
"Hari ini kalian berdua mau mau kemana?" tanya Bu Monik kepada Jeje dan Jerry setelah selesai menikmati sarapannya.
"Emmh ... sepertinya di Rumah aja Ma," jawab Jessica.
"Kalau begitu temani Mommy menyusun bunga yang baru Mommy beli kemarin ya, kita berkebun hari ini," ucap Bu Monik dengan diiringi senyum manisnya.
Jessica mengangguk pelan seraya meneguk susu putih yang ada di gelasnya. Tentu saja Jessica akan bersedia jika di ajak berkebun, karena Jessica sendiri suka mengoleksi tanaman hias ataupun bunga-bunga yang indah di taman.
Sarapan bersama telah usai, Bu Monik segera keluar dari dalam rumah menuju taman yang ada di depan sedangkan Jessica masih sibuk di kamar untuk mencari pakaian yang cocok untuk berkebun.
Gelak tawa Fano dan Jerry terdengar nyaring di halaman depan, mereka berdua sedang asyik bermain bola sambil menikmati hangatnya sinar matahari.
Jerry tersenyum simpul ketika sekilas melihat kegiatan Bu Monik dan Jessica, hatinya terasa hangat ketika melihat Ibu dan istrinya rukun dan kompak.
"Moms, Jeje mau ke kamar mandi sebentar," ucap Jessica seraya meletakkan pot bunga yang ada dalam genggamannya.
"Iya, bawakan Mommy kaca mata yang ada di kamar kalau kamu kembali kesini," jawab Bu Monik tanpa melihat ke arah Jessica.
Beberapa menit setelah Jessica masuk ke dalam rumah, ada mobil berwarna hitam yang masuk ke halaman luas rumah Jerry, hal itu membuat Bu Monik menghentikan aktivitasnya karena penasaran siapa yang datang sepagi ini.
Jerry terkesiap dari tempat duduknya ketika melihat Ezar dan Bella turun dari mobil. Ia menangkap bola yang baru saja di berikan Fano.
"Selamat pagi, Tuan Jerry," ucap Ezar ketika sampai di hadapan Jerry, ia mengulurkan tangan kanannya kepada Jerry.
"Selamat pagi, Tuan Ezar," Jerry menyambut uluran tangan Ezar dan menggenggamnya dengan erat.
Setelah berbasa-basi dan menyampaikan maksud kedatangannya kemari, Ezar segera menyiapkan kursi roda untuk Bu Lidya sebelum mengikuti langkah sang tuan rumah.
Bu Monik menghentikan aktivitasnya, beliau pun mengikuti wanita paruh baya yang tak pernah beliau lupakan itu. Bu Monik prihatin ketika melihat kondisi Bu Lidya yang menyedihkan, tidak ada lagi keangkuhan yang Bu Lidya tunjukkan seperti dulu, saat merusak kebahagiaan Jessica.
"Silahkan duduk!" ucap Jerry ketika mereka semua berada di ruang tamu.
"Jeje masih ke kamar mandi, mungkin sebentar lagi dia akan keluar," ucap Jerry setelah mendaratkan tubuhnya di sofa bersama Fano.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, sosok yang di tunggu Bu Lidya telah datang dan termangu di tempatnya. Ada sedikit rasa bahagia yang menjalar di hati Bu Lidya ketika melihat Jessica diam di ujung ruang tengah walau Bu Lidya tahu ada kemarahan yang tersorot dari mata Jessica.
"Sayang!" Jerry memanggil Jessica, ia mengisyaratkan agar Jessica mendekat.
Tanpa banyak bicara Jessica berjalan menghampiri suaminya. Ia berlutut di hadapan Fano dengan diiringi senyum manis.
"Fano main di dalam saja ya sama kak Lila, Mama mau menemui tamu dulu, oke?" ucap Jessica sambil menatap Fano.
"Oke Ma!" Fano mengacungkan ibu jarinya sebelum berlalu dari hadapan Jessica.
Setelah kepergian Fano, suasana menjadi hening. Jessica memasang wajah datarnya di hadapan Bu Lidya, hal itu semakin membuat Bu Lidya kehilangan keberanian untuk berbicara langsung.
"Tante ... kedatangan kami kesini hanya untuk memberikan ini," ucap Bella kepada Bu Monik setelah mengambil map berwarna biru dari tas nya.
"Surat apa itu?" tanya Bu Monik sembari menatap Bella.
"Saya mau mengembalikan harta dan hak Jessica yang dulu pernah saya rebut," sahut Bu Lidya dengan suara yang lirih.
"Sayang!" ucap Jerry dengan suara yang lirih, ia menarik tangan Jessica agar kembali duduk ke tempat semula.
Degup jantung Bu Lidya semakin berpacu dengan cepat ketika sekilas beliau menemukan kebencian dari sorot mata Jessica.
"Je, tolong terima ya apa yang di kembalikan Mama kepada mu." Kali ini Bella ikut mengeluarkan suaranya agar Jessica mau mempertimbangkan keinginan Bu Lidya.
Ezar membuka map biru yang berisi surat peralihan hak milik yang sudah di tanda tangani Bu Lidya. Tak lupa Ezar menjelaskan isi surat yang bermaterai itu.
"Je, silahkan kamu tanda tangan disini," ucap Ezar sembari menatap manik hitam Jessica.
Tanpa banyak bicara, Jessica meraih map biru itu, ia mengambil kertas yang berisi surat peralihan hak milik lalu ia berdiri dari tempat duduknya.
Srekk ... srek ... srek ....
Tanpa di duga semua orang yang ada di ruang tamu, Jessica telah merobek kertas peralihan hak milik itu. Kertas yang tadinya utuh kini hancur berkeping-keping di lantai.
__ADS_1
"Sampai kapan pun saya tidak mau menerima barang-barang dari anda!!" ucap Jessica penuh penekanan.
"Sekali lagi saya tekankan! bahwa saya tidak akan pernah menerima apapun dari anda, Nyonya Lidya! rumah penuh kenangan orang tua saya sudah ternodai kelakuan busuk anda dan Ja-lang itu!" Jessica masih saja geram ketika mengingat semua kejadian yang menimpanya dulu.
Bu Lidya tergugu karena melihat respon Jessica. Beliau tak sanggup lagi untuk mengeluarkan suaranya karena menahan kesedihan dalam hatinya.
"Sayang ... sayang ... mau kemana?" ucap Jerry tatkala Jessica meninggalkan ruang tamu begitu saja. Ia menghela nafasnya berat karena sikap Jessica saat ini.
"Jerry, biar Mama yang menenangkan Jeje, kamu disini saja menemui Bu Lidya dan anaknya," ucap Bu Monik sebelum Jerry melangkahkan kakinya.
Satu persatu anak tangga telah di lalui Bu Monik, akhirnya wanita paruh baya itu sampai di depan kamar Jessica. Tanpa mengetuk pintu, Bu Monik masuk begitu saja.
Bu Monik menghembuskan nafas yang berat karena melihat tubuh Jessica yang bergetar, menantunya itu sedang menumpahkan tangisnya di atas ranjang.
"Nak, jangan bersikap seperti itu kepada orang yang lebih tua. Mommy tahu kalau kamu pernah disakiti Bu Lidya dan putrinya, tapi lihatlah bagaimana keadaannya sekarang, menyedihkan 'kan?" Bu Monik mengusap rambut Jessica dengan penuh kasih sayang, beliau mencoba menenangkan Jessica saat ini.
Rangkaian kalimat penenang dan kata-kata bijak pun telah di ucapkan Bu Monik. Namun, semua itu tak bisa menghancurkan kerasnya hati Jessica yang terlanjur terluka.
"Moms, Jeje ingin sendiri, tolong berikan Jeje waktu untuk berpikir," ucap Jessica di sela-sela isakannya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
Hay para reader setiaku, maaf ya dalam satu minggu ini othor gak akan bisa up normal seperti biasanya, dikarenakan ada kesibukan di RL yang tidak bisa di tunda♥️♥️♥️
_
_..
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1