
Hari ini adalah hari ketiga pasca operasi pengangkatan kista yang dilakukan oleh Jessica. Keadaannya sudah berangsur membaik, ia tak lagi merasakan nyeri yang hebat di perut kanan bawah seperti sebelumnya.
Seperti pagi ini, dokter Maitri baru saja datang untuk memeriksa kondisi Jessica, tidak ada keluhan yang di rasakan Jessica, rasa nyeri di bekas sayatan pun perlahan hilang karena kemarin dokter spesialis bedah telah memberikan obat terbaik.
"Terima kasih dok," ucap Jessica sebelum dokter Maitri berlalu dari hadapannya.
"Jer, aku ingin cepat pulang! dokter Maitri sudah memberikan aku izin pulang 'kan!" Jessica protes kepada Jerry karena pria itu tak mengizinkan Jessica pulang sebelum kondisinya pulih.
Dokter Maitri sebenarnya tidak masalah jika Jessica istirahat dirumah, asal mematuhi saran yang di berikan olehnya. Namun, Jerry menolak semua itu.
"No!! kamu tidak boleh pulang sebelum aku yakin jahitanmu tidak sakit lagi," ucap Jerry seraya bangkit dari sofa. "Aku mau keluar sebentar, lidahku pahit tanpa rokok di pagi hari," ucap Jerry sebelum berlalu dari ruangan dengan fasilitas lengkap ini.
Ruangan yang luas ini terasa sepi setelah Jerry berlalu, Jessica meraih ponselnya untuk mengusir rasa kantuk yang mulai menyerangnya, " ini masih terlalu pagi, aku tidak boleh tidur!" ucap Jessica.
Jessica segera menggeser icon berwarna hijau tanda sebuah panggilan masuk, ia tersenyum tipis ketika nama Fela tertulis jelas di layar ponselnya.
Lima belas menit telah berlalu, Jessica meletakkan ponselnya setelah panggilan bersama Fela berakhir. Pagi ini ia sedang bahagia karena Fela akan mengunjunginya siang ini.
Suara pintu yang terbuka berhasil mengalihkan pandangan Jessica dari layar ponsel. Ia mengernyitkan keningnya karena belum juga melihat seseorang yang masuk ke dalam kamar.
Irama jantung Jessica semakin berdetak kencang tatkala melihat siapa yang datang. Ia me-re-mas selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya ketika tatapannya bersirobok dengan seorang pria yang sedang mendorong kursi roda.
"Selamat pagi, Je ...." ucap Ezar dengan suara baritonnya.
Bibir polos Jessica tiba-tiba sulit di gerakkan, lidahnya semakin keluh tatkala melihat wanita paruh baya yang duduk di kursi roda dengan sorot mata yang sendu.
"Ke--kenapa kalian ada disini?" Jeje tiba-tiba gugup ketika di hadapkan dengan ketiga orang yang bermasalah dengannya. Perasaan takut perlahan menelusup dalam hatinya, ia takut Bella akan bertindak nekat karena melihat dirinya yang lemah.
Ezar mendorong kursi roda Bu Lidya agar mendekat dengan bednya.
"Stop!" Jeje menghentikan langkah Ezar, "jangan mendekati aku atau aku akan menekan tombol ini agar suster datang dan mengusir kalian!" ucap Jeje sambil menunjukkan tombol emergency.
__ADS_1
"Je, kita datang kemari bukan untuk menyakitimu, Mama ku hanya ingin berbicara denganmu," ucap Ezar seraya berjalan mendekat ke tempat Jessica berada saat ini.
Ezar menatap haru wanita yang biasa tampil on kini terlihat polos dan sedikit pucat. Tanpa sadar tangannya terarah ke rambut yang di biarkan tergerai itu, sapuan tangannya bergerak lembut untuk mencurahkan rasa yang masih ia miliki.
"Kenapa kamu di rawat disini?" lirih Ezar sambil menatap manik hitam yang mulai berembun itu.
"Aku ... aku habis operasi pengangkatan kista." Jessica menundukkan pandangannya karena tak kuasa untuk melawan tatapan penuh rasa milik Ezar.
Bella mengalihkan pandangannya ke arah lain karena melihat pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak. Bulir bening pun mulai berjatuhan di pipi berlapis blush on itu.
"Menjauhlah dariku, Zar! Jangan seperti ini," lirih Jessica dengan pandangan yang masih tertunduk.
"Baby, kita tidak punya banyak waktu di sini, berikan Mama waktu untuk berbicara dengan Jessica," ucap Bella dengan suara yang bergetar.
Ezar membalikkan tubuhnya, kini ia kembali ke belakang Bu Lidya. Ia kembali mendorong kursi roda itu agar lebih dekat dengan Jessica.
"Jangan basa-basi! lebih cepat lebih baik!" ucap Jessica dengan ekspresi datar di wajahnya.
Bu Lidya masih terlihat pucat, beliau belum pulih sepenuhnya. Entah bagaimana caranya, yang pasti Bu Lidya diizinkan untuk keluar dari kamarnya.
Tatapan penuh harap tersorot dari manik hitam milik Bu Lidya, perlahan mata sayu itu mulai mengalirkan bulir bening, sebuah tanda bahwa penyesalan semakin menyerang dirinya.
"Aku memohon pengampunan dari mu, Nak. Biarkan aku hidup tenang setelah ini. Aku sudah lelah hidup dalam bayangan kejahatan yang aku lakukan kepadamu dulu." Bu Lidya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Sebaiknya anda mohon ampun kepada Tuhan bukan kepada saya," ucap Jessica dengan pandangan lurus ke depan. Ia enggan untuk menatap wajah yang mulai keriput itu.
"Silahkan pergi dari sini sekarang juga! saya tidak ingin melihat anda dan keluarga anda muncul di hadapan saya," ucap Jessica dengan suara yang tegas.
"Kamu tidak mau memaafkan aku, Nak?" tanya Bu Lidya dengan air mata yang terus bercucuran.
"Saya bisa saja mengucapkan kata 'iya' seperti yang anda harapkan saat ini. Tapi ... saya tidak bisa membohongi hati saya sendiri, luka yang di gores keluarga Aruna begitu menyakitkan. Lebih baik anda tidak usah menampakkan diri lagi di hadapan saya, agar semua rasa sakit itu terhapus oleh waktu," ucap Jessica, kali ini ia menatap manik hitam milik Bu Lidya.
__ADS_1
"Zar, bawalah istri dan mertuamu pergi dari sini, aku rasa waktu kalian sudah habis!" ucap Jessica penuh harap.
Setelah lama terdiam, akhirnya Bella membuka suaranya. Ia mencoba merayu Jessica agar mau memaafkan Bu Lidya. Ia terpaksa melakukan semua ini karena tidak tega melihat Bu Lidya yang menangis pilu karena sebuah rasa penyesalan yang menyerang hatinya.
"Sudahlah jangan banyak bicara! bawa Mama mu pergi dari sini, Nyonya Bella!" emosi Jessica mulai terpancing karena semua ucapan yang keluar dari bibir Bella.
Tak ada pilihan lagi untuk mereka bertiga, akhirnya Ezar mendorong kursi roda mertuanya untuk meninggalkan ruang inap ini.
"Tunggu!" Jessica menghentikan langkah Ezar dan Bella.
"Aku punya sedikit pesan untukmu, Nyonya Bella! Setelah ini perlakukan suamimu dengan benar, karena jika kamu mengulang hal sama seperti kemarin, bersiaplah untuk kehilangan Ezar!" ucap Jessica dengan suara yang lantang.
Bella membalikkan tubuhnya, tatapan tajam tersorot dari manik hitamnya, "apa kamu akan merebutnya lagi dariku?" tanya Bella.
"Tentu saja tidak! mungkin akan ada wanita lain yang lebih tega dariku jika kamu masih mementingkan kehidupan sosialitamu!"
"Aku dulu sangat perhatian kepada mantan suamiku, nyatanya dia lebih memilih menjalin hubungan bersama pelakor dari pada mempertahankan istrinya!" sungguh, kalimat panjang yang terucap dari bibir Jessica berhasil menusuk hati Bu Lidya, beliau tahu ini adalah sebuah sindiran dari Jessica untuknya.
"Aku yakin kamu adalah wanita yang cerdas karena kamu adalah seorang sarjana dari luar negeri, pastinya kamu bisa 'kan memahami apa yang aku ucapkan!" Jessica menaikkan satu sudut bibirnya, ekspresi menyebalkan terlukis di wajah polosnya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
\=> nih aku kasih visual dokter Maitri sebagai bonusnya, tapi jangan kaget ya🤣🤣🤣