
"Mas ...."
Fery membuka matanya ketika mendengar suara sang istri menggema di kamar. Fery pun mulai duduk bersandar di headboard ranjang sambil menatap wajah sang istri yang menyiratkan sebuah keresahan.
"Ada apa?" tanya Fery dengan lirih.
Siva mendaratkan tubuhnya di samping Fery. Ia menatap wajah tak bersahabat sang suami, "apa mas tahu siapa pemilik lingeri ini?" Siva menyodorkan lingeri hitam itu kepada Fery.
Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga. Ya, mungkin itu lah perumpamaan yang cocok untuk Fery saat ini. Sesuatu yang pernah ia sembunyikan akhirnya di ketahui sang istri.
"Asti sering melihat Mas Fery setiap malam masuk kamar tamu? apa yang Mas lakukan di sana? apa lingeri ini ada hubungannya denganmu?" cecar Siva dengan suara yang bergetar.
Fery terkesiap ketika mendengar pertanyaan sang istri. Ia memutar bola matanya untuk mencari alasan yang tepat agar Siva tidak curiga, tapi isi kepalanya tidak bisa di ajak kompromi saat ini, ia tidak menemukan jawaban apapun sampai Siva melontarkan pertanyaan lagi.
"Ini milik siapa? jawab Mas!" Mata Siva mulai berembun ketika melihat kebungkaman Fery. Ia sudah bisa menebak jika Fery yang menyimpan lingeri itu.
"Jessica." Fery menundukkan kepalanya, ia takut untuk menatap Siva.
Siva terhenyak dari tempatnya, rasanya ia ingin menghajar pria yang ada di sampingnya itu. Bagaimana bisa Fery masih menyimpan lingeri mantan istrinya.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu menyimpan lingeri ini? apa yang kamu lakukan di kamar tamu dengan lingeri ini?" Cecar Siva dengan suara yang keras, kemarahan besar mulai menguasai jiwanya.
Fery menegakkan kepalnya, ia menatap dalam manik hitam sang istri yang memancarkan silau kemarahan. Beberapa detik kemudian ia menceritakan bagaimana ia mendapatkan lingeri itu dan apa saja yang ia lakukan di kamar tamu.
"Keterlaluan!" teriak Siva sambil melempar lingeri itu ke wajah Fery.
"Apa kamu sudah gila hah sampai kamu menjadikan Jessica sebagai fantasi liarmu?! apa aku kurang memuaskan hah?" hanya emosi yang kini menguasai hati dan pikiran Siva.
"Sudahlah jangan berteriak! kamu ingin anak-anak mendengar pertengkaran kita?" Fery berdiri dari ranjang. Ia berjalan menuju jendela besar yang ada di sisi lain kamarnya.
Siva benar-benar kecewa melihat tingkah gila yang di lakukan oleh Fery. Ia sudah melakukan semua yang di inginkan Fery di atas ranjang. Tapi sepertinya semua yang ia lakukan seakan sia-sia setelah tau perbuatan Fery saat ini.
"Ingin apa? kamu ingin meninggalkanku? kamu tidak ingin menjalani hari-hari susah denganku hmm? kamu ingin menjadikan Jessica sebagai alasan untuk pergi dariku?" emosi Fery mulai tersulut karena terus di cecar Siva.
"Jangan mimpi Siva!! sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkanmu! aku tidak pernah berhubungan dengan wanita lain! aku tau yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan besar, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya denganku!" Fery menatap Siva dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan.
"Apa yang kamu rasakan tidak sebanding dengan yang pernah di rasakan Jessica karena perbuatan kita berdua! apa kamu tidak ingat bagaimana kita mengusir Jessica dari rumahnya? apa pernah kamu memikirkan bagaimana perasaan Jessica saat kita terang-terangan selingkuh di depannya?" Fery kembali mengingatkan semua yang terjadi di masa lalu.
"Jangan berlebihan! aku tidak melakukan apapun bersama wanita lain! anggap saja semua yang terjadi adalah hukuman untuk kita!" ucap Fery sebelum meninggalkan Siva sendirian di kamar.
__ADS_1
Tubuh Siva luruh begitu saja di lantai kamar. Ia tergugu di sana sambil memikirkan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Fery, semua yang di katakan Fery adalah benar adanya. Mungkin saat ini ia sedang merasakan sebagian kecil penderitaan yang di rasakan Jessica dulu.
"Ya Tuhan ... mungkinkah ini yang di rasakan Jessica dulu? rasanya sakit sekali ketika tahu Mas Fery masih membayangkan tubuh Jessica," gumam Siva dengan kepala yang tertunduk.
Siva benar-benar terpuruk saat ini. Satu persatu masalah mulai datang menerpa rumah tangganya. Da-danya terasa sesak karena harus menanggung semua beban ini seorang diri. Tak ada lagi sosok ibu yang bisa memberikannya solusi ketika menghadapi masalah seperti ini.
"Hanya melihat lingeri wanita lain di genggaman suamiku saja rasanya seperti ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Jessica dulu. Hamil tanpa suami dan harta ...." gumam Siva dengan air mata yang terus menetes.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β₯οΈπ
Nih dah aku up tiga bab hari iniπ beri mbak Jess setangkai mawar atau segelas kopi agar makin semangat upπ
_
_
__ADS_1
π·π·π·π·π·π·