Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Aku takut!!


__ADS_3

"Pastikan Fano tidak keluar dari kamarnya, Lil!" ucap Jerry sebelum sambungan telfonnya bersama Lila berakhir. Ia hanya memastikan agar Fano tidak mengetahui kekacauan Jessica saat ini.


Jerry kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu ia mengusap rambut Jessica yang sedang terguncang di dadanya. Suara isak tangis yang memilukan terdengar di teras rumah itu.


"Sudahlah, Je! hentikan tangisanmu!" ucap Jerry dengan di iringi beberapa kali kecupan di puncak kepala Jessica setelahnya.


"Emosi terpendam mu selama ini sudah terlampiaskan, aku harap hidupmu akan lebih baik, Je." Jerry membisikkan kalimat itu untuk meredam api yang saat ini masih berkobar dalam jiwa wanita yang ada dalam pelukannya.


Setelah puas menumpahkan semua rasa yang bergejolak di dalam jiwa, akhirnya Jerry memapah Jessica untuk masuk ke dalam rumah. Satu persatu anak tangga telah mereka lalui.


"Istirahatlah! kamu butuh ketenangan," ucap Jerry sambil membuka pintu kamar Jessica.


"Temani aku, Jer!" lirih Jessica seraya mendaratkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ada di dekat Jendela.


Jerry pun mendaratkan tubuhnya di atas sofa empuk itu, lebih tepatnya di samping Jessica.


"Jer, bagaimana jika Fery mengambil Fano dariku?" tanya Jessica setelah merebahkan kepalanya di atas pangkuan Jerry.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Fano tidak akan kemana-mana, Je. Aku akan melakukan segala cara agar Fery tidak bisa merebut Fano darimu," ucap Jerry sambil merapikan rambut hitam yang berantakan itu.


"Terima kasih, Jer ...," ucap Jessica sambil membelai rahang kokoh milik Jerry.


Rasa takut kembali hadir dalam jiwa Jessica. Ia tidak rela jika Fery sampai membawa Fano pergi dari sisinya. Sampai kapanpun Jessica tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Aku mau mandi, Jer!" ujar Jessica setelah beranjak dari tempatnya saat ini.


Sesampainya di kamar mandi, Jessica segera melepas semua yang melekat di tubuhnya. Ia menyalakan shower dan berdiam diri di bawah guyuran shower yang mengalir deras.


Jessica tak perduli jika kulit kepalanya terasa sakit karena guyuran air shower yang begitu deras. Air matanya pun ikut luruh ketika mengingat apa yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu. Ia sendiri menyesal telah melakukan hal kotor yang selama ini belum pernah di lakukannya.

__ADS_1


"Aarrghhh!!!" jerit Jessica sambil beberapa kali memukulkan telapak tangannya ke tembok berlapis keramik itu. Ia sangat menyesal karena tidak bisa mengontrol dirinya hingga membuatnya berubah menjadi wanita buas.


Jerry bangkit dari tempatnya, ia memutuskan untuk menyiapkan pakaian ganti untuk Jessica. Ia mengayun langkah menuju walk in closet milik Jessica.


Satu persatu pintu almari telah di buka Jerry untuk mencari pakaian santai Jessica. Pilihannya berakhir pada dress katun bermotif bunga lili tanpa lengan.


"Haruskah aku mengambil pakaian dalam untuk Jeje?" tanya Jerry pada dirinya sendiri. Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Jerry menarik laci yang berisikan pakaian dalam Jessica. Ia tersenyum geli melihat koleksi Jeje yang tersimpan disana.


Jerry segera keluar dari walk in closet, ia berjalan menuju ranjang dan meletakkan pakaian Jessica disana lalu ia memutuskan untuk menemui Fano di kamarnya.


Hampir tiga puluh menit Jessica menghabiskan waktunya di kamar mandi, kini ia keluar dengan bathrobe putih yang menutupi tubuhnya. Senyum yang indah tengah menghiasi wajah Jessica tatkala melihat pakaian yang telah di siapkan Jerry di atas ranjang.


"Kamu memang yang terbaik," lirih Jessica.


...🌹🌹🌹🌹...


Ocehan seorang wanita terus terdengar di indera pendengaran Fery. Ia tak menghiraukan Siva yang sedang meluapkan emosinya. Siva terus memandang wajahnya yang lebam, kening yang di perban karena ada sedikit jahitan hingga sudut bibir yang sobek dari cermin kecil yang ada di genggamannya.


"Dia pasti putraku! Aku harus menemui Jerry nanti malam," gumam Fery dalam hatinya.


Sekilas ia menatap Siva lewat ekor matanya, ia sangat kasihan melihat kondisi Siva yang berantakan meski lukanya sudah di tangani dokter di Rumah sakit.


"Kita harus melaporkan Jessica ke polisi, Mas! aku tidak terima dengan semua ini!" sungut Siva.


"Maaf Sayang, untuk masalah ini aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, aku tidak mau berurusan dengan Jerry, dia sangat menakutkan ketika marah," ujar Fery agar Siva mengurungkan niatnya.


"Oh, jadi Mas Fery sekarang membela Jessica dibanding aku?" tanya Siva sambil menatap Fery dengan intens.


Fery menghela nafasnya setelah mendengar tuduhan Siva, Ia bingung harus berbuat apa saat ini. Hati kecilnya pun menolak jika melaporkan Jessica ke kantor polisi karena ia sadar semua yang terjadi bukan sepenuhnya salah Jessica.

__ADS_1


"Sayang, aku sama sekali tidak membela Jessica. Aku hanya tidak ingin keluarga kita bermasalah. Perusahaan ku bisa gulung tikar hanya dalam waktu satu jam jika aku berurusan dengan Wongso IND." Fery mencoba memberikan pengertian kepada istrinya.


"Memang sekaya apa sih pria yang bersama Ja-lang tadi? aku tidak pernah melihat dia," ucap Siva dengan tangan yang terus menyentuh pipi mulusnya yang lebam.


"Aww!" pekik Siva ketika merasakan ngilu di wajahnya.


Fery menjelaskan perusahaan apa saja yang ada dalam kuasa Wongso IND. Bahkan perusahaannya tidak sebanding dengan apa yang di miliki Jerry. saat ini.


Berbagai kalimat umpatan kembali terlontar dari bibir Siva, ia sangat kesal karena kalah dari Jessica, ia tidak pernah menyangka jika wanita yang dulu terlihat lemah kini sudah merubah menjadi singa yang sangat buas.


"Jangan sampai Mama tahu keadaanmu saat ini," ucap Fery tanpa menatap Siva.


"Iya, aku juga takut Mama kembali ngedrop jika tahu wajahku babak belur." Siva menghela nafasnya karena mengingat kondisi Bu Lidya yang belum juga stabil.


Bu Lidya sampai saat ini belum sepenuhnya sembuh, beliau harus beberapa kali di rawat di Rumah sakit karena komplikasi yang di alaminya. Hari-hari Bu Lidya di habiskan dengan obat-obatan yang di berikan oleh beberapa dokter spesialis. Wanita paruh baya itu tak lagi mempunyai semangat hidup. Setiap hari beliau di hantui penyesalan atas perbuatan yang di lakukannya dulu.


Sungguh miris nasib Bu Lidya karena harus menanggung semua itu di masa tua nya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Si Fery di bonyokin sekalian gk nih?


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2