Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Kabar buruk,


__ADS_3

Satu minggu kemudian ....


Senja terukir indah untuk menemani penguasa sinar pulang ke singgasananya, langit jingga perlahan berganti menjadi gelap menandakan malam telah tiba.


Jessica baru saja sampai di Apartemen untuk menemui Ezar yang sudah menantinya, rambut yang hitam di biarkan tergerai dengan indahnya. Senyum manis pun terukir indah di bibir sensualnya.


"Hay Mr. Ban ... maaf aku terlambat," ucap Jeje ketika sampai di ruang tengah, dimana Ezar sedang duduk bersantai disana.


"No problem Mrs. Cherry," ucap Ezar sembari menarik tangan Jeje hingga membuat sang empu terjerembab di atas pangkuannya.


Jessica mengangkat kakinya agar bisa duduk miring di atas pangkuan Ezar, kedua tangannya bergelayut manja di pundak Ezar, kepalanya pun di sandarkan di dada bidang milik Ezar.


"Aku rindu, Je," ucap Ezar setelah beberapa kali mengecup puncak rambut Jessica.


Jeje tersenyum simpul untuk menanggapi ungkapan rindu dari sang kekasih, jari lentiknya mulai menyusuri rahang kokoh di hadapannya. Memberikan sensasi lain kepada pria yang sedang menatapnya dengan sejuta rasa yang tersirat dari manik hitamnya.


Hampir satu minggu Ezar pergi dari rumahnya, tidak ada komunikasi dengan Bella, setiap hari justru ia menghubungi nomor ponsel pengasuh Alana untuk bisa video call dengan putri kecilnya. Selama pergi dari rumah, Ezar tinggal di Apartemen pribadinya yang dekat dengan kantor.


Setiap sore Ezar akan menemui Jessica di Apartemen, ia tidak bisa jauh dari Jessica, hatinya terpaku pada sosok wanita yang beberapa bulan ini di kenalnya, entah itu cinta atau hanya sekedar pelarian.


Kehidupan Jessica berjalan dengan normal, semua yang di ancamkan oleh Bella tidak ada satu pun yang terbukti dan sampai saat ini Jerry pun belum mengetahui jika semua yang di lakukannya sudah terbongkar di hadapan istri sah kekasihnya itu.


Suara decapan pun akhirnya terdengar di ruang keluarga itu, kedua bibir itu saling bertautan, menyesap satu sama lain untuk memberi sebuah rasa yang tak dapat di lukiskan.


Kedua manik hitam itu saling memandang, gairah cinta mulai membakar keduanya, membuat tangan Ezar mulai bergerak menyusuri punggung yang masih terbalut kemeja bermotif garis horizontal itu.


Satu persatu kancing kemeja itu pun lolos dari kunciannya, menampakkan dua gundukan kenyal yang menyembul di balik kain berenda berwarna biru dongker, sebuah belahan indah pun terbentuk disana.


"Kenapa kamu selalu menggoda, Je?" lirih Ezar dengan mata sayu nya, kilatan gairah pun terpancar dari kedua manik hitamnya.


Detik kemudian, kemeja itu pun lolos dari tubuh mulus Jessica, ia semakin terlihat menggoda di mata Ezar. Hembusan nafas berat mulai terasa di ceruk leher Jessica, sensasi menggelitik karena jenggot tipis itu pun berhasil membuat tubuhnya menggeliat di atas pangkuan Ezar.


"Aku rasa jenggot ini harus segera di cukur," gumam Jeje dengan nafas yang memburu.

__ADS_1


Ezar tak menggubris gumaman yang terlontar dari bibir sensual itu, ia sibuk menenggelamkan kepalanya di belahan yang tercipta di antara dua bongkahan kenyal yang sangat menggemaskan.


Lenguhan panjang lolos dari bibir Jessica, tatkala merasakan sensasi lain yang di berikan oleh Ezar, merasakan glenyer-glenyer yang tercipta dari jemari Ezar yang sedang menyusuri tulang punggungnya.


Suara dering ponsel dari dalam tas Jessica berhasil membuyarkan keduanya, ponsel khusus Jeje terus berdering dan kali ini adalah dering ketiga.


"Aku mau angkat telfon dulu," Jeje menghentikan permainan Ezar membuat si empu berdecak kesal.


Jeje mengerutkan keningnya ketika melihat nama Mr. Ban tertulis disana. Sedetik kemudian pikirannya tertuju kepada Bella, membuat ia segera menggeser icon hijau untuk mendengar suara yang ada di sebrang sana.


Wajah Jeje seketika berubah menjadi serius setelah mendengar suara Bella, ia menyimak dengan benar setiap penuturan panjang yang terucap dari bibir Bella.


Dua menit waktu yang cukup untuk mereka berdua berbicara, Jeje kembali ke tempat Ezar berada saat ini. Ia pun kembali duduk di atas pangkuan sang kekasih dengan hati yang bergemuruh.


"Siapa yang menelfon?" tanya Ezar dengan posesifnya.


"Istrimu ...." ucap Jeje sembari menatap manik hitam milik Ezar, "Sekarang pulanglah, putrimu sedang sakit, kemungkinan dia akan di larikan ke rumah sakit," lanjut Jessica dengan ekspresi wajah khawatirnya.


Jeje segera beranjak dari pangkuan Ezar, ia meraih kemejanya yang ada di lantai. "Tidak usah membantuku, segeralah pulang karena putrimu sedang membutuhkanmu," ucap Jeje ketika Ezar akan membantunya mengancingkan kemejanya.


"Baiklah, maaf aku harus membiarkanmu pulang sendiri," ucap Ezar setelah mendaratkan bibirnya di kening Jessica. Ia segera mengayun langkah menuju pintu yang ada di ruang tamu.


Jeje menghempaskan diri di atas sofa panjang itu, pikirannya berkelana jauh, memikirkan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.


***


Derap langkah terdengar di sepanjang lorong Rumah sakit swasta yang ada di Jakarta selatan. Rasa khawatir tengah menyelimuti diri seorang ayah yang mendapat kabar bahwa putrinya sedang terbaring lemah di Rumah sakit.


"Maafkan Papa, Alana ...." sebuah kalimat yang terus terucap dalam hati Ezar.


Ezar pun seger masuk lift menuju ruang inap VVIP tempat Alana dirawat. Sang pengasuh lah yang memberi tahu keberadaan Alana.


Beberapa menit kemudian, Ezar telah sampai di depan ruangan Alana. Kedua manik hitamnya menangkap seorang wanita yang menangis disisi ranjang, meratapi putrinya yang tertidur pulas di atas bed rumah sakit.

__ADS_1


Pintu kembali tertutup tatkala Ezar berjalan masuk untuk menghampiri istrinya, ia berdiri tepat di samping Bella yang tengah tergugu.


"Ezar ...." lirih Bella ketika menyadari ada seseorang di sampingnya, ia segera menghambur ke tubuh sang suami dan menumpahkan segala kegundahan hatinya.


Perlahan Ezar mulai membalas pelukan dari sang istri yang masih tergugu, tangannya mengusap lembut rambut yang tergerai itu, pandangannya tak lepas dari wajah kecil yang terlelap dalam tidurnya.


"Apa yang sudah terjadi?" akhirnya Ezar mengeluarkan suaranya. Ia mengurai tubuh Bella.


"Alana harus di operasi," ucap Bella dengan wajah yang tertunduk.


"Operasi? kenapa? Alana sakit apa?" rasa khawatir kembali menyerang perasaan Ezar ketika mendengar ucapan sang istri.


Ya, Alana sedang menderita Sinusitis akut, hidungnya terus mimisan hingga membuat tubuhnya lemas. Dokter pun menemukan Polip yang tumbuh besar hingga menyebabkan Alana sulit untuk bernafas. Operasi adalah jalan terbaik untuk Alana saat ini.


Mendengar semua itu, tentu saja membuat Bella syok, ia tidak tega membayangkan putrinya yang masih berumur tiga tahun harus berada di ruang operasi. Belum selesai masalah dengan suaminya, kini ia harus mendapat cobaan yang baru.


Ezar pun terkejut bukan main setelah mendengar penjelasan Bella, ia menghempaskan diri di atas sofa yang ada di ruangan Alana. Ia memijat keningnya karena tak kuasa memikirkan kesehatan putri kecilnya.


"Ya Tuhan ...." gumam Ezar dalam hati yang di penuhi rasa sesal.


_


_


Terima kasih sudah membaca dan mendukung karya ini, semoga suka 😍♥️


Btw, kalian mau visual orang indo atau luar nih?? biar othor bisa mencarikan kalian visual untuk lebih ngena menghalunya😂


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2