
Malam semakin larut, keheningan semakin terasa di kediaman Jessica, membuat seorang pria tampan mengayun langkah menuju balkon kamar Jessica. Ia menyulut sebatang rokok untuk menemaninya duduk bersantai, merasakan hembusan mesra angin malam.
Jerry menyandarkan panggulnya di pagar pembatas balkon, kepulan asap rokok pun mulai berterbangan disana. Malam ini Jerry harus menginap di rumah ini untuk menemani Jessica. Beberapa waktu yang lalu seorang Psikiater baru saja pulang dari kediaman Jessica setelah melakukan pemeriksaan.
"Keadaan Nona Jessica tidak terlalu parah seperti beberapa tahun yang lalu, Tuan. Nona pasti cepat sembuh karena Nona hanya mengalami sedikit guncangan dalam jiwa nya."
Jerry mengingat apa yang tadi di ucapkan oleh Psikiater yang menangani Jessica lalu ia pun memikirkan apa saja yang harus ia lakukan setelah ini.
Jerry menghembuskan nafasnya yang berat ketika mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu, jauh sebelum Jessica merubah haluan hidupnya seperti saat ini.
Flashback on
Jerry datang ke salon kecantikan milik Jessica yang baru buka dua hari yang lalu. Hari ini Jerry baru saja datang dari Mexico setelah mengunjungi beberapa kerabat yang ada disana.
Seulas senyum tipis terbit dari bibir Jerry ketika melihat banyaknya pengunjung yang antre di salon kecantikan itu, ia pun melangkahkan kaki menuju lantai dua untuk mencari Jessica.
"Apa yang sedang kau lakukan, Je?" tanya Jerry tiba-tiba, membuat Jessica terkejut bukan main.
"Tidak bisa kah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?" sungut Jessica.
Jerry tak menghiraukan Jessica yang sedang menatap tajam ke arahnya, ia menghempaskan diri di sofa merah yang yang ada di sudut ruangan.
"Maaf Je, saat grand opening aku tidak bisa hadir," ucap Jerry sembari melepas jas yang di pakainya.
"Tidak masalah, santai saja," ucap Jessica yang sedang berjalan menuju tempat Jerry berada.
Obrolan ringan berlangsung di atas sofa merah itu, Jeje menceritakan bagaimana acara yang berlangsung dua hari yang lalu, ia terlihat bahagia saat menceritakan tentang bagaimana antusiasnya wanita-wanita yang berkunjung ke salonnya.
"Jer, ternyata banyak wanita yang bo-doh saat ini," ucap Jessica setelah selesai membahas masalah penting bersama Jerry.
"Maksudnya bagaimana?" Jerry belum mengerti kemana Jessica akan membawa obrolan saat ini.
__ADS_1
"Aku mendengar beberapa kali seorang wanita yang menyepelekan suaminya, bahkan ada yang sampai merendahkan suaminya, Jer," ucap Jessica sembari menatap wajah Jerry yang terlihat bingung.
"Terus?" Jerry belum mengerti apa yang di bahas Jessica saat ini.
"Menurutku mereka semua itu bo-do-h Jer. Mereka belum pernah tau bagaimana rasanya di duakan, mereka belum pernah merasakan bagaimana jika sang suami di embat pelakor, Jer," sungut Jessica, entah mengapa ia rasanya ingin marah ketika melihat seorang istri yang tak pandai menjaga pasangannya.
"Aku kok jadi pengen ya merasakan sensasi lain dengan mengajak kencan pria beristri," lanjut Jessica tanpa menatap Jerry.
Tentu saja hal itu berhasil membuat Jerry membelalakkan kedua matanya. Ia tidak pernah menyangka jika Jessica mempunyai ide konyol seperti itu.
"Kamu sudah gila, Je?" tanya Jerry
"Tidak Jer, aku masih waras. Aku hanya ingin menghukum wanita-wanita yang sombong, lihat saja setelah ini," ucap Jeje sembari menatap Jerry.
"Aku akan masuk ke dalam rumah tangga wanita yang suka menyepelehkan suaminya, biar mereka tau bagaimana rasanya jika suaminya terjerat cinta Jessica," kelakar Jeje, gelak tawa pun menggema disana.
Jerry menggelengkan kepalanya setelah mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Jessica, sebagai sahabat yang baik, ia berusaha membatalkan niat Jessica, ia mencoba menasehati Jessica dengan tutur kata yang lembut.
Flashback off
"Ck, nyata nya sekarang kamu sendiri yang terjebak dalam lingkaran setan ini Je dan sekarang kamu harus mengalami semua ini karena perbuatanmu sendiri," Jerry berdecak karena kesal dengan situasi saat ini.
Sebatang rokok telah habis, Jerry segera kembali ke kamar Jessica untuk memastikan kondisi Jessica baik-baik saja.
Jerry membolak-balikkan telapak tangannya di atas kening Jessica untuk memastikan jika Jessica tidak demam lagi. Ia berjalan menuju sofa panjang di kamar Jessica untuk beristirahat dan mulai menyambut alam mimpi yang menantinya.
...๐น๐น๐น...
Mentari pagi sudah menampakkan diri di ufuk timur, sinar hangat terasa di pagi yang cerah ini untuk menemani seorang wanita yang sedang duduk di taman rumahnya.
"Mama ... ayo kejar Fano dan Papa, Ma ...." teriak Fano sembari menatap Jessica yang termangu di tempatnya.
__ADS_1
Jerry terus menatap respon Jessica, tatapannya masih kosong sama seperti tadi malam. Bahkan ia tak merespon suara putranya.
"Aku harus membawa Jessica pergi dari rumah ini, mungkin tinggal di rumahku akan lebih baik. Aku akan menelfon Mommy agar pulang ke Jakarta," gumam Jerry dengan pandangan mata yang terpaku pada Jessica,
"Fano mau pulang ke rumah Papa?" kini Jerry berlutut di hadapan Fano, ia mengusap rambut tipis Fano.
"Mau Pa ... Fano mau," ucap Fano dengan antusias,
"Kalau begitu minta Kak Lila menyiapkan baju Fano ke dalam koper ya, sekalian bajunya Mama, oke?" tentu saja Fano segera melakukan apa yang di ucapkan oleh Jerry.
Fano berlari untuk mencari keberadaan Lila, ia sangat bahagia jika Jerry mengajaknya menginap di istana megahnya.
Sepeninggalan Fano, Jerry duduk disamping Jessica, ia meraih tubuh lemah itu ke dalam dekapannya, ia mencurahkan semua kasih sayangnya kepada Jessica.
"Kamu harus sembuh, Je. Fano sangat membutuhkanmu," lirih Jerry sembari mengusap rambut Jessica dengan segenap perasaan yang ia miliki.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โฅ๏ธ๐
Othor akan Up satu episode lagi ya, tapi pasti kapan waktunya, othor usahakan gk sampai malam yakkk.
Beri dukungan agar othor makin semangat๐ boleh dong ya kalau ada yang mau ngasih gift bunga, kopi, vote ataupun koin๐คฃ othor sangat berterima kasih jika ada yang bersedia memberikan gift๐คฃ๐๐๐
_
_
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
__ADS_1