Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Yes, I Will ...


__ADS_3

Hawa sejuk khas pegunungan telah menyapa empat orang yang baru saja menginjakkan kakinya di salah satu destinasi yang ada di daerah Cihampelas, Bandung Barat. Pemandangan alam yang di suguhkan membuat Jessica mengulas senyumnya.


"Maha karya yang indah," gumam Jessica dengan pandangan yang terus menyapu panorama menakjubkan di depannya.


Jessica merentangkan kedua tangannya, seakan ia tengah menyambut hawa dingin yang masih terasa disana. Selama ini, ia tak pernah merasakan rasa sejuk seperti ini di Jakarta, tak ada ketenangan, keasrian dan pemandangan yang bisa membuat jiwa lelahnya terobati dengan keindahan alam.


"Kamu suka?" tiba-tiba terdengar suara Jerry di ceruk lehernya. Jessica menikmati pelukan hangat yang di berikan oleh Jerry saat ini.


"Hmmm ...." Jessica bergumam dengan kedua tangan yang berpindah ke perut untuk bertumpu dengan tangan Jerry yang ada disana.


Keduanya menikmati pemandangan yang ada disana, mereka seakan lupa ada sosok kecil yang sedang mengerucutkan bibirnya karena merasa di acuhkan oleh orangtuanya.


"Kak Lila, kenapa Mama di peluk sama Papa? kenapa bukan Fano yang di peluk Papa?" tanya Fano dengan polosnya kepada Lila.


Tentu saja hal itu membuat Lila kelabakan untuk mencari jawaban yang tepat. Ia memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri sambil merangkai kalimat yang bisa di mengerti oleh Fano.


"Emm ... mungkin Mama takut berada di Gunung, jadi Papa harus meluk Mama biar gak jatuh kesana," ucap Lila sambil menunjuk hamparan luas yang jauh dari tempatnya.


"Kalau takut kenapa harus ke Gunung, Kak?" Lila semakin pening ketika mendapat pertanyaan lagi dari Fano.


Fano mendengus kesal karena tak mendapat jawaban dari Lila. Akhirnya, ia memutuskan untuk menghampiri kedua orangtuanya yang asyik berduaan.


"Papa!!" teriak Fano ketika sampai di belakang Jerry.


Jerry pun melepaskan tangannya dari pinggang ramping Jessica. Ia benar-benar lupa jika ada Fano yang menyaksikan dirinya dan Jessica.


"Fano!!" seru Jerry seraya menghampiri bocah kecil dengan wajah tampan yang tertekuk itu.


Sekuat tenaga Jerry menahan tawanya ketika mendapat protes dari Fano karena mengabaikannya. Ia sangat gemas melihat Fano yang posesif.


Waktu terus berlalu begitu saja, Mereka berempat telah selesai menikmati sekeliling wisata yang ada disana. Tak ada pengunjung lain yang terlihat karena diam-diam Jerry telah menyewa tempat wisata itu selama seharian ini, tentu saja semua itu tanpa sepengetahuan Jessica.


"Fano sama kak Lila dulu ya, Nak. Papa mau naik paralayang sama Mama." ucap Jerry sambil menunjuk parasut yang sudah di siapkan di dekat tebing.


"Memang Papa bisa?" tanya Fano.

__ADS_1


"Tentu saja. Maka dari itu, Fano sama Kak Lila ya, nanti Fano liat Papa dan Mama naik paralayangnya," ucap Jerry yang di jawab dengan sebuah anggukan dari Fano.


Jerry memberikan kode kepada Lila agar membawa Fano ke tempat yang sudah di siapkan oleh Jerry.


"Bersiaplah, Je. Ganti bajumu dengan ini." Jerry menyerahkan jersey atau flight suit yang biasa di pakai atlet paralayang. Ia sendiri sedang bersiap saat ini sebelum melakukan olahraga yang menguji adrenalin nya.


"Semoga saja semua ini berjalan sesuai rencana," lirih Jerry sambil memakai helm khusus untuk paralayang di kepalanya, tak lupa ia memakai jaket untuk melindungi diri dari angin yang berhembus kencang.


Beberapa menit kemudian, Jessica telah kembali ke tempat Jerry berada. Lekuk tubuhnya semakin terlihat menggoda di mata Jerry ketika Jersey berwarna putih itu membalut bagian atas tubuh Jessica.


"Kamu yakin naik paralayang tanpa di dampingi atletnya?" Jessica masih ragu jika Jerry bisa menggunakan parasut ini.


"Mari kita coba setelah ini. Jangan meragukan kemampuanku, Nona!" ucap Jerry seraya membantu Jessica memakai safety pada tubuhnya.


"Dulu saat kuliah aku sering melakukan olahraga ini di akhir pekan," imbuh Jerry untuk meyakinkan Jessica.


Jantung Jessica semakin berdebar tatkala persiapan telah selesai dilakukan. Pemandu paralayang pun ikut membantu sebelum tubuh mereka berdua melayang di udara. Jessica menyimak intruksi yang di berikan oleh atlet paralayang.


Jerry akan menjadi pilot untuk Jessica, kegiatan ini biasa disebut dengan tandem paralayang dengan posisi sang Pilot yang duduk di harness (sabuk). Kemampuan Jerry melakukan olahraga ini tidak di ragukan lagi, ia begitu mahir melakukan olahraga jenis layang gantung ini.


"Jangan khawatir, Je." Jerry memposisikan go pro yang sengaja di bawanya untuk merekam kegiatan mereka hari ini.


Keduanya siap terbang dengan paralayang dan mereka sudah mengambil ancang-ancang untuk lepas landas, lalu di hitungan ketiga mereka berhasil terbang di udara dingin yang membuat tubuh meremang.


"Aaaaaaaaaaa ...." teriak Jessica ketika tubuhnya melayang di udara.


Teriakan Jessica terus terdengar di udara ketika merasakan sensasi yang baru dalam hidupnya. Selama ini ia sangat takut untuk mencoba kegiatan paralayang ini.


"Kamu suka, Je?" tanya Jerry


"Iya, rasanya aku gak ingin turun dari sini!" teriak Jessica.


Rona bahagia terpancar dari wajah Jessica, apalagi ketika Jerry menunjukkan sebuah pemandangan yang sangat indah jika dilihat dari udara. Sesaat Jessica mengalihkan pandangannya ketika Jerry menunjuk sebuah tanah lapang dengan beberapa orang yang ada disana.


"Lihatlah, Je!" perintah Jerry ketika pasukan merah itu memposisikan diri membentuk sebuah kalimat yang membuat Jessica membelalakkan mata indahnya.

__ADS_1


Will you Mary me, Je?


Entah berapa puluh orang yang telah disiapkan Jerry sebagai kejutan untuk Jessica. Semua ini telah di rancangnya dari dulu, jauh sebelum Jessica mengetahui perasaannya.


"Jawablah, Je. Fokuskan pandanganmu ke arah kamera yang ada di drone itu," ucap Jerry seraya menunjuk drone yang tak jauh dari hadapannya.


Jessica terharu dengan lamaran romantis yang telah di siapkan oleh Jerry. Air mata bahagia pun perlahan turun membasahi pipinya karena perasaan yang bercampur aduk dalam hati.


"Will you marry me, Je?" tanya Jerry sekali lagi.


"Yes I will ...." teriak Jessica tanpa rasa ragu. Suaranya menggema di udara, bersahutan dengan suara angin yang semakin kencang.


Jerry mulai mengambil ancang-ancang untuk mendarat di tanah lapang yang ada di depan Vila yang sudah ia siapkan untuk berkumpul dengan keluarga besarnya. Semua rencana ini telah ia susun matang dan tentu saja, Dani lah yang mengatur semua rangkaian acara hari ini.


Beberapa menit kemudian, Jeje dan Jerry berhasil mendarat dengan selamat. Jerry membantu Jessica melepas semua safety yang melekat di tubuhnya. Air mata Jessica seakan tak ada habisnya karena kebahagiaan yang ia dapat hari ini.


"Terima kasih atas semua yang kamu berikan hari ini, Jer," ucap Jessica seraya menghambur ke dalam pelukan Jerry.


"Ini hanya awal, Sayang. Setelah ini akan ada kejutan lagi untukmu," ucap Jerry setelah mengurai tubuh Jessica.


Jessica menaikkan satu alisnya ketika mendengar ucapan Jerry. Ia semakin penasaran di buatnya, tanpa banyak bicara Jerry menuntun Jessica untuk mengikuti langkahnya menuju Vila yang tak jauh dari landasan parayalang.


"Ya Tuhan ...." Jessica menghentikan langkahnya ketika melihat sesuatu yang ada di area Vila.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Hmmm kira-kira ada apa ya? apa ada Ezar, Fery atau monster lain?? hayo coba tebak apa yang di lihat Jessica🤣


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2