Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Membangunkan singa tidur,


__ADS_3

Bulan madu penuh cinta telah usai, kini tiba saatnya kembali ke aktivitas seperti biasanya. Sudah dua hari ini sepasang pengantin baru itu berada di istana megah yang sesungguhnya di Pondok Indah,


Matahari sudah menampakkan sinarnya, memberikan kehangatan kepada semua insan setelah melalui malam yang panjang. Sang Raja sinar sepertinya sedang bersemangat kali ini karena tidak ada awan yang menyelimutinya.


Jessica sudah resmi menyandang status sebagai Nyonya muda Wongso. Jerry membawa Jessica untuk tinggal di Rumahnya dan membiarkan rumah lama Jessica kosong, hanya ada beberapa ART dan pekerja lain yang berada disana.


Semua barang yang di butuhkan Jessica sudah di penuhi Jerry di walk in closet, Jessica tidak di izinkan membawa apapun dari rumah lamanya. Semua pakaian, tas, sepatu dan koleksi lainnya telah tersedia disana.


Waktu terus berjalan tanpa henti. Setelah bersiap di kamar, Jerry dan Jessica turun ke lantai satu untuk menikmati sarapan di ruang makan. Rumah megah ini terasa sunyi sepi tanpa kehadiran Fano dan bu Monik.


"Kamu mau sarapan apa, Sayang?" tanya Jessica ketika melihat beberapa menu disana.


"Bubur ayam saja," ucap Jerry setelah menatap beberapa menu yang tersaji di atas meja makan.


Jerry tersenyum simpul ketika melihat Jessica menyiapkan bubur ayam untuknya. Akhirnya setelah menunggu sekian lama, ada istri yang menyiapkan sarapan untuknya. Rasa sepi tak lagi dirasakannya seperti dulu, sebelum menikah dengan Jessica.


Suara dentingan sendok dan garpu terdengar di Ruang makan sebagai irama yang mengiringi sarapan sepasang suami istri itu, tak ada yang mengeluarkan suara sebelum mereka berdua selesai menghabiskan sarapan.


"Sayang, kapan sih Fano pulang? aku sangat rindu dengan dia," tanya Jessica setelah meletakkan gelas yang berisi air putih.


"Hmmm ... sepertinya agak sulit, Sayang." Jerry memasang wajah penuh sesal.


"Why?" Jessica menaikkan satu alisnya.


"Mommy masih ingin bersama Fano, Sayang!" ucap Jerry sambil mengusap sudut bibirnya dengan tissu.


"Tapi Fano kan harus sekolah? dia tidak bisa izin terlalu lama," ucap Jessica.


"Mommy sudah membawa guru kelas Fano ke Bali, jadi saat ini Fano home schooling." Sebuah jawaban dari Jerry yang membuat Jessica melebarkan matanya, ia tak percaya jika Bu Monik merencanakan semua ini.


"Oh My God!" gumam Jessica yang sedang tercengang karena kabar mengejutkan dari suaminya.


Lagi dan lagi Jerry mengulas senyumnya karena melihat ekspresi wajah sang istri lalu detik berikutnya, ia memberikan pengertian agar membiarkan Fano berada di Bali bersama sang Mommy.


"Fano bahagia berada di sana, Sayang. Dia malah gak mau pulang ke Jakarta kata kak Anne kemarin," ucap Jerry sambil menggenggam tangan kanan Jessica.

__ADS_1


"Tapi aku rindu sama Fano, Sayang!" keluh Jessica dengan suara manjanya.


"Setelah urusan di kantor selesai, kita akan menjemput Fano, oke?" Jerry beranjak dari tempatnya, ia berdiri di samping Jessica sambil mengusap rambut hitam itu dengan penuh perasaan.


Jerry menatap arloji yang terpasang di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia akhirnya meraih tas kerja yang ada di samping Jessica.


"Semoga masalahnya tidak terlalu berat ya, Sayang," ucap Jessica setelah menjabat tangan sang suami.


"Tenanglah, ini hanya masalah kecil," ucap Jerry sambil mengusap pipi Jessica dengan ibu jarinya.


Jessica menatap mobil hitam yang di tumpangi Jerry sampai mobil itu hilang dari pandangannya. Ada rasa khawatir yang saat ini menguasai hatinya.


"Semoga semuanya baik-baik saja," gumam Jessica sebelum masuk ke dalam rumah.


...💠💠💠...


Sang raja sinar mulai menunjukkan kekuasaannya kepada semua insan. Hembusan angin pun turut menemani sang raja yang kini berada di tengah singgasana.


Jerry baru saja keluar dari mobilnya setelah melakukan pertemuan bersama Owner perusahaan yang bekerja dengan Wongso IND di salah satu resto private.


Tentu saja, rencana proyek itu harus tertunda karena investor lainnya bimbang dengan perkembangan proyek pembangunan perumahan elit di salah satu daerah yang ada di Jakarta. Mereka tidak yakin jika proyek ini berjalan sesuai rencana.


Jerry sebenarnya tak seberapa pusing jika ada satu investor yang menarik dana nya, toh ia bisa menutup semua dana itu secara pribadi. Tapi ada hal yang terlihat janggal dalam pandangannya. Ia ingin tahu siapa orang yang sedang bermain-main di belakangnya.


"Dan, ikut ke ruangan saya!" ucap Jerry setelah keluar dari lift. Mereka berdua berjalan dengan langkah cepat menuju ruangan yang paling besar di lantai ini.


"Baik pak," ucap Dani yang mengekor di belakang Jerry.


Keduanya sampai di ruangan yang bertuliskan 'Owner Wongso IND'. Jerry menghempaskan diri di kursi kebesarannya dengan kaki kanan yang di silangkan di atas kaki kiri sedangkan Dani duduk di kursi yang ada di depan meja.


"Menurutmu siapa orang yang ada di balik investor baru itu?" tanya Jerry sambil menatap Dani.


"Saya curiga dengan CEO perusahaan Bima sakti," ucap Dani dengan tatapan yang menerawang jauh.


"Kenapa bisa begitu?" Jerry penasaran dengan pendapat dari Dani.

__ADS_1


"Karena perusahaan bima sakti adalah pesaing perusahaan Bapak dan CEO bima sakti adalah calon menantu dari Investor baru yang mencabut dana nya itu, Pak." Dani menatap Jerry dengan intens.


"Alasanmu bisa diterima, Dan. Tapi saya rasa ada satu orang lagi yang ikut dalam kekacauan ini." Jerry mengetuk-ngetuk mejanya dengan jari telunjuknya.


Dani menaikkan satu alisnya ketika mendengar ucapan Jerry, ia tengah menerka siapa sosok yang sedang dalam pengawasan Jerry.


"Harusnya kamu memantau satu orang lagi, Dan! apa kamu lupa jika Fery termasuk daftar orang yang menjadi target pengawasanku?" Jerry menegakkan tubuhnya, ia duduk tegak di hadapan Dani.


Getaran ponsel yang tersimpan di saku jas yang di pakai Dani, membuat ia harus kembali menutup bibirnya karena ada sebuah panggilan penting dari orang suruhannya.


"Saya permisi sebentar Pak, sepertinya Ajay memberikan informasi penting," pamit Dani sebelum beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan menjauh, jawablah di sini saja!" sebuah perintah dari Jerry yang membuat Dani kembali duduk.


Jerry tersenyum smirk ketika mendengar obrolan Dani dan Ajay, salah satu orang yang bertugas mengawasi gerak-gerik Fery. Praduga yang memenuhi isi kepalanya sejak tadi pagi telah terjawab sudah.


"Katakan pada Ajay agar membiarkan Fery masuk ke dalam rumah lama Jessica," ucap Jerry setelah mendengar laporan dari Ajay yang mengatakan bahwa Fery dan beberapa orang sudah berada di depan gerbang rumah Jessica.


Dani menatap sorot mata yang terpancar dari tatapan Jerry, tanpa menunggu lebih lama lagi, Dani segera keluar dari ruangan Jerry untuk mencari sesuatu yang tersimpan di ruangannya.


"Fery ... Fery!! kamu akan menyesal karena sudah membangunkan singa yang sedang tidur! Lihat saja, setelah ini apa yang aku lakukan!" gumam Jerry dengan rasa kesal yang mulai datang.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Maaf ya othor kemarin gak up🙏 othor lagi galau tapi gtw kenapa🤦🙆dan yang paling penting banyak tugas di RL yang datang menghampiriku😥


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2