
"Aku ingin mengakhiri hubungan ini, Zar ...."
Sebuah kalimat keramat yang berhasil membuat sepasang suami istri itu terkejut bukan main. Ezar seakan tidak percaya Jessica akan mengatakan semua ini.
"Katakan sekali lagi, Je!" Ezar menatap manik hitam Jessica untuk mencari sebuah keseriusan disana.
Keringat dingin mulai terasa di telapak tangan Jessica, ia menjadi gugup ketika menatap manik hitam sang kekasih yang sendu itu. Namun, kekuatannya kembali seketika tatkala Jessica mengalihkan pandangannya pada wanita yang duduk di samping Ezar.
"Aku ingin hubungan kita berakhir, Zar ... aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita," ucap Jessica dengan suara yang bergetar. Entah mengapa tiba-tiba ia menjadi sedih setelah menatap manik hitam itu.
"Kenapa Je? kenapa kamu mengakhiri hubungan kita?" Ezar berjalan ke tempat Jessica saat ini, ia seakan tak perduli dengan kehadiran Bella disana.
"Aku tidak bisa menjelaskan alasannya, Zar ... yang pasti aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," Jessica memutar bola matanya, ia tak kuasa untuk menatap wajah tampan dengan semburat merah itu.
Ezar meraih tangan lembut itu untuk di genggamnya, ia tidak percaya jika Jessica akan mengakhiri hubungan di antara keduanya. Tidak, Ezar tidak mau jika harus berpisah dengan janda anak satu ini.
"Kamu tidak bisa mengakhiri hubungan kita secepat ini, Je ... apapun yang terjadi, aku tetap akan mempertahankan mu, aku tidak mau jauh darimu, Je!" Ezar tak peduli lagi meski di ruang tamu itu ada Bella.
Keraguan kembali merayap di hati Jessica, ia menjadi tak tega setelah melihat tatapan penuh harap dari Ezar. Rasa aneh itu kembali menguasai hatinya, sejenak ia mengalihkan pandangan ke samping, menatap pemilik wajah tampan yang selama ini selalu ada untuknya.
Jessica kembali menatap Ezar setelah mendapat sebuah jawaban yang tersirat dari manik hitam Jerry. Ia melepas tangannya yang ada di genggaman Ezar.
"Zar, tolong hargai keputusanku ... aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, dengan atau tanpa restu dari istrimu hubungan ini tidak akan pernah aku lanjutkan, karena ...." Jeje menghentikan ucapannya, lalu ia menatap Bella yang sedang termangu.
"Karena apa, Je? katakan padaku!" Kini Ezar menangkup kedua pipi Jessica, ia tidak sabar untuk mendengar alasan di balik keputusan Jessica.
"Lepaskan tanganmu dari pipi itu!" Jerry tidak terima melihat Ezar menyentuh Jessica.
Ezar masih mengejar jawaban Jessica, ia benar-benar penasaran akan teka-teki yang di ucapkan Jessica. "Tolong katakan padaku, Je!" ucap Ezar dengan wajah yang memohon.
"Baiklah, aku akan menjelaskan sedikit apa yang menjadi alasanku." Jessica menatap Bella lewat ekor matanya, ia menangkap sebuah ketakutan yang tersirat dari ekspresi wajah Bella.
"Aku tidak bisa menikah denganmu karena kamu adalah bagian dari keluarga Aruna. Sampai kapanpun aku akan menjauh dari keluarga La-k-nat itu, Zar!" Ucap Jessica dengan penuh penekanan.
"Tapi aku hanya menantu di keluarga Aruna, Je! bisa kau jelaskan padaku kenapa kamu terlihat sangat membenci keluarga mertuaku?" Ezar semakin penasaran dengan ucapan Jessica.
__ADS_1
"Aku tau kamu tidak ada hubungan darah dengan keluarga itu, tapi ... putrimu adalah darah daging keluarga itu! Maka dari itu aku memilih untuk mengakhiri hubungan ini, karena aku tidak yakin bisa menyayangi putrimu sepenuh hati karena sebuah kenangan di masa lalu. Aku ...." Jessica menghentikan penjelasannya karena tiba-tiba suara Alana menggema di ruang tamu itu.
"Mama ...." Alana berlarian ke tempat Bella berada saat ini.
Pandangan Jessica beralih ke wajah anak kecil yang sangat lucu itu. Tak bisa di pungkiri bahwa ia pun sebenanrnya sangat menyayangi Alana, namun lagi dan lagi, kebencian pada keluarga Aruna telah mengalahkan semua rasa itu.
Jessica melebarkan matanya ketika melihat seorang wanita paruh baya sedikit berlari menuju ruang tamu untuk mengejar Alana. Kini pandangannya beralih pada sosok yang tak pernah ia lupakan dalam hidupnya.
Jerry mencekal lengan Jessica ketika melihat pergerakan Jessica yang akan menghampiri Bu Lidya. Wanita paruh baya itu belum menyadari jika tamu putrinya adalah seorangkorban dari kejahatannya dulu.
"Alana Sayang, ayo masuk lagi, main sama Oma di dalam saja ya," ucap Bu Lidya tanpa memandang tamu yang sedang berdiri di sampingnya.
Bella merasa ketar-ketir melihat kehadiran sang Mama, ia benar-benar takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat ini.
"Apa kabar Nyonya Lidya?"
Deg. Jantung Bu Lidya seakan berhenti berdetak mendengar suara itu. Tangisan seorang wanita yang dulu pernah beliau dengar beberapa tahun yang lalu, kini harus kembali menyeruak ke dalam indera pendengarannya. Perlahan Bu Lidya memberanikan diri untuk menatap sang pemilik suara itu.
"Ka- kamu ...." Seru Bu Lidya.
"Kenapa anda disini? apa rumah yang anda tempati mulai tidak nyaman?" sebuah sindiran melayang untuk Bu Lidya.
Ezar semakin bingung dengan situasi yang sedang di hadapinya saat ini, apalagi ketika mertua dan istrinya bungkam setelah mendengar pertanyaan Jessica.
Atmosfer ruang tamu tiba-tiba terasa menyesakkan untuk Jessica. Ia tidak sanggup lagi jika harus berlama-lama di tempat ini.
"Zar, keputusanku sudah bulat. Tolong setelah ini jangan menghubungi atau mencariku, hubungan kita telah selesai mulai saat ini!" ucap Jessica seraya meraih tas miliknya.
"Ayo kita pulang, Jer!" Jessica meraih tangan Jerry dan segera berlalu dari hadapan Ezar.
Teriakan Ezar menggema di dalam ruang tamu itu, ia mengayun langkah untuk mengejar Jessica yang akan keluar dari rumahnya. Ezar meraih lengan Jessica agar wanita itu menghentikan langkahnya.
"Aku tidak bisa, Zar! sudahlah biarkan aku pergi!" suara Jessica mulai meninggi.
"Setidaknya berikan alasan yang jelas biar aku mengerti, Je!" Ezar menatap Jessica untuk mencari jawaban yang dia inginkan.
__ADS_1
"Kalau kamu ingin tau lebih Jelas, bertanyalah pada wanita itu! dia pasti bisa menjawab rasa penasaranmu!" ucap Jessica dengan jari telunjuk yang mengarah ke tempat Bu Lidya berada.
Bella tak dapat lagi menahan air matanya ketika melihat sang suami memohon kepada wanita lain di hadapannya langsung. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, ia terkulai di atas sofa berwarna merah tua itu.
"Mama kenapa menangis?" tanya Alana dengan polosnya ketika melihat sang Mama menangis pilu.
Sementara itu, Bu Lidya masih mematung di tempatnya, pikirannya benar-benar berantakan setelah melihat kehadiran Jessica di rumah sang putri.
Kedua wanita beda generasi itu mengalihkan pandangan ke arah pintu, dimana Ezar berdiri saat ini dengan tatapan tajamnya. Ia baru saja kembali dari luar setelah mengejar Jessica yang telah pergi.
"Ma ... tolong jelaskan kepada Ezar apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ezar tanpa basa-basi di hadapan Bu Lidya.
"Baby ... bersikaplah lembut kepada Mama!" Bella tidak terima melihat Ezar bersikap seperti itu kepada sang Mama.
"Kalau Mama tidak bisa menjelaskan, kamu saja yang menjelaskan, Bel!" kini pandangan Ezar beralih kepada Bella.
Kedua wanita itu bungkam begitu saja, tidak ada yang berani menjelaskan sesuatu yang sebenarnya. Bu Lidya tiba-tiba saja terisak di tempatnya, membuat Ezar semakin bingung.
"Katakan Ma! katakan ...." Ezar benar-benar tak sabar lagi, pikirannya kacau saat ini karena hubungan yang baru saja berakhir.
"MAMA!!" teriak Bella ketika tubuh Bu Lidya ambruk begitu saja.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
Jangan lupa vote, mawar, kopi dan koin yah😂✌️
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1