Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Membabi buta!


__ADS_3

"Caca ...."


Sang pemilik nama itu pun hanya termangu sambil menatap dua orang tamu yang tiba-tiba datang. Jessica mengepalkan kedua tangannya ketika melihat kehadiran Fery dan Siva, ia sangat penasaran bagaimana bisa kedua orang ini mengetahui tempat tinggalnya, Ezar saja tak pernah tau dimana tempat tinggal Jessica.


"Mama ... siapa Uncle ini?" suara Fano berhasil membuyarkan lamunan Jessica.


"Fano, say Hello to Uncle Fery!" perintah Jessica sambil menatap Fano dengan perasaan tak karuan.


"Hello Uncle Fery, I am Fano ...." ucap Fano dengan senyum manisnya.


Jessica meremas sisi kanan dress nya ketika mendengar Fano menyapa Fery, hatinya berdesir ketika melihat pertemuan ayah dan anak kandung yang tak pernah di ketahui oleh sang ayah. Begitu pun dengan Fery, irama jantungnya mendadak tak beraturan ketika mendengar suara bocah lima tahun itu, apalagi ketika menatap sorot matanya, sungguh hal itu berhasil membuat perasaan Fery bercampur aduk.


"Jer, bawa Fano ke dalam, biarkan dia bermain bersama Lila di dalam," titah Jessica dengan tatapan penuh arti.


Tanpa banyak bertanya lagi, Jerry membawa Fano masuk, sesuai dengan perintah Jessica. Sepeninggalan Jerry, pandangan Jessica kembali fokus kepada dua orang yang masih berdiri di hadapannya.


"Kamu tidak mengajak kami masuk, Ca?" tanya Fery.


"Tidak! aku tidak mengizinkan kalian masuk ke dalam. Jadi, katakan ada apa kalian datang ke rumah ini?" tanya Jessica tanpa basa-basi.


Jessica semakin mencengkram dress nya ketika melihat ekspresi menyebalkan yang tergambar di wajah wanita yang ada di sebelah Fery, rasanya ingin sekali ia mencakar pipi berhiaskan blush-on itu.


"Kami datang ke rumah ini hanya untuk memastikan satu hal yang beberapa hari ini mengganggu pikiran kami," ucap Fery dengan kedua tangan yang di masukkan di dalam saku celana.


"Apa yang ingin kalian pastikan?" tanya Jerry yang baru saja menutup pintu rumah Jessica, kini Jerry berdiri di samping Jessica.


Fery menghela nafasnya dalam sebelum menyampaikan apa maksud kedatangannya. Sejenak ia menatap wajah cantik sang mantan istri yang dulu pernah di campakkannya, terbesit rasa bersalah dalam hatinya.


"Aku hanya ingin memastikan siapa ayah kandung dari anakmu tadi?" akhirnya pertanyaan ini lolos juga dari bibir Fery.


Fery menyampaikan semua berita yang di dengarnya dari Bella tentang kehidupan Jessica. Fery pun minta maaf atas semua perbuatannya di masalalu dan kali ini ia ingin bertanggung jawab jika Fano benar-benar darah dagingnya.


Deg. Jantung Jessica seakan berhenti berdetak setelah mendengar semua penjelasan dari Fery. Ia mendadak menjadi takut jika Fery membawa pergi Fano dari sisinya. Namun, ketakutan itu tiba-tiba sirna ketika Jessica merasakan genggaman erat di telapak tangannya.


"Untuk apa kalian memastikan ayah kandung putraku? kalian tidak berhak ikut campur masalah pribadiku!" Jessica mulai memasang ekspresi jahatnya saat ini, semua itu di lakukannya untuk melindungi diri agar tidak kalah dengan dua orang di hadapannya


"Jika memang putramu adalah anak kandung Mas Fery, biarkan kami membawanya, kami akan bertanggung jawab atas hidupnya. Mas Fery juga sudah lama menginginkan anak laki-laki, tapi kita belum bisa mendapatkannya," ucap Siva dengan pandangan yang tak beralih dari manik hitam Jessica.

__ADS_1


Gelak tawa Jessica seketika menggema di teras rumah itu, ia sedang menertawakan situasi yang saat ini sedang di hadapinya. Masalah apalagi yang ingin di ciptakan keluarga Aruna ini? batinnya.


"Apa? kalian akan membawa putraku?" tanya Jessica di iringi seringai jahat.


"Iya Ca, jika memang dia putraku, aku akan membesarkannya. Aku sangat menginginkan anak laki-laki Ca, aku mohon katakan yang sebenarnya," ucap Fery dengan raut wajah memohon.


"Aku janji kepadamu, aku akan menyayangi putramu sama dengan aku menyayangi putri-putri ku," sahut Siva. Demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya, ia rela mengatakan semua itu kepada Jessica.


"Dia bukan putramu!" ucap Jessica dengan rahang yang mengeras karena menahan emosi yang semakin lama semakin membakar hatinya.


"Dan untukmu!" Jessica mengalihkan pandangannya ke arah Siva, "Jangan mengusik hidupku lagi! Suamiku sudah kau rebut, rumah sudah kau ambil! lalu sekarang kau ingin mengambil putraku? jangan harap! lagian ya, apa kamu tidak bosan untuk mencampuri urusanku?" cerocos Jessica di hadapan Siva.


Siva rasanya ingin sekali menampar pipi Jessica yang telah berani berucap kasar kepadanya, ia masih mengira Jessica adalah sosok wanita yang lemah seperti dulu.


"Jika putramu bukanlah darah dagingku, lalu siapa ayah kandungnya, Ca?" Fery masih penasaran dengan identitas Fano yang sesungguhnya.


"Dia adalah anakku! aku ayah kandungnya!" ucap Jerry dengan penuh penekanan.


Fery menyatukan kedua alisnya, ia masih belum yakin dengan jawaban yang terucap dari bibir seorang Jerryan Wongso.


"Sudah jelas 'kan siapa ayah kandung putraku? silahkan pergi dari rumah ini!" ucap Jessica dengan jari telunjuk yang mengarah ke halaman rumahnya.


Amarah yang terpendam dalam hati Jessica selama ini seakan tersulut, peltikan api itu semakin membesar, membuatnya ingin memaki dua orang di hadapannya. Namun, tak lama kemudian ia kembali menguasai diri setelah menemukan kalimat pembalasan kepada Siva.


"Setidaknya kami sama-sama single. Aku tidak menyakiti siapapun meski harus berzi-na hingga membuahkan hasil seorang putra yang lucu! aku bukan wanita ambisius seperti dirimu, rela melakukan apapun demi harta!"


"Jika aku dulu ada di posisimu, aku lebih memilih hidup miskin dari pada harus merebut suami orang, karena hal menjijikkan itu hanya bisa dilakukan oleh wanita murahan sepertimu!" Jeje menekankan dua kata terakhirnya tepat di depan wajah Siva.


Plakk!


"Je ...."


"Ca ..."


Kedua pria itu berteriak ketika melihat Jessica menerima tamparan keras dari Siva. Dua pria itu semakin tegang ketika melihat iris putih milik Jessica berselimut warna merah, pertanda sebuah ledakan emosi akan terjadi sebentar lagi.


"Bia-dab!! kamu sudah berani menyentuhku!" Jessica mengeraskan rahangnya sambil menatap Siva dengan tatapan membunuhnya.

__ADS_1


Persekian detik kemudian, tanpa di duga oleh kedua pria disana, Jessica menyerang tubuh Siva. Jessica mendorong Siva ke pilar rumahnya, ia menghimpit tubuh wanita yang telah berani menamparnya.


"Lepaskan aku!" teriak Siva ketika Jessica menarik rambutnya dengan kekuatan penuh, beberapa helai rambut berwarna coklat itu pun rontok di tangan Jessica.


"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu, Ja-lang! sudah lama aku menantikan saat ini, dan kamu membuka jalan untuk rasa sakitmu! kamu sudah berani menyentuhku terlebih dahulu, jadi rasakan pembalasanku!" ucap Jessica sebelum membalikkan tubuh Siva untuk menghadap ke pilar kokoh di hadapannya.


Teriakan kesakitan Siva menggema di teras rumah itu ketika Jessica menarik rambutnya dan tanpa di duga ia tega membenturkan kening mulus Siva ke pilar yang ada di hadapannya.


Fery tercengang melihat keganasan Jessica saat ini, bukannya menolong sang istri, ia malah diam sambil menyaksikan adegan yang ada di hadapannya.


"Jerry!" teriak Jessica sambil mengangkat satu kakinya, sebuah kode untuk Jerry agar dirinya membantu melepas high heel yang di pakai Jessica, dan tanpa banyak bicara Jerry melakukan hal itu.


Siva tak bisa melawan Jessica yang sudah membabi buta, ia semakin melebarkan matanya ketika Jessica kembali membalikkan tubuhnya. Ia menatap tangan kanan Jessica yang sudah terangkat dengan high heels di genggamannya.


"AMPUN!!!" teriak Siva ketika high heels itu mendarat di pipinya dengan keras hingga membuat ujung bibirnya robek dan berdarah.


"Bro! kalau kau tak menghentikan Jeje saat ini, bisa di pastikan wajah istrimu akan hancur saat ini juga. Karena amarah yang sudah lama terpendam akan berakhir mengerikan jika tak segera di redam, selamatkan istrimu!" Jerry menepuk pundak Fery yang masih termangu di tempatnya.


"Cukup Je!!" Jerry menarik tubuh Jessica yang masih membabi buta. Ia menjauhkan tubuh Jessica dari mangsa yang selama ini sangat di inginkannya.


"Lepaskan aku Jerry!!! aku belum puas menghajar Ja-lang ini!!" Jessica masih memberontak dari pelukan Jerry.


"Fer, segeralah Pergi! ingat!! jangan sampai semua ini sampai di bawa ke jalur hukum atau kamu akan menyesal setelahnya!" ucap Jerry dengan nada penuh penekanan.


Fery segera meraih tubuh sang istri yang sangat kacau itu, luka lebam pun hampir rata di wajah cantik itu. Fery tak bisa berpikir apapun saat ini, yang ada ia harus segera membawa Siva ke Rumah sakit.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️ 😍


Uhh othor ikutan lelah membayangkan adegan ini, terlalu ekstrem gak sih?


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2