
Tiga hari kemudian ....
Penunjuk waktu berada di angka sembilan pagi. Sang mentari tengah bersemangat menyinari alam semesta, menghangatkan semua makhluk yang ada di kota Jakarta.
Jessica termenung di taman yang ada di halaman rumah, menatap bunga-bunga yang bermekaran dengan indahnya. Pikirannya melayang jauh entah kemana, yang pasti hanya nama Jerry yang saat ini memenuhi isi kepalanya.
Sudah tiga hari ini Jerry bersikap dingin kepada Jessica, tidak ada sentuhan hangat atau sekedar bercengkrama di malam hari. Jessica sebenarnya tidak tahan melihat sikap sang suami yang seperti itu. Namun, ia sendiri bingung harus melakukan apa agar Jerry mau berbicara dengannya.
"Apa mungkin Jerry sudah tau tentang sesuatu yang terjadi di makam Bu Lidya?" gumam Jessica dengan bola mata yang terpaku pada bunga anggrek putih di hadapannya.
"Astaga!" Jessica menepuk keningnya, "Sepertinya aku dalam masalah yang besar karena sudah menyembunyikan sesuatu yang sudah di ketahui Jerry," ucap Jessica seraya bangkit dari bangku panjang yang ada di taman.
Rencana menyembunyikan masalah kecil itu telah gagal. Bukannya tidak mau jujur atau membela dua pria di masa lalu nya, Jessica hanya ingin hidup tenang tanpa ada masalah yang menerpanya. Ia tidak ingin Jerry berurusan dengan mantan suaminya lagi. Hidup tenang bersama keluarga kecilnya adalah impian terbesar Jessica. Hidup tenang tanpa adanya gangguan dari siapapun.
Waktu terus berlalu begitu saja, kini jarum jam yang ada di kamar Jessica menunjukkan pukul sebelas siang. Setelah berkutat di dapur untuk menyiapkan makanan kesukaan Jerry, kini ia sedang merias diri di depan meja riasnya dengan bathrobe putih yang setia menutupi tubuh polosnya.
Siang ini Jessica bertekad untuk mencairkan kebekuan sang suami. Ia harus jujur sebelum semuanya terlambat. Jessica tak perduli jika nanti akan mendapat hukuman dari Jerry, yang penting ia sudah berkata jujur.
Jessica sudah siap dengan segala keperluan yang harus ia bawa ke kantor suaminya. Kali ini ia harus berpikir cerdas agar bisa menyelesaikan proyek merebut hati Jerry hari ini juga.
...🌹🌹🌹...
Semua mata yang ada di Lobby kantor Wongso IND terpaku pada sosok wanita yang baru saja melewati pintu masuk. Senyum indah yang mengembang di wajah wanita itu seakan menghipnotis semua orang yang ada di sana.
"Selamat siang, Bu ...." sapa salah satu Resepsionis kepada Jessica.
"Selamat siang ...." jawab Jessica dengan di iringi senyum manisnya.
Penampilan Jessica kali ini benar-benar terlihat menggoda. Sebuah dress ketat berwarna merah strawberry dengan model dada rendah melekat di tubuh sexy Jessica, menampilkan sedikit belahan da-da yang terlihat begitu indah di mata siapa saja yang melihatnya.
Jessica tak perduli lagi dengan pandangan karyawan suaminya itu, ia terus mengayun langkah menuju lift khusus agar segera sampai di lantai tempat sang suami berkutat dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Apa suami saya di dalam?" tanya Jessica kepada sekretaris Jerry sebelum masuk ke ruangan sang suami.
"Ada Bu, Bapak baru saja selesai rapat," ucap Sekretaris Jerry setelah berdiri dari tempat duduknya.
"Terima kasih," ucap Jessica sebelum berlalu dari hadapan sekretaris Jerry.
Tanpa mengetuk pintu Jessica masuk begitu saja. Ia berdiri di ambang pintu sambil menatap sang suami yang sedang termangu di tempatnya. Jessica mengayun langkahnya setelah menutup pintu, kini ia telah sampai di depan meja kerja Jerry.
"Apa yang membawamu datang ke kantor? kenapa pakaianmu seperti ini?" tanya Jerry dengan ekspresi tidak suka.
Jessica harus menahan tawanya setelah melihat respon sang suami, ia bisa menyimpulkan bahwa saat ini suaminya sedang dalam mode resah setelah melihat penampilannya siang ini.
"Aku datang kemari karena ada sebuah proyek yang harus aku selesaikan!" ucap Jessica dengan tenang, ia sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Jerry dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya.
Jerry mengalihkan pandangannya ke arah lain karena melihat pemandangan indah di hadapannya. Rasanya ia ingin menerkam dua bongkahan yang begitu menantang di hadapannya, apalagi hampir seminggu ini ia tidak pernah bermain-main di bongkahan itu.
"Katakan saja, jangan berbelit-belit!" ucap Jerry tanpa menatap Jessica. Ia bersedekap sambil bersandar di kursi kerjanya.
Tanpa banyak bicara, Jerry pun mengikuti apa yang di inginkan oleh Jessica, ia segera menelfon Dani agar menjalankan perintahnya.
Jessica tersenyum tipis tatkala melihat lampu CCTV sudah mati. Ia segera pindah dari tempatnya menuju tempat Jerry berada, ia pun menyandarkan pinggulnya di tepi meja.
"Apa yang membuatmu bersikap dingin kepadaku?" tanya Jessica sambil menatap Jerry dengan tatapan tajamnya.
"Harusnya kamu sudah tau jawabannya. Bukan kah kamu sudah tau jika aku sangat benci kepada seorang pembohong," ucap Jerry dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.
"Apa yang sudah kamu ketahui?" tanya Jessica lagi.
Jerry menegakkan tubuhnya, tangannya terarah ke laptop yang sedang menyala itu. Gerakan tangan Jerry begitu lincah, menari-nari di atas laptop untuk mencari file yang tersembunyi di dalam folder.
Jessica membelalakkan matanya ketika melihat video yang di putar Jerry sampai selesai. Ia tidak menyangka jika Jerry mempunyai rekaman saat dirinya hadir di pemakaman Bu Lidya.
__ADS_1
"Sekarang aku tanya kepadamu, Je! apa kamu masih mempunyai rasa kepada dua pria itu, hingga kamu menutupinya dariku?" tanya Jerry dengan wajah yang tak bersahabat.
"Aku tidak memiliki rasa apapun kepada mereka, aku hanya tidak ingin keluarga kita bermasalah dengan keluarga itu lagi," ucap Jessica sambil menatap kedua manik hitam Jerry.
Jessica akhirnya meluapkan rangkaian kata yang sudah ia siapkan sejak di rumah. Ia mengakui kesalahannya di hadapan Jerry, ia tidak ingin karena masalah kecil ini rumah tangganya bersama Jerry membeku dan tanpa rasa.
"Harusnya kamu jujur sejak kejadian saat itu, dengan begitu aku bisa menindak tegas pria gila itu, Je!" sungut Jerry karena kesal melihat Fery dengan beraninya menyentuh harta paling berharga yang ia miliki.
"Aku minta maaf karena kebodohanku hingga membuatmu menjadi marah seperti ini, karena ini adalah salahku, aku menerima jika kamu menghukum ku," ucap Jessica seraya menegakkan tubuhnya.
Jessica berdiri di hadapan Jerry, tanpa di duga Jerry, ia tiba-tiba saja naik ke atas pangkuan Jerry. Dress ketat yang ia pakai akhirnya tersingkap ke atas hingga membuat paha mulusnya terekspos dengan jelas.
"Aku merindukanmu, Sayang!" ucap Jessica dengan tangan yang menyusuri rahang kokoh Jerry.
Jerry sudah tidak tahan lagi setelah merasakan sentuhan lembut Jessica di beberapa titik di tubuhnya. Hilang sudah rasa kecewa dan kebekuan kepada Jessica, kali ini hanya ada hasrat yang mengusik jiwanya.
"Bersiaplah menerima hukuman dariku, Je!" ucap Jerry sambil menatap Jessica penuh naf-su.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️ 😍
Ditulis atau di skip aja nih adegan hukuman untuk Jessica???
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1