
Nak, jangan menanam kebencian dalam hatimu, Mama tidak suka melihat putri Mama menjadi seperti ini. Jadilah wanita yang mempunyai hati lembut seperti yang Mama ajarkan dulu.
"Mama!!"
Teriak Jessica seraya membuka kelopak matanya. Nafasnya terengah-engah karena mimpi yang baru saja menghiasi tidurnya. Jessica mengatur nafasnya seraya duduk bersandar di headboard ranjang, ia masih mengumpulkan separuh jiwa yang belum kembali sepenuhnya.
"Ini jam berapa sih! aku kok jadi bingung," gumam Jessica sambil menatap jendela kamarnya. Ia melirik jam yang tertempel di dinding kamar.
Jessica membekap mulutnya karena terkejut melihat angka yang menjadi titik berhenti jarum pendek, "astaga sudah jam tiga sore! Ya ampun, aku hampir seharian tidur!" gumam Jessica sambil memijat keningnya.
Rasa rindu kepada kedua orang tuanya tiba-tiba terasa di dalam hatinya. Meski tadi sempat bertemu dengan sang Mama di dalam mimpi, hal itu membuat kerinduan Jessica sedikit terobati.
Setelah beberapa menit berada di tempat tidur, akhirnya Jeje membersihkan diri terlebih dahulu di kamar mandi sebelum mencari Jerry dan Fano.
"Nenek lampir itu telah merusak weekend ku, kenapa coba pakai bikin surat peralihan hak milik! cih, aku gak butuh semua itu!" gerutu Jessica sambil menyisir rambutnya, ia masih kesal karena kehadiran Bu Lidya
Jessica segera keluar dari kamarnya setelah penampilannya rapi. Ia bergegas menuruni satu persatu anak tangga untuk mencari keberadaan anak dan suaminya.
Sore ini suasana istana megah itu terasa sunyi sepi, tak ada tanda-tanda keberadaan Bu Monik, Jerry ataupun Fano di dalam rumah itu, hal itu membuat Jessica mengernyitkan keningnya.
"Pada kemana ini?" gumam Jessica dengan suara yang lirih.
Jessica mengayun langkah menuju pintu yang menghubungkan ke halaman belakang rumah, di mana ada kolam renang di sana. Samar-samar terdengar suara gelak tawa Fano dari arah belakang, hal itu membuat Jessica menerbitkan senyum manisnya.
"Mama ...." teriak Fano ketika melihat Jessica yang semakin dekat dengan kolam renang.
Jerry memalingkan wajahnya untuk melihat istri yang seharian ini menghabiskan waktu di dalam kamar saja. Jerry merasa gemas melihat tingkah laku Jessica yang sedikit aneh, bagaimana ia bisa tidur pulas setelah marah besar kepada Bu Lidya.
__ADS_1
"Wah, ternyata menantu Mommy sudah bangun," kelakar Bu Monik ketika Jessica duduk di sampingnya.
"Ah Mommy, Jeje jadi malu nih!" ucap Jessica sambil menahan senyumnya.
"Kenapa malu? mommy tidak masalah meski kamu tidur seharian penuh atau dua hari gitu," ucap Bu Monik yang membuat Jerry tergelak di tepi kolam renang.
Gelak tawa akhirnya memenuhi tepi kolam renang itu setelah kehadiran Jessica disana. Mereka berempat menikmati sore di hari minggu ini dengan penuh kebahagiaan.
***
Malam telah datang, langit biru pun berubah menjadi gelap gulita tanpa adanya bintang di sana, membuat bulan tampil seorang diri. Semilir angin malam pun mulai terasa dingin. Namun, semua itu tak bisa menghentikan aktivitas panas yang sedang terjadi di atas ranjang king size milik Jerry.
"Ohh, Sayang!" lenguh Jessica dengan mata yang terpejam. Tangannya mencengkram bed cover berwarna putih itu dengan erat ketika Jerry mempercepat gerakannya.
"Panggil namaku, Sayang! katakan jika kamu ingin lebih!" ucap Jerry seraya mempercepat gerakannya dengan diiringi re-mas-an di bo-kong Jessica.
"Jerry!! aku milikmu! lebih cepat lagi, oh!" Jessica semakin mengerang nikmat ketika Jerry beberapa kali me-re-mas salah satu bongkahan kenyal yang ada di belakang tubuhnya.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Jerry setelah tubuhnya terbaring di samping Jessica.
"Sayang, aku nanti mau lagi, ya!" ucap Jessica sambil mengubah posisinya. Lengan bergelombang Jerry pun menjadi bantal empuk untuknya.
"Lima ronde lagi aku masih siapa," ucap Jerry dengan mata yang terpejam.
Jessica terkekeh setelah mendengar ucapan Jerry, ia menelusupkan wajahnya di dada bidang Jerry sambil mendaratkan bibinya disana.
"Sayang, jangan sekarang! aku masih lelah!" Jerry membuka kelopak matanya ketika merasakan Jessica mulai nakal lagi.
__ADS_1
Jessica tergelak karena ekspresi wajah Jerry yang lucu dalam pandangan Jessica. Ia sengaja menggoda Jerry agar terpancing karena ulahnya.
"Sayang," gumam Jessica setelah puas menggoda Jerry.
"Hmmm!" Jerry bergumam dengan mata yang masih terpejam.
Jessica akhirnya menceritakan mimpi yang datang dalam tidur panjangnya, Jerry pun segera membuka kelopak matanya setelah Jessica menyebut 'mama' dalam ceritanya.
"Sayang, harusnya kamu mengikuti pesan Mama," ucap Jerry sambil membelai rambut Jessica dengan lembut.
"Kamu sudah hidup bahagia sekarang, jadi aku mohon, lupakan semua luka mu di masa lalu. Maafkan semua kesalahan Bu Lidya karena beliau sudah tidak berdaya, Sayang." Jerry mencoba memberikan pengertian kepada Jessica agar melupakan kenangan buruk yang pernah di alaminya.
Jessica menghembuskan nafasnya berat. Jujur saja, ia masih enggan untuk membahas Bu Lidya saat ini, apalagi dalam keadaan seperti saat ini, polos tanpa sehelai benang.
"Sayang, jangan bahas nenek sihir itu lagi ya, harusnya kita sekarang fokus membuat pisang ambon ini berdiri lagi," ucap Jessica dengan tangan yang menyusuri area perut sampai ke bawah.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
Maaf ya kalau upnya dikit doang 😂
othor nyulik waktu nih😝
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷