Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Kami akan segera menikah!


__ADS_3

"Aww!" pekik Siva ketika merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Siva mulai membuka kelopak matanya ketika cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya. Tirai biru yang di biarkan terbuka membuat sinar sang surya menerobos tanpa permisi.


Sekali lagi, Siva harus meringis karena merasakan perih di ujung bibirnya, ia menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang sebelum beranjak menuju kamar mandi.


"Mas Fery ... bangun Mas!" ucap Siva tanpa menatap sang pemilik nama yang masih terlelap.


Berkali-kali Siva menepuk bahu sang suami, tidak ada jawaban yang ia dapatkan, akhirnya Siva mengalihkan pandangan ke arah Fery, hal itu membuat kedua mata Siva melebar seketika.


"Mas Fery kenapa ya?" gumam Siva dengan wajah panik ketika melihat wajah suaminya yang tak beraturan. luka lebam hampir rata di seluruh wajahnya.


Siva terus membangunkan Fery, ia sangat khawatir melihat keadaan suaminya. Rasa penasaran kian melanda hati dan pikirannya karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semalam Fery hanya pamit keluar sebentar, nyatanya pagi ini Siva mendapati wajah suaminya yang babak belur.


"Ada apa, Sayang?" suara berat Fery terdengar disana dengan mata yang tertutup.


"Kenapa keadaanmu seperti ini, Mas?" tanya Siva dengan tangan yang terarah ke rahang Fery yang berwarna ungu.


Akhirnya, dengan berat hati ... Jerry menceritakan kejadian yang menimpanya. Ia pun menceritakan apa saja yang di ucapkan oleh Jerry tentang identitas Fano yang sesungguhnya, hal itu membuat mata Fery mulai berembun.


"Jadi ... Mas Fery tadi malam di hajar Jerry. Aku tidak menyangka jika pasangan itu berhasil membuat wajahku dan Mas Fery babak belur di hari yang sama. Kurang ajar!" batin Siva dengan kedua tangan yang mencengkram selimut tebal yang menutupi sebagian kakinya.


Suasana kamar itu mendadak hening, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Fery tak dapat lagi memikirkan hal lain selain Fano saat ini. Ia benar-benar menyesal karena dulu tidak mempercayai pengakuan Jessica.


Rasa sesal memang hadir di akhir, hal itu terjadi pada sosok pria yang sedang membelakangi istrinya saat ini. Rasanya, ingin sekali ia memeluk tubuh kecil yang dilihatnya kemarin siang di rumah Jessica.


"Aku harus mencari cara agar Caca mengizinkan aku bertemu dengan Fano," batin Fery.


...🌹🌹🌹🌹...


Dua porsi roti bakar telah tersaji di atas meja yang ada di ruang makan. Tak lama setelah itu, Jeje dan Fano duduk di kursi masing-masing untuk menikmati sarapan. Suasana di dalam ruang makan itu terasa sunyi, tak seperti biasanya.


"Fano mau nambah roti bakar?" tanya Jeje ketika melihat Fano mengangkat susu coklat favoritnya.

__ADS_1


"Tidak Ma, Fano sudah kenyang," ucap Fano seraya meletakkan gelas susu yang kosong.


Sarapan telah usai. Kini Jessica melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, dimana Fano sedang menikmati acara kartun favoritnya.


"Fano ... Mama mau kerja dulu ya, Fano mau ikut atau di rumah saja?" tanya Jeje sebelum berangkat ke butik.


"Fano di rumah saja, nanti di butik di godain sama Miss Rima, Fano takut sama dia Ma," ucap Fano dengan bibir yang mengerucut setelah itu.


Jeje tergelak mendengar penuturan sang putra, ia mengusap rambut Fano dengan penuh kasih sayang, tak lupa ia mendaratkan beberapa kali kecupan di puncak kepala Fano sebelum berangkat bekerja.


"Lila, jangan biarkan Fano keluar dari rumah, jangan menerima tamu siapapun itu ketika tidak ada saya di Rumah. Tolong beri tahu yang lain." tentu saja yang di maksud Jessica adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.


***


Tiga puluh menit telah berlalu, Jessica menghentikan mobil merahnya tepat di depan butik. Sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk Jessica datang ke butik. Namun, ada beberapa hal yang harus ia selesaikan hari ini.


Jessica terkesiap ketika merasakan tepukan di bahunya ketika ia membuka kunci pintu butiknya. Perlahan Jessica membalikkan tubuhnya untuk memastikan siapa yang ada di belakangnya.


"A--ada apa?" tiba-tiba Jessica menjadi gugup ketika menatap manik hitam yang sedang menatapnya sendu.


"Aku merindukanmu, Je ...." lirih Ezar dengan kedua tangan yang berada di atas bahu Jessica.


Tanpa di duga, Ezar menarik tubuh Jessica kedalam dekapannya. Ia semakin mengeratkan dekapannya ketika Jessica berusaha melepaskan diri.


"Tolong biarkan kita seperti ini sebentar saja, Je ... aku sangat merindukanmu," ucap Ezar penuh harap.


Jessica terus berusaha keluar dari dekapan hangat pria bertubuh jangkung itu, ia tidak mau lagi memberikan harapan yang semakin melukai hati Ezar.


"Tolong lepaskan aku, Zar! jangan seperti ini, aku mohon," lirih Jessica.


Mendengar permohonan Jessica, berhasil membuat Ezar melepaskan dekapannya. "Aku tidak bisa melupakanmu, Je ..." ucap Ezar ketika kedua tangannya menangkup pipi mulus Jessica.


"Lepaskan tanganmu dari pipi itu, Tuan Ezar!" tiba-tiba terdengar suara bariton di belakang tubuh Ezar.

__ADS_1


Jessica membelalakkan matanya ketika melihat kehadiran Jerry disana. Begitu pun dengar Ezar, ia segera melepaskan tangannya ketika melihat kehadiran Jerry disana.


"Aku hanya ingin melepas rindu dengan Jeje, tolong berikan aku waktu sebentar saja," Ezar menghiba kepada Jerry.


Jerry memposisikan diri di hadapan Ezar dengan tangan yang menggenggam erat tangan wanita yang ada di belakangnya.


"Anda tidak bisa menemuinya lagi, Tuan Ezar!" ucap Jerry dengan penuh penekanan.


"Kenapa?" Ezar mengernyitkan keningnya.


"Karena sekarang Jessica adalah milikku, kami akan segera menikah," sebuah pengakuan Jerry yang membuat Jessica dan Ezar terkejut bukan main.


Sakit. Entah mengapa, Ezar merasakan sakit di hatinya ketika mendengar pengakuan Jerry. Ada perasaan tidak rela yang menyelinap di dalam hatinya.


"Aku tidak percaya," ucap Ezar dengan ekspresi datarnya.


"Silahkan tidak percaya, tunggu saja undangan dari kami," ucap Jerry sebelum menarik tangan Jessica masuk ke dalam butik yang masih sepi.


Ezar mematung di depan butik yang belum terbuka sempurna. Ia masih mencerna apa yang baru saja di dengarnya. Patah hati, itulah yang dirasakan Ezar saat ini. Mungkin setelah ini ia harus berusaha keras melupakan wanita penuh pesona yang pernah mengisi hari-hari nya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍β™₯️


Maap ya up nya dikit banget dan gak ada adegan uwuuπŸ™ mohon di maklumi ya kalau hari minggu othor suka oleng😌😌😌😌


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2