
Satu bulan kemudian ....
Hari terus berganti, meninggalkan kenangan pada semua insan. Kehidupan terus berjalan seiiring dengan berjalannya waktu, begitu pun dengan hubungan antara Jerry dan Jessica.
Cinta yang tumbuh di antara keduanya semakin hari semakin besar. Perlahan keraguan dalam hati Jessica mulai menghilang, ia sangat yakin jika Jerry adalah jodoh terbaik yang di kirim oleh Sang Kuasa untuknya.
Sabar, itulah kata yang cocok untuk Jerry saat ini, karena ... ia harus sabar menanti waktu yang di minta oleh Jessica. Sebenarnya, Jerry ingin pernikahannya dilaksanakan secepatnya, tapi Jessica menolak, ia ingin pernikahannya di laksanakan tiga bulan lagi, agar kondisi tubuhnya pasca operasi benar-benar pulih. Jeje hanya mengikuti saran dari dokter Maitri agar pernikahannya berjalan sesuai rencana, tanpa ada gangguan kesehatan.
Kabar pernikahan Jeje dan Jerry telah sampai di telinga Bu Monik, beliau sangat bahagia ketika mendengar kabar baik yang di sampaikan Jeje dan Jerry lewat video call beberapa waktu yang lalu. Akhirnya keinginan Tuan Dario sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, sebentar lagi akan terwujud.
Keluarga Aruna sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan Jessica. Baik Ferry ataupun Ezar, kedua pria ini seakan hilang di telan bumi.
Sang Raja sinar masih malu untuk menampakkan kuasanya, memilih bersembunyi di balik awan putih yang berbentuk indah di langit biru yang berpadu dengan siluet kuning. Penunjuk waktu masih berada di angka enam. Namun, Jeje dan Fano sudah sampai di istana megah keluarga Wongso. Mereka sengaja datang sepagi ini karena Jerry akan mengajak mereka liburan ke Bandung.
"Fano disini aja ya sama Kak Lila, Mama mau ke kamar Papa, pasti Papa masih tidur," pamit Jeje kepada Fano sebelum naik ke lantai dua. Jeje sengaja mengajak Lila untuk ikut bersamanya ke Bandung, karena ia pasti butuh bantuan Lila untuk mengawasi Fano disana.
Jessica mengernyitkan keningnya setelah membuka pintu kamar Jerry. Ia masuk begitu saja tanpa permisi untuk mencari keberadaan Jerry.
"Jer! kamu dimana?" teriak Jessica setelah menutup pintu kamar. Ia berjalan menuju walk in closet, dan ternyata disana kosong, tak ada sosok pria yang di carinya.
Jessica akhirnya duduk di atas ranjang empuk ber sprei putih itu. Sesaat pandangannya tertuju pada pintu kamar mandi yang tidak tertutup, gemericik air pun terdengar disana.
"Hmmm ... ternyata dia di dalam sana," gumam Jessica dengan sudut bibir yang terangkat sebelah karena tiba-tiba muncul ide jahil dalam pikirannya.
Jeje mengayun langkah menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamar. Ia berdiri di tengah pintu dengan lengan yang di sandarkan di bingkai pintu. Hawa panas tiba-tiba terasa di tubuh Jessica ketika melihat tubuh Jerry yang polos di bawah guyuran shower. Ia menelan salivanya ketika melihat keindahan dari ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.
"Hmm ... boleh juga ukurannya," ucap Jessica yang berhasil membuat Jerry terkesiap.
Jerry mengalihkan pandangan ke arah pintu yang ia biarkan terbuka. Ada sedikit rasa malu yang muncul dalam dirinya ketika melihat tatapan nakal Jessica. Namun, semua itu telah dipupus oleh Jerry.
__ADS_1
"Kamu sudah berani masuk ke dalam kamar seorang pria dewasa, Nona!" ucap Jerry dengan seringai yang membuat tubuh Jessica bergetar.
"Itu bukan salahku, karena sang pemilik kamar lupa menguncinya," ucap Jessica dengan nada yang menggoda.
Gugup, itulah yang dirasakan Jessica saat ini, ia menegakkan tubuhnya ketika melihat Jerry berjalan ke arahnya, tentu saja setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk putih yang ada di dalam sana.
"Kamu harus siap menerima konsekuensinya, Nona," lirih Jerry di telinga Jessica.
Hembusan nafas Jerry berhasil menggelitik daun telinga Jessica, hal itu membuat Jessica merasakan glenyer aneh dalam tubuhnya.
"Kamu yakin bisa melakukannya, Tuan? lihatlah, alat tempurmu saja masih layu seperti terong rebus," tanya Jessica dengan kedua tangan yang dikalungkan di leher basah Jerry.
"Kamu akan menyesal jika 'dia' sudah menampakkan wujud aslinya, Nona ...." ucap Jerry sebelum me-lu-mat bibir berwarna merah yang sangat menggoda pagi ini.
Jerry menyandarkan tubuh Jessica di pintu kamar mandi, ia menghimpit tubuh padat itu tanpa melepas pagutannya.
"Ouuh ...." lenguh Jessica ketika Jerry mulai menyusuri leher mulusnya. Ia meremas lengan bergelombang milik Jerry ketika merasakan gigitan kecil di lehernya.
"Kamu harus bertanggung jawab, Nona!" ucap Jerry ketika mengangkat tubuh Jessica ala bride style.
Jeje hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Jerry. Ia menggigit kecil dada bidang yang ada di hadapannya, membuat Jerry mengerang sebelum menghempaskan tubuh Jessica di atas ranjangnya.
Jerry semakin gemas ketika melihat rok yang di pakai Jessica tersingkap, menampilkan paha mulus yang begitu menggoda di matanya. Jerry naik ke atas ranjang atau lebih tepatnya ia sedang mengungkung tubuh Jessica. Tautan bibir pun kembali terjadi di atas ranjang itu.
Tok ... tok ... duor ... duor .....
"Papa .... Mama ....!!!!"
Jerry segera menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara pintu yang di gedor dari luar, ia juga mendengar teriakan Fano disana.
__ADS_1
"Astaga!!" Jerry menegakkan tubuhnya, ia berdiri di sisi ranjang dengan wajah yang masam.
Jessica terkekeh ketika melihat ekspresi Jerry saat ini, ia segera beranjak dari ranjang dan merapikan pakaiannya sebelum membuka pintu untuk Fano.
"Selesaikan sendiri di kamar mandi," lirih Jessica dengan suara merdunya, hal itu berhasil membuat Jerry mendengus kesal.
"Nasib ... nasib!" gerutu Jerry sambil berjalan menuju kamar mandi. Ia harus mandi untuk kedua kalinya di pagi ini.
"Ya begitu lah, resiko menikah dengan Janda," seloroh Jessica diiringi gelak tawa setelahnya.
"Papa!! Mama!! kenapa lama??" lagi dan lagi suara Fano terdengar disana.
Jessica segera membukakan pintu untuk Fano setelah memastikan penampilannya rapi. "Ada apa, Baby? " tanya Jessica setelah pintu terbuka sempurna.
"kenapa lama sekali, Ma?" tanya Fano dengan kesal.
"Papa tadi masih tidur, Nak. Jadi, Mama harus membangunkan Papa dulu," kilah Jessica. Ia harus mencari alasan yang bisa di terima putranya.
Jeje mengajak Fano untuk kembali ke ruang keluarga yang ada di lantai satu, membiarkan Jerry menidurkan alat tempurnya seorang diri di kamar mandi. Ia tersenyum puas setelah berhasil mengerjai calon suaminya di pagi ini.
"Rasakan kau, Jerong!" gumam Jessica diiringi seringai yang terpancar di wajahnya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷