
Bunyi alarm terdengar nyaring di atas nakas, membuat Ezar berkali-kali mengerjapkan matanya. Senyum manis pun terbit dari bibirnya tatkala melihat wanita yang ada dalam rengkuhannya masih terlelap. Ia mengusap rambut hitam berantakan milik Jessica dengan sejuta rasa yang ia miliki.
"Je, bangunlah! Sayang ...." lirih Ezar tanpa mengubah posisinya.
Jari jemari Ezar menyusuri wajah cantik tanpa polesan make up itu, membuat si empu mengerjapkan matanya. "Good morning, Mr. Ban," lirih Jessica ketika pertama kali membuka kelopak matanya, ia menatap wajah yang tengah tersenyum hangat kepadanya.
"Aku harus segera pulang, ada berkas yang tertinggal di rumah," ucap Ezar seraya menyandarkan punggungnya di headboard ranjang.
Jeje pun segera beranjak dari ranjang, ia meraih peignoir yang ada di atas bantalnya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah tanpa make upnya sekaligus gosok gigi, masih terlalu pagi untuk berendam di bath up.
Tiga puluh menit telah berlalu, Ezar sudah rapi dengan pakaian formal yanng di pakainya kemarin, di Apartemen ini tidak ada stok pakaian kerjanya. Mereka berdua menikmati roti bakar yang baru saja selesai di buat Jessica.
"Setelah ini akan ada Bu Asri yang membersihkan Apartemen ini, aku tadi sudah menghubungi nya," ucap Ezar setelah menyelesaikan sarapannya.
"Hmm ... mau berangkat sekarang?" tanya Jeje setelah menghabiskan segelas susu hangat favorit nya.
Ezar hanya menganggukkan kepalanya, ia pun berjalan menuju ruang keluarga untuk mengambil tas kerjanya dan setelah itu ia berjalan menuju ruang tamu bersama Jeje.
"Jaga dirimu baik-baik, mungkin hari ini aku tak menghubungimu, ponsel khusus ini akan aku tinggalkan di ruang kerja," ucap Ezar sebelum keluar dari pintu Apartemen.
Jessica mengantar Ezar sampai depan pintu Apartemen, kedua sudut bibirnya pun tertarik ke dalam tatkala Ezar mendaratkan bibirnya di kening Jessica dengan penuh kasih sayang.
"Hati-hati di jalan, Sayang ...." ucap Jeje sebelum Ezar berlalu pergi.
Pintu Apartemen kembali tertutup, Jeje berjalan menuju ruang keluarga untuk membersihkan ruangan itu dari pakaian nya yang berserakan di lantai. Namun, baru saja ia memungut pakaian dalamnya, suara bel di pintu masuk berhasil menghentikan kegiatannya.
Ting ... tong ....
Jeje mengerutkan keningnya, menerka siapa yang datang selain dirinya dan Ezar, " Hmm ... mungkin yang datang Bu Asri," gumam Jessica yang kembali berjalan menuju ruang tamu. Tanpa curiga ia pun segera membuka pintu berwarna putih itu.
Jeje terkesiap tatkala melihat siapa yang berdiri di hadapannya, ia menelan salivanya tatkala melihat wajah seorang wanita yang di penuhi amarah itu, ia mencoba menerka apa yang akan di lakukan wanita ini setelah melihat penampilannya.
__ADS_1
Rasa sakit perlahan menjalar di hati seorang wanita yang sedang termangu di depan pintu, menatap wanita lain di hadapannya dengan beberapa tanda merah di leher dan di dadanya, Chemise satin dengan model dada rendah itu berhasil mengekspos tanda merah hasil karya sang suami selama semalam penuh.
"Dasar Ja-la-ng!!" Bella mendorong tubuh Jessica ke dalam Apartemennya, pintu pun otomatis tertutup.
Jeje terus berjalan mundur sampai tubuhnya berhenti di sofa yang ada di ruang tengah, ia masih bungkam untuk menunggu wanita penuh amarah yang sedang menunjukkan taringnya itu.
"Apa yang kamu lakukan bersama suamiku heh? apa kamu tidak tahu kalau dia pria beristri? dasar ja-la-ng tak tau diri!" hardik Bella sembari mencengkram chemis satin yang di pakai Jessica.
Bella mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekeliling ruang keluarga yang berantakan itu, ia menatap pakaian Jessica yang berserakan disana. Bola mata indahnya pun menemukan bungkus balon berwarna merah, hal itu semakin membakar hatinya.
"Katakan Ja-la-ng!! apa yang sudah kamu lakukan bersama suami? kau tidur dengannya hah?" Bella semakin melebarkan matanya.
Jeje masih diam sembari menatap wajah wanita yang sedang emosi itu. Seringai jahat mulai terpancar dari wajah Jessica.
"Menurutmu apa yang akan di lakukan dua orang dewasa yang tidur dalam satu kamar?" dengan tenangnya Jeje melontarkan pertanyaan itu kepada Bella.
Tentu saja hal itu membuat hati Bella semakin terbakar, kini tangannya melepaskan chemis hitam yang di pakai Jessica dan beralih menarik rambut hitam yang terkuncir asal itu.
"Aww ...." pekik Jeje tatkala merasakan tarikan yang sangat kuat di rambutnya.
"Hey Ja-la-ng! lepaskan tanganku!" teriak Bella ketika merasakan sakit di pergelangan tangannya.
Jeje menghempaskan tangan Bella, lalu ia bersekedap sembari menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menatap Bella dengan intens.
"Semua ini adalah salahmu, Nona ... kamu terlalu bo-do-h karena membiarkan celah dalam rumah tanggamu terbuka, hingga aku bisa masuk dan menggoda suamimu," ucap Jeje dengan satu sudut bibir yang terangkat.
"Apa katamu? aku yang salah? dasar wanita mu-ra-ha-n! Ja-la-ng sepertimu tak pantas menyebutku bo-do-h!" Teriak Bella dengan amarah yang menggebu di dalam jiwa. Tangannya pun sudah terkepal, entah apa yang akan di lakukannya setelah ini.
Gelak tawa Jessica menggema di ruang keluarga, entah darimana datangnya keberanian itu hingga membuatnya berani menertawakan wanita dengan wajah memerah di hadapannya, detik selanjutnya Jeje pun menutup bibirnya dengan telapak tangan.
"Hey Nona ... dengarkan aku baik-baik. Aku hanya memberi suamimu perhatian dan kehangatan yang tidak dia dapatkan darimu, Nona. Harusnya Nona berterima kasih kepadaku, kan?" Jeje menyeringai di hadapan wanita yang wajahnya semakin memerah.
__ADS_1
Bella melangkahkan kakinya untuk mendekat ke tempat Jessica berada saat ini, tangannya pun sudah melayang di udara, bersiap untuk mendaratkan sebuah tamparan di pipi mulus Jessica. Namun, dengan sigap Jessica segera menahan tangan Bella tepat di hadapannya.
"Sedikit saja kau menyentuh kulitku, akan ku pastikan kau akan menjadi janda dalam minggu ini!" ucap Jeje dengan wajah seriusnya, kali ini hanya ada tatapan nyalang yang tersorot dari kedua manik hitam itu.
Bella melengos mendapat ancaman dari Jessica, ia mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman kuat WIL suaminya itu. Ia harus kuat melawan wanita yang sudah merusak rumah tangga nya.
"Lepaskan tanganku Ja-la-ng! akan ku pastikan namamu akan tersebar di media sosial! akan ku pastikan kau di hujat kaum wanita se Indonesia!" Bella pun mengancam balik Jessica, hal itu membuat Jessica semakin mengeratkan cengkramannya.
Pandangan keduanya bersirobok, kilatan amarah pun tersirat dari sorot mata keduanya, bendera perang tengah berkibar di antara dua wanita ini.
"Dengarkan aku wanita bo-do-h! daripada kamu sibuk untuk mempermalukan aku di media sosial, lebih baik kamu sibuk memperbaiki hubunganmu bersama Ezar. Aku tidak pernah takut kamu viralkan di media sosial, karena kamu pun akan menanggung malu yang lebih besar dari ku!" ujar Jeje dengan suara yang tegas.
Tubuh Bella pun terhuyung ke belakang setelah Jessica menghempaskan tangan Bella dengan keras, Jeje berkacak pinggang di hadapan Bella dengan wajah yang tidak bersahabat.
Bella tak tinggal diam, ia masih mencaci Jeje dengan kata-kata pedas yang menusuk hati. Perdebatan pun terjadi di ruang keluarga ini. Air mata Bella terus menetes seiring dengan ujaran kebencian yang terus keluar dari bibirnya.
Jeje begitu muak dengan ucapan-ucapan yang terlontar dari bibir rivalnya ini, tanpa banyak bicara, Jeje meraih pergelangan tangan Bella dan menyeretnya ke arah pintu.
"Pergi lah dari sini sebelum kamu menyesal! semakin lama kamu disini, maka peluangmu untuk menjadi janda semakin besar!" ucap Jeje sebelum mendorong tubuh Bella keluar dari Apartemennya.
Jeje menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang tamu, ia menghela nafasnya yang berat. Jantungnya pun berdegup kencang karena permainan yang menguji adrenalin baru saja di mulai.
_
_
Terima kasih sudah membaca dan mendukung karya ini, semoga suka 😍♥️
Huh othor ikutan kesel nih😌
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷