
Mentari pagi tersenyum hangat untuk menyapa semua insan, namun semua itu berbeda dengan ekspresi wajah seorang wanita yang sedang terbaring di atas bednya.
Jerry terlihat frustasi melihat keadaan Jessica saat ini. Jika tahu akhirnya akan seperti ini, Ia menyesal telah memberikan izin kepada Ezar untuk mempertemukan Ibu Lidya dengan Jessica.
Ya, tadi setelah keluar dari ruang inap Jessica, Jerry bertemu dengan Ezar dan keluarganya di depan lift. Awalnya Jerry tak mengizinkan mereka untuk bertemu Jessica, namun permohonan Bu Lidya berhasil membuat hatinya luluh.
"Je, sampai kapan kamu murung seperti ini? sebentar lagi Fano pasti datang kesini, sambut dia dengan senyuman," ucap Jerry seraya melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya.
Jessica memutar bola matanya ke segala arah ketika mendengar nama Fano disebut oleh Jerry, tampaknya ia sedang memikirkan suatu hal yang penting.
"Jer, segera hubungi sopir mu, katakan padanya jika tidak usah mengantar Fano dan Lila ke rumah sakit." ujar Jessica yang berhasil membuat Jerry menaikkan satu alisnya.
"Kenapa?" Jerry belum menangkap maksud Jessica.
"Nenek sihir itu di rawat disini 'kan? aku tidak mau kalau sampai Fano bertemu dengan dia," ucap Jessica.
Jerry segera mengeluarkan layar pipih di saku celananya tanpa banyak bicara lagi. Ia menelfon sopirnya sesuai dengan keinginan Jessica.
"Fano masih di sekolah, Je ...." ucap Jerry setelah panggilan berakhir.
Jessica menghela nafasnya lega karena Fano sudah di pastikan aman dari keluarga Aruna. Ekspresi wajah masamnya kini berangsur hilang entah kemana.
"Kamu tidak ke kantor, Jer? aku tidak masalah disini sendirian, sudah lama kamu meninggalkan kantor karena menjaga ku disini," ucap Jessica, ia menjadi tak enak hati karena setiap hari Jerry selalu ada di sampingnya.
"Aku punya banyak staf profesional yang bisa menghandle urusan kantor, Je ... kamu tidak usah khawatir untuk urusan kantor. Tanpa ada aku disana, semua perusahaan tetap berjalan seperti biasanya," ucap Jerry dengan senyum manisnya.
"Kalau begitu aku sekarang mau tidur dulu, Jer ... bangunkan aku jika Fela sudah datang!" ucap Jessica seraya membenarkan posisi bantalnya.
...๐น๐น๐น๐น...
Penunjuk waktu sudah berada di angka satu siang. Sang Raja sinar tengah menampakkan kekuasaannya, membuat semua orang ingin berlindung darinya.
Gelak tawa menggema di ruang inap Jessica karena Fela dan suaminya telah datang. Jessica sangat bahagia melihat kedatangan sahabatnya.
__ADS_1
"Kemana Keysa? kenapa dia tidak ikut, Fe? padahal aku kangen banget sama bayi lucumu itu," tanya Jessica.
"Keysa di rumah bersama pengasuhnya, aku tidak mau membawa dia kesini, aku takut virusmu akan menyebar ke putriku!" seloroh Fela yang berhasil membuat Jessica mendengus kesal.
"Bunda ... Kiara mau ice cream!" rengek putri sulung Fela yang sedang bergelayut manja di pangkuan sang Ayah.
"Bagaimana kalau kita ke bawah saja, Bro? di bawah ada coffe shop dan kedai ice cream," usul Jerry kepada suami Fela.
"Itu ide yang bagus! lebih baik kita pergi kesana daripada harus mendengar dua wanita ini bergosip ria." tentu saja hal itu membuat Fela dan Jessica berdecak kesal.
Sepeninggalan dua pria itu, akhirnya Fela dan Jessica mulai melakukan hal yang sering terjadi jika dua orang wanita dewasa sudah berkumpul seperti ini, ngegosip.
Berbagai macam topik telah mereka bahas tanpa ada sisa. Jessica pun menjelaskan tentang penyakit yang di deritanya setelah Fela bertanya tentang kondisinya saat ini.
"Mungkin setelah ini aku sulit untuk mempunyai keturunan, Fe ...." ucap Jessica penuh sesal.
"Ya iyalah! bagaimana gak sulit, suami aja kagak punya!" Kelakar Fela dengan diiringi gelak tawa setelahnya. Ia mencoba menghibur Jessica agar tidak terlarut dalam kesedihan.
"Bahkan saat ini aku tidak punya calon suami." Jeje menghela nafasnya, bibirnya pun mengerucut seperti ikan louhan.
"Je, kenapa kamu tidak menikah saja dengan Jerry?" Fela mulai melancarkan aksinya.
"Kamu jangan gila Fe, dia sudah punya Dara yang sempurna ... lagian aku hanya sahabatnya, aku bukan wanita yang pantas untuk bersanding dengan dia, Fe ...." ucap Jessica dengan ekspresi wajah yang mulai berubah.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan semua itu, Je? aku tahu kamu pasti menyimpan rasa untuk Jerry, kan?" pertanyaan Fela berhasil membuat Jessica memicingkan matanya.
"Hey Ibu Bhayangkari! kamu jangan sok tahu!" sarkas Jessica dengan wajah melengos.
Fela semakin heran melihat wanita di hadapannya ini, ia heran saja bagaimana bisa ia menyembunyikan perasaannya terhadap Jerry selama ini.
"Jangan membohongi perasaanmu sendiri, Je ..." ucap Fela seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa sih kalian berdua sulit untuk mengungkapkan cinta yang ada di hati kalian?" wajah serius terlukis jelas di wajah manis Fela.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Fe?" Jessica semakin penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh Fela.
Fela menepuk jidatnya karena ketidakpekaan Jessica, ia benar-benar gemas dibuatnya. Bagaimana bisa Jessica tidak mengetahui apa isi hati Jerry selama ini. Oh, sungguh ... Fela semakin pening di buatnya.
"Je, kau ini bo-doh atau bagaimana sih!!" sungut Fela dengan wajah yang tertekuk.
"Sudahlah Fe! jangan belibet! katakan saja!" Jeje pun semakin penasaran dengan Fela.
Fela menatap manik hitam Jessica dengan intens, ia ingin tahu apakah tebakannya selama ini benar, "Kamu mencintai Jerry 'kan?" tanya Fela dengan serius.
Jessica memutar bola matanya, mendadak ia menjadi ragu untuk menjawab pertanyaan dari Fela, bola matanya pun berputar ke segala arah karena tak kuasa untuk menatap manik hitam milik Fela.
Suasana menjadi sunyi sepi, Fela masih menunggu jawaban yang terucap dari bibir Jessica, meski ia sendiri sudah tau apa jawabannya, namun Fela ingin mendengar langsung jawaban yang keluar dari bibir Jessica.
"Jawablah pertanyaanku, Je!" Fela akhirnya memaksa Jessica agar jujur kepadanya. Ia lelah harus menyembunyikan semua ini dari Jessica.
"Bukannya kamu sudah tau jawabannya, Fel?" Jeje bertanya balik kepada Fela karena ia yakin Fela sudah bisa menerkanya.
Senyum penuh kemenangan terbit dari bibir tipis Fela ketika mendengar pertanyaan Jessica, ia mengatur posisi duduknya sebelum membuka rahasia yang selama ini disimpannya.
"Baiklah, mungkin sekarang sudah saatnya kamu mengetahui sebuah rahasia kalau sebenarnya Jerry ...."
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โฅ๏ธ๐
Maap ye upnya sedikit, othor masih sibuk menjadi seksi konsumsi๐คฆ๐คฃ
_
_
__ADS_1
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท