
Dua hari kemudian ....
Kegelisahan tengah menyelimuti seorang pria yang sedang mondar-mandir di depan ruang operasi. Rasa khawatir yang sangat besar kini hinggap di hatinya karena memikirkan seseorang yang ada di balik pintu yang tertutup rapat itu, dengan lampu merah yang menyala terang, tanda operasi sedang berlangsung.
Jerry tak henti mengucapkan doa-doa yang ia hafal untuk keselamatan Jessica. Pikiran negatif terus menghantuinya, membuat ia berkali-kali memijat keningnya.
"Kenapa operasinya lama sekali sih!" gerutu Jerry sambil menatap lampu merah yang masih menyala.
Jessica memutuskan untuk melakukan operasi secepat mungkin. Ia tidak perduli lagi jika di masa depan akan sulit memiliki anak. Fano adalah sumber kekuatannya untuk melakukan operasi ini, ia tak ingin merasakan sakit lagi dan membuat Fano kekurangan kasih sayang darinya.
Pemeriksaan lengkap sebelum operasi telah dilakukan kemarin, dan semua hasil tes tersebut menyatakan bahwa keadaan Jessica sangat baik, oleh sebab itu dokter Maitri bisa melakukan pengangkatan kista dan ovarium hari ini.
Lampu berwarna merah itu akhirnya padam setelah menyala hampir dua jam. Jerry bernafas lega, apalagi ketika melihat dokter Maitri keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana dok keadaan Jessica?" Jerry menyambut dokter Maitri dengan pertanyaan yang membuat dokter Maitri tersenyum tipis.
"Operasi berjalan lancar Pak, Ibu Jessica belum sadar sepenuhnya karena pengaruh bius. Setelah ini pasien harus di pindahkan ke ruang ICU terlebih dahulu agar kami bisa memantau keadaannya, Pak." dokter Maitri menjelaskan kondisi Jessica kepada Jerry.
Selang beberapa menit, dua orang suster mendorong bed Jessica keluar dari ruang operasi. Setelah berpamitan kepada dokter Maitri, Jerry segera menyusul dua orang suster yang Jessica ke ruang ICU.
"Maaf, Bapak tidak boleh masuk ke ruangan ini, bapak bisa memantau keadaan pasien dari kaca yang ada di sebelah sana," ucap salah satu suster sambil menunjuk kaca besar yang ada di sebelah kanan.
"Terima kasih, Sus," ucap Jerry sebelum berlalu pergi.
Jerry mengayun langkah ketika melihat sebuah penunjuk arah dimana letak ruang tunggu untuk pasien. Ia harus menunggu sampai Jessica sadar dan di pindahkan kembali di ruang inapnya.
Suasana di ruang tunggu terasa sunyi dan sepi, hanya ada tiga orang yang ada disana. Jerry mengeluarkan benda pipih yang ada di saku jasnya untuk menghubungi Dany.
Banyak hal yang mereka bicarakan saat ini, tentu saja semuanya menyangkut tentang pekerjaan. Pundi-pundi rupiah tetap akan terkumpul meski ia tak datang ke kantornya.
"Jerry ...."
__ADS_1
Sang pemilik nama akhirnya mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandangan dari layar pipih yang masih menyala. Ia menyatukan kedua alisnya ketika melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya.
"Ada keperluan apa kamu disini?" tanya Jerry seraya berdiri dari tempat duduknya. Kini ia berhadapan dengan seseorang yang kemarin di tinggalkan oleh Jessica.
"Ibu mertuaku sakit sejak kejadian saat itu, beliau harus di pindahkan ke rumah sakit ini agar mendapat perawatan yang lebih maksimal, kondisinya sedikit mengkhawatirkan." Ezar menjelaskan kenapa dirinya ada disini.
"Oh, semoga cepat pulih," ucap Jerry dengan ekspresi datar.
"Selamat siang, maaf mengganggu waktunya sebentar ... diberitahukan kepada keluarga pasien atas nama Jessica Almahira agar segera datang ke ruangan yang ada di depan ICU, terima kasih."
Tanpa berpamitan kepada Ezar, Jerry berlalu begitu saja setelah mendengar suara panggilan yang menggema diruang tunggu karena saat ini Jessica lah yang menjadi perioritas utamanya.
"Jadi Jeje sedang dirawat di rumah sakit ini? apa yang terjadi kepadanya? kenapa dia sampai masuk ICU?" Ezar bermonolog dengan rasa penasaran yang menyelimuti dirinya.
Ezar masih menyimpan rasa untuk Jessica, sebenarnya ia belum bisa menerima semua keputusan Jessica yang sepihak, namun ia belum bisa untuk menemui Jessica karena kondisi Bu Lidya yang semakin mengkhawatirkan.
...πΉπΉπΉπΉ...
Bella menghentikan langkahnya tatkala pintu ICU terbuka lebar. Ia menatap dua orang Suster yang mendorong bed pasien keluar dari ruangan. Alangkah terkejutnya Bella ketika melihat siapa wanita yang terbaring lemah di atas bed pasien itu.
"Wanita itu ...." gumam Bella dalam hatinya. Ia terus menatap kemana suster itu membawa Jessica.
Bella segera mengayun langkah untuk mengikuti kedua suster itu, ia ingin tahu dimana ruang rawat inap Jessica. Bella terus menyusuri lorong yang semakin sepi karena saat ini ia sudah berada di gedung VIP dan VVIP.
Langkah Bella harus terhenti ketika pintu lift tertutup rapat. Ia termangu di depannya sambil melihat angka yang ada di samping pintu lift. Ia terus menunggu sampai di lantai berapa lift itu akan berhenti.
"Jadi dia di rawat di lantai lima," lirih Bella ketika melihat angka lift yang berhenti di angka lima.
"Kira-kira dia sakit apa?" Bella menerka apa yang sedang terjadi kepada Jessica.
Bella memutuskan untuk meninggalkan gedung ini karena suasana semakin sepi membuat tubuhnya meremang, "apa Ezar tau kalau wanita itu di rawat disini?" Bella bermonolog dengan langkah yang semakin cepat.
__ADS_1
Delapan menit telah berlalu, kini Bella sudah sampai di area ruang ICU. Bella menemui suster yang berjaga di ruangan depan untuk meminta Izin menemui Bu Lidya sebentar.
Bujuk rayu dan permohonan telah di ucapkan Bella agar bisa menemui sang Mama di dalam sana, ia ingin mengatakan kepada Bu Lidya tentang keberadaan Jessica, karena beberapa hari ini wanita paruh baya itu terus meminta untuk bertemu Jessica.
"Baiklah, Ibu boleh masuk tapi hanya sepuluh menit ya Bu," akhirnya suster itu memberikan Izin kepada Bella, "terima kasih, Sus," ucap Bella seraya berlalu dari ruangan.
Setelah memakai baju hijau sterilisasi, Bella segera berjalan menuju tempat Bu Lidya terbaring. Rasa sedih menelusup ke dalam hatinya ketika melihat tubuh yang terbaring lemah dengan beberapa peralatan medis yang terpasang disana.
"Mama ... ini Bella Ma," lirih Bella di telinga Bu Lidya, tak lupa ia mengusap rambut hitam yang telah berubah warna itu.
Perlahan kelopak mata itu terbuka, seulas senyum tipis terbit dari bibir pucat milik Bu Lidya, beliau menatap Bella dengan tatapan sendunya.
"Ma, Mama harus cepet sembuh ya karena Bella sudah menemukan keberadaan Jessica, dia juga di rawat disini." Bella menatap Bu Lidya dengan tatapan penuh harap.
Berita yang di sampaikan Bella berhasil membuat Mata Bu Lidya berembun, beliau semakin melebarkan senyumnya karena keinginannya beberapa hari ini akan segera terwujud.
"Mama ingin bertemu dia ...." lirih Bu Lidya dengan tatapan memohon.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β₯οΈπ
Maaf upnya telat hari iniππ
_
_
π·π·π·π·
__ADS_1