau kau akan menyesal jika dia benar-benar menjadi milikku."
Semua kalimat yang terlontar dari bibir Jessica terus terngiang dalam jiwa wanita yang sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ini, air matanya tak dapat di bendung lagi, tangisnya pun pecah di balik kemudi.
Bella benar-benar kacau pagi ini, ia tidak pernah menyangka akan mendapat kejutan yang sangat spesial dari suaminya, hatinya hancur ketika melihat langsung bagaimana suaminya mencurahkan kasih sayangnya kepada wanita lain, apalagi wanita itu dengan berani telah melawannya.
Bulir air mata terus turun tanpa bisa di hentikan, kecewa, sedih, marah, semua rasa itu berbaur menjadi satu dalam jiwa yang rapuh ini. Bella menghentikan mobilnya di depan sebuah taman kota, ia menumpahkan segala kerisauan hatinya disana.
"Aaakkhh ...." teriak Bella sambil memukul setir mobilnya. Tangisan yang menyayat hati pun semakin menggema di dalam mobil.
Bella menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya di benda bulat yang ada di hadapannya, ia terus mengeluarkan kata-kata kotornya untuk suami dan WIL-nya.
Lima belas menit telah berlalu begitu saja, tangis Bella mulai mereda. Ia mengangkat kepalanya dan menyandarkan di kursi kemudi. Pikirannya berkelana menembus kejadian yang telah berlalu, dimana saat ia berada di Salon bersama teman-temannya.
Satu persatu perbuatannya di masa lalu perlahan terputar dalam memori otaknya, semua perlakuannya terhadap Ezar dan bagaimana ia sering mentang-mentang kepada suaminya itu, membuat Bella semakin menangis penuh sesal.
Setelah puas menumpahkan kerisauan hatinya, Bella kembali melajukan mobilnya agar segera sampai di rumah. Ia harus menyelesaikan semua masalah ini bersama Ezar.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Bella sampai di halaman luas rumahnya, ia melihat mobil Ezar masih terparkir disana, buru-buru Bella melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan suaminya.
"Dimana suami saya?" tanya Bella ketika berpapasan dengan salah satu Asisten rumah tangganya.
"Tuan ada di ruang kerja, Nyonya,"
Bella segera menyusuri satu persatu anak tangga yang terhubung ke lantai dua, dimana ruang kerja Ezar berada. Bella menarik nafasnya dalam sebelum masuk ke dalam ruangan yang selalu tertutup itu.
__ADS_1
Brak ....
Ezar mengalihkan pandangannya tatkala mendengar pintu ruang kerjanya tertutup dengan kerasnya. Ia mengernyitkan keningnya tatkala melihat wajah sembab dengan sorot mata yang mengisyaratkan sebuah amarah. Ezar pun menutup laptopnya.
"Ada apa?" tanya Ezar dengan wajah datarnya. Ia menatap sang istri yang sedang termangu di depan meja kerjanya.
Rasa penasaran mulai menelusup ke dalam hati Ezar tatkala melihat Bella terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di tebak. Ezar berdiri dari tempat duduknya, meraih jas kerja yang tersampir di kursinya, bersiap untuk segera berangkat ke kantor.
"Sejak kapan kamu berhubungan dengan Wanita itu?" sebuah pertanyaan yang berhasil menghentikan langkah Ezar tepat di belakang Bella.
Ezar memalingkan kepalnya sejenak untuk menatap tubuh Bella yang masih membelakanginya, degup jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
"Apa maksudmu?" tanya Ezar dengan posisi tubuh yang membelakangi Bella.
Seketika Bella membalikkan tubuhnya untuk menghadap Ezar. Ia tidak menyangka Ezar akan bertanya seperti itu, "Sejak kapan kamu tidur dengan wanita yang tinggal di Apartemen xxx lantai lima belas?" Bella memperjelas pertanyaannya.
Deg. Ingatan Ezar langsung tertuju pada sosok wanita yang tadi malam menemaninya tidur, berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.
Bella menghampiri Ezar yang masih termangu di tempatnya. Ia berdiri tepat di hadapan suaminya dengan sejuta rasa kecewa karena ke bungkamannya.
"Katakan padaku! sejak kapan kamu memiliki simpanan?" tanya Bella dengan suara yang lebih keras.
Karena tak mendapat jawaban, Bella pun mengguncang tubuh yang menjulang tinggi di hadapannya, seketika tangisnya pun pecah.
"Aku lupa kapan pertama kali aku mengenal dia, yang pasti aku sudah lama mendapat perhatian darinya," ucap Ezar yang berhasil membuat Bella melebarkan matanya.
"Jadi ... kamu benar-benar selingkuh dengannya?" Bella ingin mendengar langsung jawaban dari bibir suaminya itu,
"Menurutmu?" Ezar melontarkan sebuah pertanyaan itu dengan raut wajah tenangnya.
Tangis Bella pun pecah seketika, melihat suaminya yang biasa saja. Ia pun mencaci Ezar dengan kata-kata kotor yang tersimpan dalam hatinya, ia meluapkan semua amarahnya. Kejadian beberapa saat yang lalu ia ceritakan kepada Ezar, apa saja yang di lakukannya kepada Jeje pun telah di katakan Bella.
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu sudah mengetahui semuanya, dengan begitu aku tidak perlu lagi bersembunyi di belakangmu," ucap Ezar dengan santainya.
Plak! satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi milik Ezar. Membuat sang Pemilik semakin melebarkan matanya kepada wanita yang ada di hadapannya.
"Kau berani menamparku, Bel?" tanya Ezar dengan wajah merah padamnya karena menahan amarah.
"Harusnya kau menerima lebih dari sebuah tamparan karena sudah berani bermain api dengan wanita lain! harusnya kamu sadar dan minta maaf atas semua kesalahanmu, Ezar!" hardik Bella dengan segenap emosi yang semakin berkobar dalam dirinya.
Ezar semakin melebarkan matanya setelah mendengar semua ucapan yang terlontar dari bibir istrinya. Ia pun berkacak pinggang di hadapan Bella dan mengatur nafasnya sebelum bicara.
"Aku tahu jika yang aku lakukan dengan wanita itu adalah kesalahan besar! tapi pernahkah kamu berpikir jika kamu ikut andil dalam hal ini, Bel? harusnya kamu intropeksi diri kenapa semua ini bisa terjadi!" ucap Ezar dengan suara tegasnya.
"Ketika sebuah rumah tangga di rusak oleh orang ketiga, maka tidak ada yang benar di dalamnya! kamu, aku dan wanita itu sama-sama salah! jangan memposisikan dirimu seolah-olah kau adalah korban dan yang paling tersakiti disini! Merenunglah! agar kamu tahu dimana kesalahanmu!" ujar Ezar sebelum berlalu pergi meninggalkan Bella yang masih termangu.
"Pergi kamu dari rumah ini! pergi!! aku benci kamu! penghianat!" teriak Bella yang berhasil menghentikan langkah Ezar tepat di depan pintu.
Ezar menghela nafasnya, sejenak ia menatap wanita yang sedang berdiri menghadapnya, wanita yang sedang di kuasai emosi karena hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga yang di bangunnya selama ini.
"Baiklah, jika itu maumu!" ucap Ezar sebelum keluar dari ruang kerjanya yang di penuhi air mata sang istri.
_
_
Terima kasih sudah membaca dan memberi dukungan karya ini, semoga suka ♥️😍
Hadoh hadoh!! apa yang kalian lakukan jika berada di posisi Bella saat ini?
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷