
Luka yang baru saja mengering, kini harus kembali basah karena di taburi segenggam garam. Rasa pedih kembali di rasakan sang pemilik hati yang kini sedang terisak di tempat ibadah yang terletak di bagian belakang rumah sakit. Bella menumpahkan segala sesuatu yang menyesakkan hatinya akhir-akhir ini, ia mengadu kepada Sang Kuasa atas semua hal yang menimpa dirinya.
Wanita mana yang tidak terluka jika sang suami membagi cintanya kepada wanita lain. Apalagi wanita itu dengan berani meminta Bella melamarnya untuk menjadi istri kedua Ezar.
"Ya Tuhan ... apa yang harus hamba lakukan ...." lirih Bella di sela-sela tangisnya.
Pikiran Bella benar-benar kacau saat ini, ada Alana, Ezar dan Jessica yang sedang berkeliaran dalam otaknya. Rasanya ia tak sanggup untuk menjalani semua drama ini.
Setelah puas menumpahkan segala masalahnya, Bella segera keluar dari tempat suci ini. Ia berjalan menuju ruang inap putrinya. Wajah yang sembab mengiringi langkahnya, menimbulkan tanda tanya besar kepada siapa saja yang sedang melihatnya saat ini.
Sepuluh menit kemudian, Bella telah sampai di ruangan Alana, dimana ada Mely yang duduk di samping bed Alana.
"Apakah Alana sudah makan?" tanya Bella kepada Mely yang kini berdiri dari tempatnya.
"Sudah Nyonya, Nona Alana baru saja tidur. Dokter juga baru saja memeriksa kondisi Nona kecil," ucap Mely.
"Lalu, apa yang di katakan oleh dokter?" kini Bella duduk di kursi tunggal yang ada di samping bed Alana.
"Operasi Nona kecil akan di lakukan besok siang, Nyonya," ucap Mely sembari memandang wajah sang majikan yang terlihat kacau.
Bella terdiam, ia menatap wajah putrinya yang sedang berkelana dalam mimpi indahnya. Sejenak ia mengabaikan masalah rumah tangganya, kini ia sibuk membayangkan bagaimana operasi yang akan di jalani putri di hari esok.
"Mbak Mely ...." tiba-tiba Bella beranjak dari kursinya dan menghampiri Mely yang ada di sofa.
"Iya Nyonya ...." Mely pun berdiri dari tempatnya.
"Saya akan pergi sebentar, tolong jaga Alana sampai saya kembali. Jika nanti suami saya datang, katakan padanya jika saya pergi ke Bintaro," pamit Bella sembari meraih tas parida miliknya.
"Baik Nyonya," ucap Mely sebelum Bella berlalu pergi dari ruangan ini.
__ADS_1
Mely menghela nafasnya melihat keadaan Sang Nyonya yang berantakan itu, tak ada make-up cantik yang biasa menghiasi wajahnya, hanya ada gurat kesedihan yang terpancar dari wajahnya.
...π π π π ...
Hembusan angin malam menelusup ke dalam kamar dengan jendela yang di biarkan terbuka. Semilir angin itu berhasil membuat rambut hitam milik Jessica menari-nari dengan indahnya. Meski angin malam tak baik untuk kesehatan, nyatanya Jessica mengabaikan semua itu, ia masih betah duduk di tengah gawang jendela kamarnya.
Bulan sedang malu untuk menampakkan bentuk sempurnanya, ia lebih memilih bersembunyi di balik awan hitam yang terbentuk rapi di atas sana. Jessica menengadahkan kepalanya, nafasnya berat karena menahan sebuah beban yang ada dalam hatinya.
Keheningan yang tercipta di dalam kamarnya pun pecah seiiring dengan terbukanya pintu kamar. Fano berlari ke tempat Jessica berada saat ini.
"Mama ... ayo turun! ada Papa di bawah," ucap Fano sembari menarik tangan Jessica agar ia segera beranjak dari tempatnya.
Khayalan yang baru saja tercipta kini hilang sudah, mau tidak mau ia harus turun untuk menemui Jerry di bawah. Ia terus melangkah di belakang Fano.
"Pelan-pelan, Nak!" ucap Jessica ketika menuruni tangga. Tangannya terus di tarik Fano ketika menuruni satu persatu anak tangga agar segera sampai di ruang keluarga miliknya.
Jeje segera duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, senyum manis terbit dari bibirnya tatkala melihat Fano yang tidak mau turun dari gendongan Jerry. Ia pun harus mengulas senyum ketika mendengarkan Fano yang bercerita tentang kegiatannya di sekolah.
"Apartemen Dara," ucap Jerry tanpa menatap Jessica.
"Ck. Transfer bibit lagi?" tanya Jeje setelah berdecak, sekilas ia menatap wajah tampan yang ada di sampingnya.
"Balon adalah tempat pembuangan yang tepat saat ini," kelakar Jerry sembari menatap Jessica penuh arti.
Jeje melengos, tentu saja ia paham apa yang di maksud oleh Jerry. Keduanya pun akhirnya membahas hal lain yang lebih penting, menemani Fano bermain bersama di ruang keluarga itu.
Dering ponsel milik Jessica berhasil menghentikan gelak tawa yang menggema disana. Jeje meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya selain Ezar di ponsel khusus ini.
"Siapa lagi ini?" Jeje bermonolog, ia menerka siapa kiranya yang menghubunginya di nomor ini.
__ADS_1
Dering kedua kembali terdengar, karena di landa rasa penasaran, akhirnya Jeje menggeser warna hijau yang ada di layar ponselnya.
Obrolan terjadi disana, Jeje pun masih tenang meski raut wajahnya menampakkan sebuah keraguan, entah siapa yang menghubunginya, yang pasti obrolan berlangsung selama tiga menit.
"Kalau begitu besok saya tunggu disana, saya mau pertemuan ini di ruang VIP," ucap Jeje sebelum panggilan berakhir.
Jerry pun penasaran dengan siapa Jessica berbicara, "siapa?" tanya Jerry setelah melihat Jeje meletakkan ponselnya diatas meja.
"Aku tidak tau, mungkin keluarganya Bella, mereka mengajakku bertemu besok," ucap Jeje dengan entengnya, ia seakan tidak takut dengan apa yang terjadi di hari esok.
"Kenapa keluarganya mengajakmu bertemu? apa ada sesuatu yang terjadi?" Jerry menyelidik.
Akhirnya, Jeju pun tak bisa menyembunyikan masalah yang terjadi saat ini. Ia menceritakan semua yang di alaminya beberapa waktu ini, membuat Jerry beberapa kali melebarkan kedua netranya karena terkejut dengan keputusan gila Jessica.
"Je, berhati-hatilah! aku tidak mau kamu terluka lagi ...." ucap Jerry dengan suara yang berat.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈ
Nih othor up satu bab lagi, sebagai hadiah di akhir bulanπ
Othor sangat berterima kasih jika ada yang memberi gift Bunga, kopi, vote ataupun koinπ
Lope sekebon duren untuk kalianππ
_
__ADS_1
_
π·π·π·π·π·