Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Siva yang Iri ....


__ADS_3

Matahari sudah berada di cakrawala barat, menunggu waktu yang tepat untuk pulang ke peraduannya. Sore yang indah dengan gradasi jingga di ujung barat membuat siapapun berdecak kagum melihat pemandangan langit saat ini.


Sebuah mobil BMW merah berhenti di pelataran luas sebuah salon kecantikan yang biasa di kunjungi para wanita dari berbagai generasi.


"Kamu yakin kalau disini perawatan rambutnya bagus?" tanya Siva sambil melepas seat beltnya.


"Tentu saja, aku biasanya melakukan perawatan disini," ucap seorang wanita berambut sebahu yang duduk di samping Siva. Wanita itu adalah salah satu teman Siva yang bernama Ayu.


Kedua wanita itu pun akhirnya keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk Salon.


"Selamat sore ...." ucap kedua wanita itu dengan serempak.


Tak banyak pengunjung yang datang hari ini, hal itu membuat Siva mengedarkan pandangan untuk melihat tatanan salon yang baru pertama ia kunjungi ini.


Siva membelalakkan matanya tatkala bola matanya menangkap sosok wanita yang sangat di kenalinya. Wanita yang membuatnya merasakan iri karena postingan yang ada di sosial media, foto-foto romantis di Luar negeri.


"Ay, kamu treatment aja dulu, aku mau kesana sebentar," ucap Siva sambil menunjuk ke tempat Jessica berada.


"Oke," jawab Ayu sambil berlalu menuju resepsionis untuk daftar treatment yang diinginkannya.


Jessica mencoba menerka apa yang ingin di lakukan Siva kali ini, dengan rambut yang masih berlumur cream creambath, ia bersekedap dengan tatapan tajamnya.


"Aku gak nyangka bakal ketemu dirimu disini!" ucap Siva tanpa basa-basi.


"Terus?" tanya Jessica dengan ekspresi datar.


"Apa suamimu tidak bisa membuatkan salon pribadi di rumah hingga kau harus pergi ke salon orang untuk melakukan perawatan?" cibir Siva dengan wajah sinis.

__ADS_1


Sungguh, Jessica tak percaya jika Siva akan mengucapkan sebuah pertanyaan yang tidak penting. Pertanyaan konyol itu pun membuat para pegawai Jessica menahan senyumnya apalagi Rima, wanita jadi-jadian itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain sambil mengulas senyum.


"Astaga naga ... wanita dari planet mana ini, kok aneh banget!" gumam Rima dengan suara yang lirih.


Seringai jahat mulai nampak di wajah Jessica, rasanya ia ingin mengulang kejadian beberapa bulan yang lalu atau lebih tepatnya ketika Jessica menghajar wanita yang ada di hadapannya itu.


"Bahkan harga dirimu bisa ku beli saat ini juga kalau kamu mau menjualnya!" sarkas Jessica. Semua orang yang ada di dalam salon mengalihkan pandangannya setelah mendengar kalimat yang terucap dari bibir Jessica.


"Kurang ajar!" Siva menjadi geram setelah dipermalukan Jessica di depan umum.


"Kenapa? mau marah? atau mau menghajarku lagi?" Jessica memberondong Siva dengan sebuah pertanyaan yang tidak penting.


"Pikirkan sekali lagi jika kamu ingin menyerangku, apa kamu tidak takut jika pipimu yang baru saja di permak itu kembali hancur?" Jessica menunjuk pipi mulus Siva yang berhiaskan rona merah.


Siva hanya menahan emosi yang mulai membakar hatinya. Otot-otot lehernya terlihat menegang, tanda ia sedang menahan sesuatu yang ingin meledak.


Jessica mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara Jerry di dekat pintu masuk. Ia tersenyum simpul ketika melihat Jerry berjalan ke arahnya.


Begitu pun dengan Siva, ia segera membalikkan tubuhnya untuk melihat sosok pria yang ada dibelakangnya. "boleh juga lakinya!" batin Siva ketika melihat Jerry dari dekat.


Kedua tangan Siva terkepal kuat ketika melihat Jerry yang mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening Jessica. Ia bisa melihat betapa besar cinta yang di berikan Jerry kepada Jessica.


"Hey Tuan! apa Anda tidak memiliki banyak uang hingga istri anda harus datang ke salon? bukan apa-apa, saya takut aja kalau sampai dia menggoda para suami yang sedang menunggu istrinya disini." sebuah kalimat pedas yang terlontar dari bibir Siva.


Jessica mencekal lengan bergelombang yang terbalut jas itu ketika melihat pergerakan sang suami. Jessica tau jika Jerry tidak terima dengan kalimat pedas yang terucap dari bibir Siva. Tapi ia tidak mau jika Jerry melakukan hal gak penting gara-gara mulut lemes Siva.


"Sayang, tunggulah di atas! biarkan aku yang menyelesaikan semua ini sendiri," ucap Jessica untuk menenangkan Jerry yang tidak terima dengan ucapan Siva.

__ADS_1


"Rim, tolong siapkan peralatan di ruanganku, lanjutkan treatment yang tertunda ini di ruanganku!" perintah Jessica sambil menatap Rima.


Setelah Jerry dan Rima pergi ke lantai dua, pandangan Jessica kembali tertuju pada Wanita yang ad di hadapannya.


"Silahkan keluar dari sini jika kamu terus menghujatku? aku tidak butuh pelanggan sepertimu disini!" sarkas Jessica.


"Jadi ini salonmu? tanya Siva sambil mengedarkan pandangannya.


"Iya! ini salonku dan suamiku yang memberikan semua ini kepadaku!" ucap Jessica.


Tanpa permisi, Jessica meninggalkan Siva Yang sedang mematung di tempatnya. Ia tidak pernah menyangka jika Jessica memiliki semua ini.


"Aku akan minta Mas Fery agar membangunkan aku salon kecantikan! aku tidak mau kalau sampai di kalahkan Jessica," batin Siva


_


_


Selamat membaca karya ini, semoga suka 😍β™₯️


MAaf ya kalau upnya dikit bnget dan tidak ada hal penting yang othor tulis saat ini. konsentrasi othor ambyar begitu saja karena rasa kantuk yang mulai melandaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ€¦πŸ˜€


_


_


🌷🌷🌷🌷,

__ADS_1


__ADS_2