Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Kejutan yang gagal,


__ADS_3

Semburat rona jingga terlukis di cakrawala barat dengan begitu indahnya. Suara burung saling bersahutan sama lain menambah irama yang menelusup di indera pendengaran seorang pria yang sedang menampilkan senyum sumringahnya.


Mobil sport berwarna hitam milik Ezar telah tiba di halaman luas rumahnya. Setelah melewati siang yang panas bersama Jessica, bunga-bunga cinta semakin tumbuh di hati nya untuk wanita yang mengerang nikmat di bawah tubuhnya beberapa waktu yang lalu.


Wajah berseri, senyum yang merekah telah menghiasi wajah tampan Ezar, ia berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan paper bag yang ada di genggaman kedua tangannya.


"Alana ... Papa pulang!" teriak Ezar setelah sampai di ruang keluarga.


Ezar mengedarkan pandangan untuk mencari anak dan istrinya, ia pun menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua, dimana kamar Alana berada.


"Bella ... kamu dimana Bel?" teriak Ezar setelah masuk ke dalam kamar untuk mencari istrinya.


Kamar pribadinya pun tak berpenghuni, lalu Ezar memutuskan untuk masuk ke kamar Alana dan baru saja sampai di depan pintu, ia dikejutkan dengan suara pengasuh putrinya yang baru saja membuka pintu.


"Tuan!" ekspresi terkejut tergambar jelas di wajah wanita tiga puluh lima tahun ini. Sebuah keresahan tergambar disana.


"Kemana Alana?" tanya Ezar.


"Tidur Tuan," ucap Mely dengan wajah yang tertunduk.


"Lalu kemana istri saya?" tanya Ezar dengan kedua tangan yang ada di kedua saku celananya.


"E ... anu Tuan, Nyonya e ... saya tidak tahu nyonya kemana," Ucap Mely dengan kegugupan yang terlihat jelas di wajah yang mulai keriput itu.


"Saya permisi Tuan," ucap Mely sebelum meninggalkan Ezar yang termangu di depan pintu.


Pikiran Ezar mulai berkelana, ia pun curiga dengan pengasuh putrinya yang terlihat gugup. Ia menerka apa yang sedang di sembunyikan oleh pengasuh putrinya itu.


"Tunggu!" ucap Ezar yang berhasil menghentikan langkah Mely yang sudah berada di anak tangga.


"Ada yang mau saya tanyakan, kita bicara disana," Ezar menunjuk ruang keluarga yang ada di lantai dua.


Ezar duduk di kursi tunggal dengan kaki kanan yang di silangkan di atas kaki kiri. Ia menatap Mely yang duduk di hadapannya dengan raut wajah yang terlihat resah, kedua tangannya pun terlihat gemetar.


"Ya Allah, apa yang harus saya lakukan? Kenapa Tuan Ezar pulang mendadak seperti ini, bagaimana ini kalau Tuan bertanya tentang Nyonya Bella," gumam Mely dalam hatinya.

__ADS_1


Kegugupan Mely semakin membuat Ezar penasaran, ia bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh pengasuh putrinya itu.


"Katakan dengan jujur, kemana sebenarnya Bella?" tanya Ezar tanpa basa-basi.


"Saya ... saya ... tidak tahu Tuan." Mely semakin gusar tatkala menatap perubahan ekspresi wajah Ezar.


"Baiklah jika memang kamu tidak mau berkata jujur, saya akan mencabut biaya pendidikan anakmu di kampung!" Ezar terpaksa memberi ancaman kepada wanita di hadapannya itu agar mendapat sebuah jawaban.


"Jangan Tuan ... jangan, tolong jangan cabut biaya untuk anak saya," Mely menangkupkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah memohon.


"Kalau begitu cepat katakan kemana Bella!" ujar Ezar dengan suara tegasnya.


"Nyonya Bella sejak kemarin pergi ke Bali bersama teman-temannya, Tuan." ucap Mely dengan wajah yang menunduk,


Rahang kokoh milik Ezar seketika mengeras tatkala mendengar ucapan Mely, ternyata Bella tetaplah yang dulu, ia masih terseret arus sosialita bersama teman-temannya.


"Apa dia sering meninggalkan Alana sendiri dirumah?" tanya Ezar lagi.


"Jawab!" Ucap Ezar ketika Mely hanya terdiam dengan kepala yang tertunduk.


Mendengar ucapan Mely membuat Ezar semakin murka, ia tidak habis pikir, kenapa istrinya tega meninggalkan putrinya di rumah bersama pengasuh. Rasa bersalah yang sempat menyelimuti hatinya kini hilang sudah setelah mengetahui apa saja yang di lakukan oleh istrinya.


Ezar kembali mengorek tentang istrinya, ia geram setelah mendengar penjelasan dari Mely. Ia membayangkan betapa kesepiannya Alana selama ini karena Sang Mama lebih mementingkan kehidupan sosialita nya.


"Ternyata kamu hanya berpura-pura di depanku, Bel! Kamu masih sama dengan yang dulu, lebih mementingkan teman gak jelas, dibandingkan dengan anakmu sendiri!" Gumam Ezar dalam hatinya dengan diiringi amarah yang semakin membara.


"Tuan, saya mohon jangan libatkan saya Tuan! saya takut Tuan," ucap Mely dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.


"Sekarang kembalilah bekerja, jangan memberi tahu Bella jika saya sudah dirumah. Cukup diam jika menginginkan posisi aman," ucap Ezar sembari menatap pengasuh Alana.


Mely beranjak dari hadapan Ezar, ia segera berlalu pergi dari hadapan Tuannya yang sedang termenung. Perasaan Mely menjadi tak karuan, membayangkan hal yang akan terjadi selanjutnya.


Kejutan yang di akan di berikan Ezar kepada Bella kini sirna sudah, ia sengaja tidak memberitahu Bella waktu kepulangannya Jakarta. Ezar memijat pangkal hidungnya karena pusing memikirkan semua ini.


Sepuluh menit kemudian, Ezar mengeluarkan ponsel yang ada di saku celana. Ia menekan nama Bella agar tersambung dengan istrinya itu.

__ADS_1


Rangkaian kata-kata manis terucap dari bibir Ezar tatkala panggilannya tersambung dengan Bella. Ia pura-pura tidak tahu jika saat ini Bella sedang bersenang-senang di Bali.


"Baby, maafkan aku. Mungkin aku terlambat pulang karena ada pekerjaan mendadak disini. Tidak masalah 'kan?" tanya Ezar.


"Berapa lama, Baby? aku pasti sangat merindukanmu," ucap Bella di sebrang sana. Hal itu semakin membuat Ezar mengeratkan rahangnya.


"Aku pun sangat merindukanmu, kamu sekarang ada dimana? Alana juga kemana? tumben dia diam aja," Ezar mulai memberi Bella sebuah pertanyaan yang menjebak.


"Alana ... Alana tidur, Baby. Aku sedang di taman depan ini." Ezar menyeringai setelah mendengar sendiri kebohongan yang di ucapkan oleh istrinya.


Panggilan berakhir setelah sepuluh menit Ezar ngobrol dengan Bella lewat sambungan telfonnya. Rasa kecewanya kepada Bella semakin mengakar. Ia belum bisa menerima kenyataan bahwa Bella sering meninggalkan putrinya jika ia sedang berada di luar kota, sungguh keterlaluan apa yang di lakukan oleh Bella kali ini.


Ezar menengadahkan kepalanya di sandaran sofa yang empuk itu, bayang-bayang Jessica berkeliaran dalam angannya. Apalagi setelah mengingat kelembutan hati Jessica kepada putranya, membuat Ezar semakin menginginkan Jessica hadir dalam hidupnya bersama Alana.


"Bella, jangan salahkan aku jika suatu saat kamu mengetahui apa yang aku lakukan di belakangmu! aku tidak perduli lagi denganmu, Bel!" Gumam Ezar dengan kedua telapak tangan yang terkepal.


Ezar segera bangkit dari tempatnya, ia berjalan menuju kamar Alana untuk memastikan keadaan putrinya.


Pandangan Ezar tertuju pada tubuh kecil yang sedang terlelap itu, ia mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. Sudut matanya mulai berembun ketika membayangkan hari-hari Alana tanpa di temani kedua orangtua yang mendampinginya.


"Je, andai saja Je ...." gumam Ezar sembari menatap wajah Alana.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Hmmm hmmm gimana menurut kalian ibu macam Bella ini?


_


_


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2