
Satu bulan kemudian ....
Masalah kecil yang terjadi di perusahaan Jerry telah selesai. Proyek tetap berjalan sesuai dengan rencana yang sudah disepakati sejak awal meski Jerry harus menutup kerugian yang disebabkan oleh Investor baru yang bekerja sama dengan Fery.
Selama satu bulan ini, anak buah Jerry terus memantau gerak-gerik Fery, tidak ada apapun yang dilakukan Fery setelah dihajar oleh Ajay dan anak buahnya. Entah dia kapok atau sedang menyusun rencana baru.
Fano dan Bu Monik pun sudah di jemput Jerry dari Bali sejak dua minggu yang lalu. Mereka kembali hidup satu rumah dengan di selimuti rasa bahagia. Bu Monik tak lagi kesepian karena kehadiran Fano di dalam istana megahnya itu, beliau pun tak mempermasalahkan jika Jessica sulit hamil keturunan keluarga Wongso, bagi Bu Monik Fano sudah lebih dari cukup.
Hari-hari yang dilalui Jessica terasa indah dan penuh cinta. Tak sedikitpun ia kekurangan cinta dan kasih dari suami dan mertuanya. Rasa sakit yang pernah dia rasakan dulu kini telah di ganti Sang Pencipta dengan kebahagiaan yang tiada habisnya.
Seperti malam ini, mereka berempat tengah bersantai di ruang keluarga. Bu Monik mengukir senyum di bibirnya ketika melihat Fano dan Jerry sedang bermain di atas karpet bulu berwarna coklat itu, Bu Monik merasa lega karena Jerry bisa menemukan kebahagiaannya bersama Jessica dan Fano.
"Fano, GrandMa mau ke kamar dulu ya, nanti Fano mau tidur dimana?" tanya Bu Monik seraya berdiri dari tempatnya.
"Fano malam ini mau tidur sama Papa aja," jawab Fano sambil menatap Bu Monik, "boleh 'kan Pa?" Fano mengalihkan pandangannya kepada Jerry.
"Tentu saja boleh," ucap Jerry sambil mengusap rambut Fano.
"Ya sudah kalau begitu GrandMa mau tidur dulu, Fano cepet tidur ya, besok kan Fano harus sekolah," ucap Bu Monik sebelum berlalu dari ruang keluarga.
"Siap GrandMa ... good night GrandMa." Fano melambaikan tangannya sambil menatap Bu Monik yang sedang menaiki tangga.
Sepeninggalan Bu Monik, Mereka bertiga kembali bermain seperti sebelumnya. Gelak tawa pun terdengar di ruang keluarga itu.
"Papa, tadi di kelas Fano ada badut loh!" ucap Fano seraya duduk di pangkuan Jerry.
"Badutnya bawa apa aja, Nak?" sahut Jessica sambil merapikan mainan Fano yang berserakan di lantai.
__ADS_1
"Badutnya baik banget sama Fano, tadi Fano dikasih permen sama coklat banyak, sampai tas Fano penuh," ucap Fano sambil menengadahkan kepalanya agar bisa menatap wajah Jerry.
"Terus sekarang dimana coklatnya?" tanya Jerry.
"Udah habis, Pa! kata Bu Guru kalau punya makanan yang banyak harus di bagi ke teman-teman, Pa," ucap Fano.
"Oh ya Pa, tadi Fano di gendong juga sama badutnya, terus kepala badutnya di buka, Pa. Om nya ganteng Pa," imbuh Fano yang berhasil membuat Jessica menghentikan aktivitasnya.
Jerry mulai curiga dengan siapa sosok yang ada di balik kostum badut itu, pikirannya langsung tertuju pada Fery, "terus Om badutnya bilang apa ke Fano?" Jerry mulai memancing Fano agar mau menceritakan tentang badut yang ia maksud.
"Tapi Fano gak suka, karena Om badutnya jahat, Pa! Kata Om badut, Papa bukan papanya Fano!" ucap Fano dengan bibir yang mengerucut setelahnya.
Pengakuan yang baru saja di ucapkan Fano berhasil membuat Jessica dan Jerry saling menatap. Mereka seakan berbicara lewat sorot mata masing-masing. Mereka berdua sudah bisa menebak bahwa Fery adalah orang yang ada di balik kostum badut itu.
"Terus Fano percaya kalau Papa bukan Papanya Fano?" tanya Jerry untuk memastikan jika Fery tidak mempengaruhi pikiran Fano.
Jerry mengulas senyumnya sambil menatap wajah kecil yang sangat dekat dengannya. Jerry harus mencari cara setelah ini agar tak kecolongan lagi.
"Fano, kalau di sekolah ada om badut lagi, Fano langsung lari ya, jangan dekat-dekat sama orang yang tidak Fano kenal karena bisa jadi mereka adalah orang jahat." Jerry mencoba memberi pengertian kepada Fano.
Jessica sedikit geram karena sebuah cerita yang baru saja di ucapkan oleh putranya itu, ia tidak menyangka jika Fery akan nekat menyamar menjadi badut untuk bisa bertemu dengan putranya.
"Sayang, anak Mama yang paling tampan sedunia!" Jessica mengangkat tubuh Fano dari belakang lalu ia mendudukkan Fano diatas sofa panjang yang ada disana.
Jessica berlutut di hadapan Fano agar tubuhnya sejajar dengan putranya itu, "kalau di sekolah ada yang menemui Fano dan ngaku menjadi Papa Fano, Fano gak boleh percaya karena Papanya Fano cuma satu, yaitu Papa Jerry, oke?" Sedikit rasa bersalah terasa di hati Jessica karena harus mengatakan semua ini kepada putranya, ia tidak mau jika Fano sampai di ambil Fery.
"Iya Ma, kan Fano anaknya Mama Jeje sama Papa Jerry," ucap Fano sambil memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Jessica.
__ADS_1
Sebuah kecupan hangat dari Fano mendarat di pipi Jessica, bocah kecil itu akhirnya bergelayut manja di pangkuan Jessica hingga suara Jerry berhasil membuat ibu dan anak itu mengalihkan pandangan.
"Hua ... hua ... hua ..."
"Papa kenapa menangis?" tanya Fano dengan polos.
"Karena Papa gk di cium sama Fano, gak di peluk juga. Huaa Papa sendirian," Jerry memasang wajah sesedih mungkin untuk menggoda Fano.
Jessica dan Fano terkekeh melihat kekonyolan yang di lakukan oleh Jerry, "Buruan cium Papa, Nak! biar gk nangis lagi," bisik Jessica di telinga Fano.
Fano pun akhirnya beranjak dari pangkuan Jessica lalu ia berjalan ke tempat Jerry. Ia menghambur kedalam pelukan hangat dari pria yang ia panggil dengan sebutan Papa itu.
"Fano sayang Papa," ucap Fano setelah mendaratkan satu kecupan hangat di pipi kanan Jerry.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️ 😍
Duh aku juga pengen di tium, tapi di tium Papa Jerry😂
Oh ya guys, sekedar info aja ya, ini aku mau ngerekomendasiin ke kalian karya temenku, jika berkenan silahkan mampir👇 yuk kepoin profilnya😍
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷