
Kehidupan damai di pulau Karakelang telah di rasakan Fery dan Siva. Selama lima tahun ini mereka menjalani hidup yang sangat berbeda, berbekal uang pesangon dengan jumlah fantastis yang di berikan Jerry saat itu, ia bisa membeli kebun cengkeh di sana.
Hasil dari kebun cengkeh memang tidak sebesar hasil perusahaannya dulu, tapi semua itu berhasil merubah sikap dan kepribadiannya. Kehidupan sosialita yang dulu pernah di jalani Siva dengan teman-temannya, kini berbanding terbalik dengan keadaannya saat ini. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama ketiga putrinya di rumah.
Sementara itu, rumah tangga Ezar dan Bella pun di selimuti rasa cinta dan bahagia. Semenjak kehadiran anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki, Ezar semakin mencurahkan perasaannya kepada Bella dan kedua anaknya. Keharmonisan rumah tangga kembali di rasakan Bella sama seperti dulu.
...🌹🌹🌹🌹...
Waktu terus berlalu, hari terus berganti hingga mengantarkan Jessica sampai di tanggal yang sudah di perkirakan dokter Maitri. Kandungan Jessica saat ini sudah berusia sembilan bulan lebih sepuluh hari. Operasi caesar pun di pilih Jerry demi keselamatan Jessica, ia tidak mau mengambil resiko yang tidak di inginkan.
Selama trimester pertama Jessica mengalami morning sickness seperti pada umumnya wanita hamil. Ia menghabiskan hari-hari nya di atas tempat tidur karena tubuhnya lemah, bahkan untuk makan saja ia harus menunggu Jerry yang menyuapi.
Pada umumnya wanita hamil akan mengalami ngidam dan hal itu juga di alami oleh Jessica. Pernah suatu hari ia ingin sarapan di Singapura, makan siang di Thailand dan makan malam di Jepang. Jerry benar-benar bingung saat itu, bagaimana bisa dalam satu hari akan menempuh perjalanan tiga negara sekaligus, ia khawatir dengan kondisi Jessica saat itu yang masih lemah, tidak mungkin mereka akan melakukan perjalanan melelahkan lintas negara, tapi pada akhirnya Jerry pun mengikuti keinginan istrinya itu.
Semua keluarga inti Wongso sangat bahagia ketika mendengar kabar kehamilan Jessica, begitu pun dengan Fano, ia sangat antusias ketika tahu ada calon adiknya yang tumbuh di perut buncit sang Mama. Setiap malam ia selalu mengusap perut buncit Jessica dengan penuh kasih sayang.
Pagi ini Jessica dan Jerry sudah siap berangkat ke rumah sakit. Perasaan Jessica menjadi tak karuan karena menanti buah hatinya yang akan lahir hari ini. Meskipun sebelumnya sudah pernah melahirkan, tapi rasa tegang tetap mendominasi dirinya.
"Sayang, jangan takut! kamu pasti bisa melewati perjuangan ini," Jerry meraih tangan Jessica, ia pun mengusap dengan lembut tangan itu untuk memberikan semangat kepada Jessica.
"Aku tegang, Sayang." Jessica menatap Jerry yang terlihat sangat tenang.
Jerry kembali menguatkan Jessica dengan rangkaian kata yang bisa membuatnya lebih semangat. Jerry terus memberikan support untuk istrinya itu agar tenang dan positif thinking meskipun ia sendiri sedang tegang dan ketar-ketir.
__ADS_1
Setelah tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di salah satu rumah sakit elit yang ada di Jakarta selatan, salah satu tempat praktek dokter Maitri. Rumah sakit besar yang di lengkapi peralatan lengkap ini telah di sarankan dokter Maitri kepada Jerry agar Jessica melahirkan di sini.
"Sayang, kamu masuk duluan, aku mau ambil tas yang di belakang," ucap Jerry setelah membukakan pintu untuk Jessica.
"Aku tunggu di Lobby, tolong belikan aku roti cokelat sekalian ya, Sayang," ucap Jessica sebelum berlalu pergi meninggalkan Jerry.
Jessica mengayun langkahnya agar segera sampai di Lobby Rumah sakit. Ia berjalan sambil mengamati desain rumah sakit ini yang lebih keren daripada rumah sakit lainnya. Ia mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri sampai tubuhnya bertabrakan dengan anak kecil yang sedang lari.
Brukk! anak kecil itu jatuh di depan Jessica. Ia diam sambil menengadahkan kepala untuk menatap Jessica. Anak kecil berjenis kelamin laki-laki itu hanya diam tanpa menangis.
Jessica membungkukkan tubuhnya dengan susah payah karena perut yang buncit, ia berusaha membantu anak kecil itu untuk berdiri, "ayo berdiri, Nak! tante bantu ya," Jessica mengulurkan tangannya.
"Ken!"
Tiba-tiba terdengar suara pria dan wanita yang tidak asing di indera pendengaran Jessica. Ia pun masih sibuk membungkukkan tubuhnya sambil membantu anak kecil itu berdiri.
"Maaf Kak, anak saya pasti yang salah ya," ucap seorang wanita yang baru saja tiba di hadapan Jessica. Suara wanita ini tidak asing di indera pendengaran Jessica, hal ini membuat ibu hamil itu segera menegakkan tubuhnya.
"Kamu!" seru Jessica ketika tatapannya bersirobok dengan wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Wanita itu tak lain adalah Bella.
Kedua wanita ini tak ada yang mengeluarkan suaranya, mereka saling menatap satu sama lain dengan sebuah rasa yang tidak bisa di ungkapkan.
"Mah ... sudah ketemu kan Kenzi?" ucap seorang pria yang baru saja tiba, pria itu tak lain adalah Ezar. Ia belum menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapan sang istri.
__ADS_1
"Je--Jeje!" ucap Ezar ketika mengalihkan pandangannya ke depan.
Ketiga orang dewasa ini hanya diam dengan sikap salah tingkah. Ezar mengamati wanita yang pernah singgah di hatinya itu, ada rasa aneh ketika melihat Jessica dengan perut besar seperti ini.
"Aku tidak pernah menyangka setelah beberapa tahun akan bertemu lagi denganmu, Je. Aku bahagia melihat mu saat ini, mungkin hidupmu sudah bahagia dengan Jerry. Aku turut bahagia karena akhirnya bisa melihatmu hamil besar seperti saat ini, meski hubungan kita dulu adalah hubungan yang salah, tapi aku tidak pernah menyesal karena pernah merasakan Jerat cinta mu, Je. Aku sangat berterima kasih karena kamu bisa menyadarkan aku dan Bella dari keegoisan masing-masing."
Bella mengamati tatapan sang suami dari samping. Ada sedikit rasa aneh yang hinggap dalam hatinya, tapi ia menepis semua perasaan itu karena ia percaya bahwa suaminya tidak mungkin lagi terjerat cinta Jessica lagi.
"Sayang!" terdengar suara seorang pria di belakang Jessica.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
Akan ada up satu bab lagi hari ini, tungguin ya beb😍
_
_
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1