Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Lolos?


__ADS_3

Tok ... tok .... tok ... tok ....


Fery sangat penasaran, siapa yang bertamu ke Villa nya di jam malam seperti saat ini. Penjaga Villa tidak mungkin datang jika dirinya menempati Villa ini.


"Mas, aku mau bawa anak-anak ke kamar dulu," ucap Siva sambil membereskan mainan putrinya.


Fery hanya menganggukkan kepala nya, ia berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang ke Villa ini, dalam pikirannya tidak mungkin jika Jerry dan Jessica menemukan keberadaannya di sini karena Villa ini ia bangun setelah cerai dengan Jessica.


Fery terkesiap ketika melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Tiga bodyguard nya duduk di lantai dengan kedua tangan yang sudah terikat ke belakang. Banyak orang berwajah garang berdiri tegap di depan Villa, jumlah nya lebih dari dua puluh orang.


"Siapa kalian? kenapa kalian mengepung Villa ku?" tanya Fery kepada salah satu pria yang sedang berdiri di hadapannya.


Semua pria berwajah garang itu tidak ada yang mengeluarkan suara sampai mobil berwarna hitam yang baru saja masuk halaman Villa berhenti.


Fery melangkah mundur satu langkah ketika melihat dua orang yang turun dari mobil hitam itu. Ia tidak menyangka jika Jerry akan menemukan Fano secepat ini. Sungguh, semua ini tidak pernah terlintas di kepalanya.


"Jadi di sini kamu menyembunyikan putraku?" tanya Jessica tanpa basa-basi ketika sampai di hadapan Fery.


"Kamu tidak mengajak kita masuk, Tuan Fery?" tanya Jerry dengan diiringi senyum smirk setelahnya.


"Tidak, kalian tidak aku izinkan masuk ke Vila ini!" ucap Fery.


"Haruskah aku memakai cara yang kasar agar bisa masuk? lihatlah, Bodyguard mu saja sudah tertangkap," ucap Jerry sambil melihat Bodyguard Fery yang sudah babak belur.


Tanpa mengucap sepatah kata, Fery menggeser tubuhnya agar sepasang suami istri itu bisa masuk dengan di temani dua orang bertubuh kekar untuk jaga-jaga jika ada kemungkinan yang tidak diinginkan.


"Dimana kau menyembunyikan putraku?" tanya Jessica dengan suara yang meninggi, ia tidak bisa berbicara dengan nada lembut seperti biasanya.


"Aku juga memiliki hak atas Fano, Ca! kamu tidak bisa memiliki Fano seorang diri," ucap Fery sambil menatap Jessica dengan mata elangnya.

__ADS_1


"Cih! Sebo-doh itu kah otakmu! Ingat! penanam bibit tidak bisa di sebut sebagai pemilik!" Jessica semakin muak melihat mantan suaminya itu.


"Kamu saja tidak pernah tau jika aku hamil darah dagingmu dan sekarang kamu mengambil Fano dariku? jangan mimpi, Fery!" sarkas Jessica sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Fery.


Fery mengepalkan tangannya ketika melihat sikap Jessica kepadanya. Ia merasa tidak punya harga diri lagi ketika Jessica memaki nya di hadapan Jerry dan dua pengawalnya.


"Aku tidak perduli! meski kamu mengucapkan semua itu, aku tetap akan merebut Fano darimu! aku ayahnya! aku berhak untuk mengambil putraku dengan atau tanpa izin darimu!" ucap Fery dengan nada tingginya.


Plakk!!


Sebuah tamparan keras mendarat begitu saja di pipi kiri Fery. Sebuah hadiah spesial dari Jessica untuk mantan suaminya itu, "Jaga batasanmu, Fer!" ucap Jessica dengan mata yang mulai berubah menjadi warna merah dan berembun, tanda amarah yang besar sedang menyelimuti jiwa ibu satu anak itu.


Tanpa di duga semua orang yang ada di ruang tamu, Jessica mencengkram kerah kemeja yang dipakai Fery, "Jangan pernah mengusik kebahagiaan ku apalagi sampai mengambil Fano dari sisiku! Sampai kapanpun Fano adalah anakku dan Jerry, kamu tidak punya hak sedikitpun atas hidup anakku!" cecar Jessica dengan nada yang berapi-api.


Jerry hanya diam saja ketika melihat sang istri yang berubah menjadi ganas. Ia membiarkan Jessica melampiaskan emosi kepada Fery yang selama ini ia pendam.


"Meskipun kau tidak mau mengakui kalau aku memiliki hak atas hidup Fano, alam pasti tau jika aku adalah ayah kandungnya Fano, Tuhan pasti akan berpihak kepadaku!" ucap Fery dengan sudut bibir yang terangkat sebelah.


"Bahkan saat ini alam sedang menghukum pria lak-nat sepertimu!" cengkraman Jessica semakin erat di kerah kemeja Fery, hal itu membuat si empu merasakan sakit di lehernya.


"Apa kamu tidak sadar, jika saat ini kamu menjadi pria yang menyedihkan? karma yang menyerang fisik rasa sakitnya tidak sebanding dengan karma yang menyerang hati dan perasaan, seperti yang kamu rasakan saat ini!" Jessica terus meluapkan emosinya.


"Mama ... Papa ... Mama ... Papa ... huaa ... huaa ...." suara tangisan Fano terdengar di lantai dua Villa itu.


Jessica melepaskan begitu saja cengkraman tangannya sambil mencari di mana suara sang putra yang sedang menangis mencarinya, "Sayang, urus pria ini! aku ingin mencari anakku!" ucap Jessica kepada Jerry sebelum berlalu dari ruang tamu.


Jerry memberikan kode kepada pengawalnya agar menahan Fery di ruang tamu. Ia pun menyusul Jessica menuju lantai dua untuk mencari putranya.


"Sayang!" teriak Jessica ketika melihat Fano bersandar di pintu kamar sambil menangis.

__ADS_1


"Mama! Fano takut Ma!" ucap Fano ketika Jessica memeluk erat tubuh kecilnya.


"Jangan nangis ya Sayang, ada Mama sama Papa di sini," ucap Jessica sambil mengusap air mata yang membasahi pipi putranya.


Jerry mengangkat tubuh Fano ke dalam gendongannya, ia menggiring Jessica untuk segera pergi dari tempat ini. Urusan Fery bisa di lanjutkan kapan pun mereka mau, yang pasti untuk saat ini mereka harus mengobati Fano dari rasa takut yang di alaminya hari ini.


"Pa, Om ini jahat Pa! Fano takut sama Om ini, Pa!" ucap Fano ketika mereka sampai di ruang tamu.


"Fano, ingin Om ini di hukum?" tanya Jerry sambil menatap wajah Fano.


"Iya, Om ini di kirim ke kandang tirex saja, Pa!" semua orang harus menahan tawanya karena mendengar keinginan Fano yang lucu itu.


Jerry membawa Jessica dan Fano keluar dari Villa ini, mereka akan pulang ke Jakarta malam ini juga, "jangan sampai pria ini terluka sedikitpun, kalian cukup menjaga pria ini agar tidak menghalangi jalanku pulang ke Jakarta," ucap Jerry kepada salah satu pengawalnya yang ada di ruang tamu Villa.


Fery mengernyitkan keningnya ketika mendengar kalimat yang terucap dari bibir Jerry. Ia tidak menyangka jika Jerry tidak membuatnya babak belur seperti yang sempat ia bayangkan tadi.


Sementara itu di lantai dua, Siva akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat kepergian Fano dan orangtuanya apalagi ketika melihat keadaan sang suami yang baik-baik saja tanpa luka atau apapun itu. Siva lah yang membuka kunci kamar Fano agar bocah itu bisa keluar dari kamar kedap suara itu.


"Tuhan, terima kasih karena Engkau masih menyelamatkan suamiku," gumam Siva yang sedang bersandar di dinding yang ada di dekat tangga.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Ada yang percaya gak kalau Fery bakal lolos begitu saja?


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2