Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Menjenguk seseorang,


__ADS_3

Dua bulan kemudian ....


Hari terus berganti seiring dengan berjalannya waktu. Rasa bahagia tak pernah hilang dari kehidupan Jessica, selimut cinta dan kasih menjadi penghangat hidupnya sejak menjadi istri sah Tua muda Wongso. Lara dan duka yang pernah di rasakannya telah terganti dengan curahan rasa dari sang suami dan mertua.


Sang raja sinar mulai bergerak ke arah barat, langit pun telah menampakkan siluet kekuningan di cakrawala. Penunjuk waktu berada di angka empat sore.


Jessica keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar serta rambut basah yang dibalut dengan handuk putih.


Kau begitu sempurna ....


Di mata ku kau begitu indah ....


Kau membuat diriku akan selalu


memujamu ....


Jessica terus bersenandung selama berjalan menuju walk in closet yang ada di sisi lain kamarnya. Ia membuka almari besar yang berdiri kokoh di hadapannya untuk memilih dress santai yang akan ia gunakan sore ini.


Pilihan Jessica jatuh pada dress katun dengan potongan lengan sebahu berwarna merah maroon, motif bunga sakura menjadi pemanis dress yang tergantung di hanger hitam itu.


Jessica mulai melepas tali bathrobe yang melekat di tubuhnya, lekuk tubuh yang menggoda kini terpampang jelas disana, kulit putih sehalus sutra itu pun semakin terlihat indah di bawah cahaya lampu yang sudah menyala.


"Hey!!!" teriak Jessica ketika merasakan sebuah sentuhan lembut di salah satu bongkahan kenyal yang ada di balik tubuhnya. Ia benar-benar terkejut saat ini.


"Tenanglah, Sayang! aku bukan orang jahat!" ucap pemilik suara yang sangat di kenali Jessica meski ia tak melihat siapa yang ada di balik tubuhnya.


Sekali lagi Jerry me-re-mas bongkahan itu karena merasa gemas. Ia mengecup pundak Jessica berkali-kali sambil mengirup aroma vanila musk yang ada di tubuh Jessica.


"Tumben pulang sore, Sayang?" tanya Jessica sambil memasang bra berwarna merah untuk menutupi dua bukit menantang miliknya.


"Aku rindu dengan mu, Sayang," ucap Jerry sembari membantu Jessica mengaitkan tiga pengait bra yang di pakai Jessica.


Jessica mencebikkan bibirnya ketika mendengar kalimat yang terucap dari bibir Jerry. Ia membungkukkan tubuhnya karena harus memasang G-string warna senada dengan bra yang ia pakai.


"Jangan memakai dress itu, Sayang!" ucap Jerry ketika Jessica meraih dress yang sudah ia siapkan.


"Kenapa?" Jessica menaikkan satu alisnya setelah membalikkan tubuhnya menghadap Jerry.

__ADS_1


"Pakailah dress yang lain. Setelah ini ikut aku ke Rumah sakit untuk menjenguk seseorang," ucap Jerry dengan kedua tangan yang ada di pundak Jessica.


Jessica mencoba menerka siapa yang akan ia kunjungi di Rumah sakit, "Siapa yang sakit?" tanya Jessica dengan raut wajah penasaran.


"Nanti kamu tahu sendiri," ucap Jerry seraya berlalu pergi dari walk in closet.


Tanpa banyak berpikir, Jessica segera mencari pakaian yang cocok ia gunakan sore ini. Ia harus segera bersiap sebelum Jerry selesai mandi.


...🌹🌹🌹🌹...


Mobil hitam yang di kendarai Jerry telah sampai di halaman luas Rumah sakit swasta yang ada di Jakarta. Setelah menempuh waktu hampir empat puluh menit, akhirnya mereka berdua sampai ketika langit hampir gelap.


Jessica mengembangkan senyum manisnya ketika Jerry meraih tangannya untuk di gandeng. Mereka berjalan beriringan melewati koridor Rumah sakit yang tidak terlalu banyak pengunjung.


"Sayang, kita mau jenguk siapa sih?" tanya Jessica lagi, ia masih penasaran karena Jerry tidak menjawab dengan kepastian.


"Nanti kamu bakal tahu, Sayang!" ucap Jerry dengan santai.


"Ish!" Jessica melengos mendengar jawaban Jerry.


"Sayang, apa kamu mau mempertemukan aku dengan Nenek sihir itu?" tanya Jessica dengan tatapan tajamnya.


Jerry menghela nafasnya dalam sebelum berbicara dengan istrinya yang menampilkan wajah tak bersahabat, "Sayang, kita masuk dulu ya," ucap Jerry sambil menatap Jessica dengan tatapan teduhnya.


"Aku mau pulang saja," Jessica membalikkan tubuhnya, ia berpaling dari hadapan Jerry.


Jerry mencekal tangan Jessica hingga membuat si empu meronta. Wajah cantik itu menjadi merona karena menahan emosi di dalam jiwa.


"Sampai kapan kamu seperti ini, Sayang?" ucap Jerry seraya menarik tangan Jessica hingga tubuh sexy itu terjerembab kedalam dekapannya.


"Kamu seorang wanita dan seorang ibu. Kamu juga pernah menjadi seorang anak. Kamu pasti tau bagaimana rasanya ketika melihat orangtua mu sudah tidak berdaya, menanti datangnya uluran tangan Tuhan untuk menjemputnya."


"Sayang, Bu Lidya sudah tidak sadarkan diri, hidupnya tidak akan lama lagi, mungkin beliau menunggu kedatangan mu sebelum pergi."


Jerry mengusap punggung Jessica dengan penuh kasih sayang, apalagi ketika bahu Jessica mulai bergetar, tanda sebuah tangisan terjadi disana.


"Jangan terlalu lama menyimpan dendam, sudah sepatutnya kita saling memaafkan. Bu Lidya sudah merasakan sakit selama beberapa bulan ini, itu semua lebih dari cukup, Sayang! sekarang aku mohon bukalah pintu maafmu untuk Bu Lidya," ucap Jerry sebelum mengecup puncak kepala Jessica.

__ADS_1


Setelah drama panjang di depan ruangan Bu Lidya, akhirnya Jerry berhasil membawa Jessica masuk ke dalam kamar inap Bu Lidya.


"Selamat malam," ucap Jerry setelah berada di dalam kamar inap Bu Lidya.


Bella seketika terhenyak dari tempat duduknya ketika mendengar suara Jerry yang ada di dekat pintu, ia mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Selamat Malam, silahkan masuk Pak," ucap Bella dengan suara seraknya.


Jerry memberikan isyarat kepada Jessica agar ia mengikuti langkahnya menuju tempat Bu Lidya berada. Ada rasa iba yang menguasai hati Jerry ketika melihat kondisi memprihatinkan Bu Lidya saat ini.


"Jessica ...." ucap Bella yang sedang berdiri di samping Bu Lidya.


"Tolong maafkan semua kesalahan Mama. Kasihanilah Mama ku, Je. Lihatlah! bahkan aku tidak tega melihat kondisinya saat ini," ucap Bella dengan suara yang bergetar.


Jessica hanya diam saja sambil mengamati kondisi wanita paruh baya yang memperihatinkan itu. Tubuh yang dulunya berisi, kini habis entah kemana. Beberapa alat medis pun terpasang di beberapa bagian tubuh Bu Lidya.


Suasana kamar menjadi semakin hening ketika Jessica hanya diam di tempatnya. Ia seakan tengah berperang dengan hati nuraninya, berusaha menghapus luka yang pernah ia rasakan dulu karena ulah ibu dan anak yang kejam.


Setelah beberapa menit termenung, akhirnya Jessica menghela nafasnya yang berat. Jessica menatap Jerry penuh arti sebelum menggerakkan bibirnya.


Jessica mulai merangkai kata yang akan ia ucapkan setelah mendapat anggukan dari Jerry, sebuah tanda bahwa sang suami selalu mendukung keputusannya.


"Bu Lidya ...." ucap Jessica seraya mendekat ke bed yang di tempati Bu Lidya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍 β™₯️


Hmmmm, kasian ya Bu Lidya lagi sakit tuh, mari di jenguk gengs😝😝😝


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2