
Siluet jingga terlukis indah di cakrawala barat untuk menemani sang surya yang bersiap pulang ke singgasananya. Kicauan burung saling bersahutan, memanggil kawannya agar segera kembali ke sarang.
Sore ini, Jessica duduk di antara pusara kedua orangtuanya. Ia menatap batu nisan yang bertuliskan nama Papa dan Mamanya secara bergantian.
Setelah membaca rangkaian doa yang ada di dalam sebuah buku panduan doa, Jessica berdiam diri disana, ia tak memperdulikan Jerry yang sejak tadi ada di belakangnya.
"Ma, Pa ... Jeje sebentar lagi akan menikah. Jeje mohon restu Mama dan Papa. Jeje sangat berharap Mama dan Papa tenang disana, karena Jeje sudah menemukan pria yang bisa menjaga Jeje dan Fano, cucu Mama dan Papa."
"Ma, Pa ... Jeje minta maaf karena sempat menjadi orang jahat. Jeje tahu kalian pasti sedih ketika Jeje melakukan kesalahan besar dengan masuk ke rumah tangga orang lain. Jeje sangat takut Tuhan menghukum Mama dan Papa karena kesalahan yang Jeje lakukan. Sekali lagi Jeje minta maaf Ma, Pa atas semua kesalahan Jeje. Semoga Papa dan Mama selalu berada di surga."
Setetes bulir bening lolos dari pelupuk mata Jessica, ia tak bisa lagi membendung semua rasa rindu kepada kedua orangtuanya. Kerinduan yang paling menyiksa adalah kerinduan kepada mereka yang tak ada lagi di Dunia ini, berada di tempat ternyaman yang ada di sisi Tuhan.
"Je, ayo kita pulang ... sebentar lagi malam akan tiba," ucap Jerry sambil menepuk bahu Jessica.
Jeje menengadahkan kepalanya untuk menatap pria yang menemaninya sore ini. Pria yang mempunyai cinta tulus dan kasih sayang kepadanya.
"Maaf, karena terlalu lama disini, kita tidak bisa ke makam Daddy," ucap Jessica seraya beranjak dari tempatnya.
"Kita bisa ke makam Daddy lain waktu," ucap Jerry dengan santai.
Akhirnya mereka berdua pergi dari makam yang mulai gelap ini, membuat Jessica bergidik mengeri membayangkan hal-hal mistis yang biasa terjadi di area makam.
...🌹🌹🌹🌹...
Langit biru telah berubah menjadi gelap, gemerlap bintang mulai menghiasi langit yang membentang luas. Jerry baru saja menghentikan mobilnya di halaman rumah Jessics setelah hampir tiga puluh menit berada di jalanan ibukota.
"Bagaimana kalau kamu makan malam dulu disini?" tanya Jessica sebelum ia keluar dari mobil.
"Boleh, asal kamu yang masak sendiri, aku ingin steak buatanmu," ucap Jerry dengan diiringi senyum tipis.
"Dengan senang hati, calon suamiku," ucap Jessics seraya membuka pintu mobil.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Jessica terus berjalan ke dapur sementara Jerry naik ke lantai dua untuk menemui Fano di kamar.
Hampir tiga puluh menit Jessica berada di dapur, kini berbagai menu makanan tertata rapi di atas meja makan. Senyum Jessica mengembang begitu saja ketika melihat Jerry dan Fano sudah berada di ruang makan tanpa ia berteriak seperti biasanya.
"Hmmm aroma nya begitu menggoda," ucap Jerry ketika indera penciumannya merasakan aroma steak yang tersaji di piringnya.
"Ya iya lah, Chef Jessica adalah Chef profesional di Rumah ini," kelakar Jessica seraya duduk di kursi yang ada di samping Jerry.
Akhirnya mereka bertiga menikmati makan malam dalam keheningan, tidak ada yang bicara sedikitpun ketika makan seperti saat ini.
"Papa ... Fano mau ke kamar lagi ya, robotnya Fano kasian nanti, karena tidur sendiri di kamar," ucap Fano sebelum meninggalkan ruang makan.
Jessica hanya menggelengkan kepalanya setelah Fano berlalu dari ruang makan, Begitu pun dengan Jerry, ia menjadi gemas ketika melihat Fano yang semakin hari semakin lucu saja.
"Jer, jangan lupa besok ke butik. Aku sudah menyelesaikan baju pengantin kita," ucap Jessica sambil meraih jeruk yang tersaji di hadapannya.
"Oke, kalau begitu besok sekalian kita ke Rumah sakit, Je ... aku harus memastikan kondisi mu benar-benar pulih sebelum kita menikah," ucap Jerry sambil menatap Jessica sedang nyengir karena rasa asam dari jeruk yang baru saja di kupasnya.
Pernikahan Jeje dan Jerry kurang satu bulan lagi, semua persiapan hampir tujuh puluh persen telah selesai dilakukan. Jerry mempercayakan urusan pesta dan segala pernak-pernik pernikahan ke Vendor terpercaya dan terkenal di Indonesia sedangkan untuk gaun pengantin, Jessica sengaja mendesainnya sendiri agar sesuai dengan yang diinginkan.
Pesta megah akan di gelar Jerry di salah satu hotel mewah yang ada di Jakarta selatan karena semua kolega bisnis di dalam maupun di luar negeri telah di undang Jerry.
Satu minggu lagi Bu Monik akan pulang dari Bali untuk melakukan persiapan di kediamannya, sedangkan Anne dan suaminya akan menyusul satu minggu sebelum akad nikah dan resepsi di gelar.
Jessica sendiri bingung harus mengundang siapa selain karyawan butik dan salonnya. Ia tak memiliki kerabat di Jakarta, hanya ada beberapa kerabat dari sang Papa yang ada di Surabaya, hubungan mereka pun sudah renggang.
Sebenarnya, Jessica sempat merasakan minder karena namanya sempat viral di sosial media. Banyak netizen yang memburu sosial medianya untuk mencari tahu siapa dirinya.
Akun sosial media milik Jessica terpaksa harus di tutup sementara waktu untuk melindungi privasinya. Jerry membayar seseorang untuk menutup semua sosial media Jessica dari pemburu berita dunia bisnis.
Jerry sendiri pernah datang ke kediaman Seno, mantan kekasih Jessica sebelum Ezar. Ia terpaksa menemui Seno di rumahnya karena istri Seno sempat membuka masa lalu Jessica di sosial media miliknya, membuat Jerry geram dan marah besar.
__ADS_1
Ternyata Jerryan Wongso menikahi Mantan Pelakor.
Itulah salah satu berita online yang sempat membuat Jerry meradang. Tapi semua itu tak bertahan lama karena Jerry berhasil menutup berita itu, sekali lagi dia membayar seseorang yang ahli dalam hal ini.
Mendekati hari pernikahannya, perlahan nama Jerry dan Jessica hilang dari berita-berita online. Tak ada lagi yang berani menyinggung nama Jessica dan Jerry. Mungkin pemburu berita masih berdiam diri sambil menunggu pesta pernikahan Jerry.
Waktu terus berlalu, Jerry segera pamit dari rumah Jessica setelah Fano terlelap dalam pelukan hangat darinya. Kini mereka berdua berdiri di teras rumah dengan posisi berhadapan.
"Sebenarnya aku ingin menginap disini, tapi aku takut di grebek pak RT," kelakar Jerry sambil membelai rambut hitam Jessica.
"Ternyata kamu seorang pengecut," cibir Jessica dengan diiringi decakan.
Jerry tersenyum simpul melihat ekspresi Jessica. Tanpa sebuah komando, kini bibirnya mendarat sempurna di bibir merah Jessica. Senam lidah pun terjadi di teras rumah itu.
"Aku pulang dulu, Sayang," ucap Jerry setelah bibirnya terlepas dari bibir Jessica.
"Hati-hati ya ... jangan ngebut!" ucap Jessica sambil membelai rahang Jerry dengan gerakan lembut.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
jangan lupa besok datang ke acara pernikahan mereka yaaa😂
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1