Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Pulang dari luar kota,


__ADS_3

Guyuran air yang keluar dari shower berhasil membasahi sekujur tubuh Jessica. Ia sedang memejamkan mata sambil menikmati derasnya air shower yang menyegarkan di cuaca panas seperti ini.


Bayangan dua pria yang ia temui di makam tadi tengah menari-nari dalam pikirannya. Jessica lebih fokus memikirkan Fery yang semakin aneh dengan tatapan mata penuh na-f-su.


"Kenapa Fery jadi seperti itu? hiih!" Jessica bergidik ngeri membayangkan sikap yang tadi pagi di tunjukkan oleh Fery.


Sekelebat bayangan wajah Jerry yang murka tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, hal itu membuat Jessica segera menghentikan guyuran air shower yang mengalir deras.


"Haruskah aku menceritakan kejadian tadi pagi kepada Jerry? bagaimana nanti kalau dia marah besar kepadaku?" Jessica bermonolog sambil bersandar di dinding kamar mandi.


Ada rasa takut di hati Jessica, ia bingung harus bagaimana. Jujur atau berbohong, keduanya sama-sama menyulut emosi suaminya.


"Ah sudahlah, lebih baik aku pikirkan nanti kalau Jerry sudah pulang," gumam Jessica seraya memakai bathrobe putih nya.


Jessica terus bergidik ngeri setelah beberapa kali mengingat wajah mantan suaminya. Ia bisa melihat jika tatapan Fery penuh dengan bi-rahi, seperti yang pernah ia lihat dulu.


"Dasar laki aneh! ih nyesel banget pernah nikah sama itu laki!" gerutu Jessica sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


...🌹🌹🌹...


Dua hari pasca meninggalnya Bu Lidya telah berlalu begitu saja. Bulan telah hadir dengan sinarnya yang indah, menggantikan mentari yang berada di tempat lain. Sebuah mobil hitam masuk ke halaman luas rumah bergaya America itu, seorang pria bertubuh tinggi keluar dari mobil hitam itu dengan tergesah-gesah.


Pria itu tak lain adalah Jerry, tanpa mengetuk pintu ia masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Suara gelak tawa istri dan anaknya pun mulai terdengar di indera pendengarannya.


"Assalamualaikum," ucap Jerry ketika sampai di ambang pintu ruang keluarga.


"Waalaikumsalam ...." ucap semua orang yang ada di ruang keluarga.


"Papa!!" teriak Fano.


Fano segera bangkit dari tempatnya bermain setelah melihat kehadiran Jerry di rumah ini, ia berlari ke arah Jerry dan menghambur begitu saja di tubuh yang terlihat kelelahan itu.


"Papa ... Fano kangen sama Papa," ucap Fano yang sedang berada di atas gendongan Jerry, ia menatap wajah Jerry cukup lama, seperti di tinggalkan beberapa tahun saja.

__ADS_1


Jessica tersenyum melihat kedekatan Fano dan Jerry. Ia bisa melihat jika Jerry mencintai Fano dengan tulus, tidak ada istilah ayah sambung atau apapun itu.


"Nak, turun dulu ya! Papa kan baru sampai, Papa pasti capek," ucap Jessica seraya menghampiri kedua pria tampannya yang ada di dekat tangga.


Jerry menghujani puncak kepala Fano dengan kecupan sebelum bocah kecil itu turun dari gendongannya. Setelah bercengkrama dengan Bu Monik dan yang lainnya, Jerry segera berlalu menuju kamarnya di ikuti Jessica di belakangnya.


Suara gemericik air pun mulai terdengar di kamar mandi, Jessica masuk ke dalam walk in closet untuk menyiapkan pakaian santai untuk suaminya.


Beberapa menit kemudian, Jerry sudah rapi dengan kaos putih tanpa lengan yang di padukan dengan boxer berwarna hitam. Ia menghampiri Jessica yang sedang menunggunya di sofa.


"Sayang, aku rindu ...." ucap Jessica ketika Jerry duduk di sampingnya, ia pun masuk ke dalam rengkuhan hangat Jerry.


"Aku lebih merindukanmu," ujar Jerry dengan wajah yang datar.


Jessica mengurai tubuhnya ketika mendengar suara dingin sang suami. Ia menyatukan kedua alisnya karena heran melihat sikap Jerry saat ini.


"Apa ada masalah serius di Kalimantan?" Jessica mencoba menerka apa yang sedang di pikirkan suaminya karena sebelumnya Jerry tidak pernah bersikap seperti ini meski ada masalah serius yang sedang di hadapinya.


Suasana kamar itu tiba-tiba menjadi hening, tidak ada lagi obrolan di antara suami istri itu. Tatapan mata Jerry lurus ke depan, tidak sedikitpun ia menatap wajah yang sejak tadi mengamatinya.


"Apa saja yang terjadi selama aku tidak ada di Rumah?" tanya Jerry setelah beberapa menit membisu.


"Semuanya berjalan seperti biasanya, Sayang." ucap Jessica seraya menegakkan tubuhnya. Duduk sejajar dengan sang suami.


"Lalu, bagaimana dengan pemakaman Bu Lidya?" tanya Jerry sambil menatap Jessica.


Akhirnya, pertanyaan ini lolos juga dari indera pengecap Jerry, hal ini membuat Jessica menjadi bingung. Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana.


"Emm ... semuanya berjalan lancar, aku langsung pulang setelah selesai mengantar Bu Lidya sampai di peristirahatan terakhirnya," akhirnya Jessica memutuskan untuk menutupi masalah yang sempat ia hadapi.


Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia takut menatap mata Jerry yang terlihat tak bersahabat. Dalam hatinya ia berdoa agar suaminya itu tak curiga dengan jawabannya.


"Apa tidak ada hal seru yang ingin kamu ceritakan kepadaku?" Jerry semakin menajamkan tatapan matanya hingga membuat Jessica merasa tak nyaman.

__ADS_1


Irama jantung Jessica semakin tak beraturan, ia merasa terjebak dengan pertanyaan yang baru saja di dengarnya. Oh, sungguh Jessica rasanya ingin kabur dari sofa merah ini.


"Tidak ada, Sayang. Tidak ada yang seru tanpa ada kamu di sisiku." sebuah jawaban konyol yang keluar dari bibir Jessica.


Jerry menghembuskan nafasnya berat, ia beranjak begitu saja dari sisi Jessica. Berjalan menuju ranjang dan menghempaskan diri disana. Melihat pemandangan itu, membuat Jessica semakin bingung. Ia seperti di suguhkan dengan teka-teki yang sulit, menerka apa yang sebenarnya di inginkan suaminya.


Jessica memutuskan untuk mengikuti Jerry, membaringkan tubuhnya di sisi kanan Jerry dengan tangan yang mulai meraba lengan bergelombang sang suami.


"Aku kangen, Sayang," ucap Jessica dengan suara yang terdengar manja.


Jerry hanya sekilas menatap wajah yang mulai terlihat menggoda itu, perlahan ia menurunkan tangan Jessica dari tubuhnya. Beberapa detik kemudian, ia mengubah posisinya dengan membelakangi tubuh Jessica.


"Aku lelah, aku ingin tidur!" ucap Jerry masih dengan nada datar.


Melihat hal itu, membuat Jessica semakin bingung lalu ia duduk bersandar di headboard ranjang sambil menatap suaminya. Pikirannya mulai berkelana entah ke mana, yang pasti ia sedang mencari jawaban atas sikap Jerry yang aneh.


"Astaga, mungkinkah ...." gumam Jessica dalam hatinya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Maap ya upnya telat, semalam hujan+listrik padam di rumah othor, alhasil ketiduran gegara tidur di pelukan Jerry🤣eh salah ... suamii maksudnya😝


__


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2