
Sepeninggalan Jessica, dokter mulai memeriksa kondisi Bu Lidya. Tim medis merasa heran karena Bu Lidya akhirnya sadar dari tidur panjangnya. Tapi beberapa detik kemudian dokter bernama Irawan itu tiba-tiba mengernyitkan keningnya ketika merasakan denyut nadi Bu Lidya yang melemah.
"Suster, segera ambil defibrillator!" ucap dokter Irawan setelah melepas steteskop yang baru saja di pakai untuk memeriksa detak jantung Bu Lidya.
"Dok, apa yang terjadi?" tanya Ezar ketika melihat ekspresi dokter Irawan yang berubah.
Tangis Bella pun pecah tatkala melihat manik hitam Bu Lidya bergerak ke atas dengan cepat. Nafas Bu Lidya pun sudah tersengal-sengal dan beberapa detik kemudian kelopak mata Bu Lidya perlahan tertutup.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun," ucap dokter Irawan seraya menutup kelopak mata Bu Lidya dengan sempurna.
"Mama ...." teriak Bella sambil memeluk tubuh Bu Lidya yang sudah tak bernyawa. Ia tergugu di atas tubuh Bu Lidya, tangisnya terdengar pilu.
Ezar semakin bingung menghadapi situasi ini. Alana ikut menangis ketika melihat Bella tergugu sambil memeluk tubuh Bu lidya.
Suster yang mengambil defibrillator pun baru saja datang dengan membawa troly yang berisi alat pe-ra-ngsang detak jantung itu.
Brakk!! Suara pintu yang di buka Siva dengan keras. Ia tercengang ketika melihat semua orang yang ada di dalam ruangan Bu Lidya.
"Mama!!" teriak Siva sambil berlari ke tempat Bu Lidya berada. Ia pun sama seperti Bella, tergugu di samping tubuh Bu Lidya.
Fery berjalan ke tempat istrinya berada. Ia menenangkan sang istri agar mengikhlaskan kepergian Bu Lidya. Semua manusia pasti akan sampai pada tujuan akhir, yaitu kembali kepada sang pencipta.
Bu Lidya telah kembali kepada sang pencipta dengan mudah. Semua keinginannya sebelum meninggalkan dunia ini telah terkabul beberapa puluh menit yang lalu. Bertemu Jessica adalah permintaan terakhir Bu Lidya.
...🌹🌹🌹🌹...
Pagi telah datang untuk menyapa semua insan yang baru saja merasakan gelapnya malam. Semua kembali ke rutinitas pagi seperti biasanya, menyambut sang mentari dengan perasaan yang ada di dalam jiwa.
Duka mendalam tengah di rasakan keluarga Aruna setelah tadi malam melewati malam panjang yang menguras air mata. Mobil ambulance telah siap di halaman luas rumah bergaya eropa itu, sang pemilik pun sudah siap untuk mengantar sang mertua ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Pagi ini Jenazah Bu Lidya akan di makamkan di salah satu makam yang ada di Jakarta Selatan, bersebelahan dengan makam sang suami yang sudah lama menghadap sang pencipta.
Jessica pun hadir disana dengan balutan pakaian serba hitam dan kerudung hitam yang tersampir di kepala untuk menutupi rambut hitamnya. Kaca mata hitam pun menjadi pelindung sorot matanya.
Jessica hadir seorang diri karena tadi malam selepas menjenguk Bu Lidya, Jerry berangkat ke Kalimantan untuk melihat kondisi tambang batu bara nya yang mengalami gangguan.
"Segera pulang jika sudah selesai dan jangan dekat-dekat dengan Fery apalagi Ezar!"
__ADS_1
Ya, itulah pesan dari Jerry ketika Jessica meminta izin untuk datang ke rumah Ezar untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Bu Lidya. Meski sempat murka kepada nama yang sudah di tinggalkan pemiliknya itu, sebagai manusia yang memiliki perasaan, ia harus datang dan ikut ke pemakaman Bu Lidya.
Jessica sangat bersyukur karena Jerry sudah menyelamatkannya dari rasa penyesalan yang besar. Ia sudah saling memaafkan dengan Bu Lidya tepat sebelum wanita paruh baya itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Sirine ambulance pun mulai menggema di halaman rumah itu, semuanya bersiap masuk ke dalam mobil untuk mengiringi keberangkatan Bu Lidya menuju rumah terakhirnya.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya mereka semua sampai di tempat pemakaman Bu Lidya.
"Mama ...."
"Mama ...."
Tangis Pilu Bella dan Siva mengiringi proses pemakaman Bu Lidya. Kakak beradik itu saling memeluk untuk menguatkan diri karena kepergian sang Mama. Jessica ikut menitikkan air mata ketika melihat pemandangan itu, ia pun teringat kepada kedua orangtuanya yang sudah bahagia di surga.
Seusai pembacaan doa, semua kerabat dan orang-orang terdekat keluarga Aruna satu persatu meninggalkan area makam, menyisakan anak dan menantu Bu Lidya di sana.
Jessica masih mematung di tempatnya saat ini, ia agak menjauh dari makam Bu Lidya, ia sengaja menghindar dari Fery atau pun Ezar sesuai dengan pesan dari Jerry.
Beberapa menit kemudian, Jessica perlahan mengayun kaki menuju makam Bu Lidya setelah dua pasang suami istri itu meninggalkan makam Bu Lidya.
"Bu Lidya ... semoga ibu beristirahat tenang di sisi Tuhan. Saya harap Ibu memaafkan semua sikap buruk yang pernah membuat Ibu terluka," ucap Jessica dengan lirih. Ia menundukkan kepala nya untuk membacakan doa untuk Bu Lidya.
"Apa yang kamu lakukan di sini seorang diri?" tiba-tiba terdengar suara pria yang familiar di indera pendengaran Jessica, hal itu membuat Jessica terkejut bukan main. Ia tersentak seraya membalikkan tubuhnya.
"A-aku ... aku ....." Jessica terbata karena takut dengan pria yang ada di hadapannya. Ia takut karena melihat tatapan aneh yang terpancar dari sorot mata Fery.
Jessica melangkahkan kakinya mundur, ia harus menghindar dari Fery sebelum masalah besar akan menerpa rumah tangganya. Ia takut Jerry akan marah jika dirinya ketahuan ngobrol berdua dengan Fery.
"Hey, mau kemana? kamu tidak ingin berbicara sebentar dengan mantan suami mu ini?" tanya Fery seraya mencekal lengan Jessica.
"Lepaskan aku!! atau aku akan berteriak!!" Jessica mencoba mengancam Fery.
"Tenanglah, aku bukan orang jahat." Fery menyeringai di hadapan Jessica.
Keadaan kembali hening, keduanya tak ada yang mengeluarkan suara. Jessica hanya diam sambil memikirkan sebuah cara agar bisa lolos dari cengkraman Fery.
Fery menatap Jessica bagai seekor singa yang ingin menerkam mangsanya. Aroma parfum yang menjadi ciri khas Jessica sejak dulu membuat pikiran Fery melayang-layang membayangkan hal yang tak karuan.
__ADS_1
"Ihh!!" teriak Jessica sambil menginjak kaki Fery. dengan heels yang di pakainya. Ia segera pergi dari hadapan Fery yang sedang merasakan sakit di kakinya.
Senyum Jessica terbit begitu saja ketika berhasil kabur dari Fery. Namun, langkahnya harus terhenti karena kakinya tersandung akar pohon ringin yang tinggi menjulang.
"Awww!!" Jessica meringis karena merasakan kakinya yang terkena akar.
Jessica mendongakkan kepalanya ketika sebuah uluran tangan ada di hadapannya. Ia melihat Ezar berdiri di hadapannya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Terima kasih," ucap Jessica setelah berdiri di hadapan Ezar. Ia menjadi salah tingkah karena sorot mata yang terpancar dari kedua manik hitam mantan kekasihnya itu.
"Caca ... Ca ... caca!!" teriak Fery.
Rasa takut kembali menyerang Jessica, ia akhirnya berdiri di belakang Ezar untuk berlindung dari Fery, "tolong aku Zar, pria gila itu terus mengejarku! halangi dia, biar aku bisa pergi," ucap Jessica dengan suara yang bergetar.
Ezar masih bungkam, ia masih memikirkan kalimat yang baru saja di ucapkan Jessica. Per sekian detik kemudian, muncullah Fery yang berjalan dengan santainya.
"Pergilah! lewat pintu yang di sebelah barat karena di sebelah timur ada mobil kami," ucap Ezar tanpa menatap Jessica.
Tanpa banyak bicara, Jessica segera lari ke arah pintu yang di sebut oleh Ezar. Kali ini ia harus berterima kasih kepada pria beristri itu karena telah menyelamatkannya dari Fery.
"Kenapa kakak mengejar Jessica?" tanya Ezar tanpa basa-basi ketika Fery berdiri agak jauh darinya.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Fery seraya mengedarkan pandangan untuk mencari Jessica.
"Jangan membuat masalah! di luar Kak Siva dan anak-anak sedang menunggu kak Fery yang tak kunjung kembali," ucap Ezar dengan wajah datarnya.
Fery berlalu begitu saja dari hadapan Ezar. Ia tidak ingin berdebat dengan adik iparnya di tempat ini. Begitu pun dengan Ezar, ia sebenarnya enggan untuk bertanya kepada Fery, meski ia sudah melupakan Jessica tapi ia tidak suka jika Fery mengusik kehidupan damai Jessica.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
wah si fery cari perkara nih🙄
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷