
Sebuah kebahagiaan dan kehangatan tengah menyelimuti keluarga besar Wongso, Bu Monik terus mengembangkan senyumnya karena kedatangan Jerry, Jessica dan Fano. Rasa rindu yang selama ini menyeruak ke dalam hati Bu Monik kini terobati sudah tatkala menatap kedua anaknya berkumpul di ruang keluarga ini.
"Moms, kenapa menangis?" tanya Anne tatkala ia menatap Bu Monik mengusap bulir air mata yang membasahi pipinya.
"Mommy terlalu bahagia melihat Jerry berada disini," ucap Bu Monik sembari menatap putranya yang sedang bermain dengan Fano dan ketiga buah hati Anne.
Senyum tipis terbit dari bibir peach Anne, ia pun mengikuti arah pandang Bu Monik, dimana anak-anaknya sedang tertawa bahagia. Pandangan Bu Monik beralih pada wanita cantik yang duduk di samping Jerry, wanita tangguh yang dulu pernah diinginkannya untuk menjadi Nyonya Muda keluarga Wongso.
"Maafkan Mommy, Dad! sampai saat ini Mommy belum bisa memaksa Jerry untuk mengikuti pesan terakhir Daddy, semoga Daddy tenang di sisi Tuhan yang maha Esa." Gumam Bu Monik dalam hatinya.
Makan malam telah siap di ruang makan, mereka pun akhirnya pindah ke ruang makan untuk menikmati berbagai masakan yang berjajar rapi di meja makan.
"Je, makanlah yang banyak! Mommy tidak suka tubuhmu kurus begini," Ucap Bu Monik sembari menatap Jeje yang sedang memegang centong nasi.
"Mommy, Jeje itu harus diet. Jeje gak mau gemuk seperti dulu, setelah melahirkan Fano," Ucap Jeje diiringi senyum manisnya.
Bu Monik berdecak ketik mendengar jawaban Jessica, selalu itu yang dikatakan Jessica saat Bu Monik menyuruhnya makan dengan porsi yang banyak. Makan malam terus berlangsung tanpa ada yang mengeluarkan suara, hanya ada suara sendok dan garpu yang saling bersahutan.
...🌹🌹🌹...
Suara deburan ombak saling bersahutan di indera pendengaran semua orang yang sedang bersantai di salah satu pantai yang ada di daerah Seminyak, Bali. Semua orang sedang menunggu momen indah Sunset yang sebentar lagi akan terjadi.
Semilir angin pantai membuat rambut panjang Jessica menari--nari dengan indahnya, senyum manisnya terukir diantar dua sudut bibir yang tengah melengkung itu. Kedua mata yang tertutup kaca mata hitam membuat penampilannya semakin sempurna.
Jessica tak mengalihkan pandangannya dari dua laki-laki yang berharga di hidupnya, ia terus menatap raut wajah bahagia yang terlukis jelas di wajah kecil Fano. Ya, bocah kecil itu sedang tertawa riang bersama Jerry, menikmati ombak yang terus datang di bibir pantai.
"Jerry, bisakah kita terus seperti ini? sungguh aku sangat bahagia melihat Fano tertawa riang bersama mu." Gumam Jeje dalam hatinya.
__ADS_1
Sebuah khayalan aneh tengah terputar dalam pikiran Jessica, membuatnya semakin melebarkan senyum manis yang ia miliki. Ia membayangkan betapa bahagianya jika ia memiliki Jerry sepenuhnya.
"Astaga! sadar Je sadar!" Jeje menggelengkan kepalanya agar tersadar dari lamunan gila nya.
"Sebaiknya aku menyusul Fano dan Jerry, agar otakku bisa kembali normal." Lirih Jeje sembari menyingkap kain pantai yang menutupi pa-ha mulusnya.
Sebuah bentuk ciptaan tuhan yang indah tengah berjalan meninggalkan kursi sun longer yang sejak tadi di kuasainya. Tubuh sexy yang terbalut dua kain mini menjadi sorotan beberapa pria yang sedang bersantai di bibir pantai. Pa-ha mulus yang terekspos jelas dan bongkahan bukit yang tertutup tangtop putih berhasil membuat pria-pria berkaca mata hitam menelan salivanya.
"Kamu ingin bermain air, Je?" tanya Jerry tatkala jeje sampai di tempatnya berada saat ini.
"Tentu saja, aku juga ingin merasakan air pantai yang ada di Bali," ucap Jeje sembari melepas kaca mata hitamnya.
"Jika mau main air, gantilah pakaian terlebih dahulu!" titah Jerry yang sedang berkacak pinggang di hadapan Jessica.
Jeje menyebikkan bibirnya, sekilas ia mengamati apa yang saat ini melekat di tubuhnya. Tidak ada yang salah, ya itulah yang terucap dalam hati Jessica.
"Kamu ingin bermain air dengan tangtop putihmu ini? dan kamu membiarkan semua orang menikmati dua bukit menonjolmu yang akan kelihatan jika tangtop ini basah?" Ujar Jerry dengan mata yang fokus pada wajah cengengesan di hadapannya.
Siluet jingga mulai terlihat di langit yang terbentang luas, perlahan sang surya mulai turun ke singgasananya membuat semua orang mengabadikan maha karya terindah dari Sang Pencipta.
...💠💠💠...
Langit biru telah berganti dengan langit gelap, bintang bertaburan untuk menemani rembulan yang sedang malu untuk menampakkan sinarnya, ia memilih untuk bersembunyi di balik awan tebal yang berjajar rapi di atas sana.
Tepat pukul dua belas malam waktu indonesia bagian tengah, Jeje terbangun dari tidurnya. Rasa lelah tengah melanda dirinya karena seharian penuh ia jalan-jalan bersama Jerry dan Fano mengelilingi wisata di Bali.
"Hmmm ... sudah tiga jam aku tertidur. Fano dimana ya? perasaan tadi dia main game disini?" tanya Jeje pada dirinya sendiri. Ia pun bergegas bangun dari ranjang.
__ADS_1
Suasana di dalam rumah megah Anne terasa sunyi sepi, Jeje berjalan menuju kamar Jerry untuk memastikan keberadaan putranya nya.
"Syukurlah kalau Fano ada disini, lebih baik aku kembali ke kamar." Lirih Jeje tatkala melihat tubuh Fano ada dalam dekapan Jerry.
Jeje kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk melanjutkan mimpi indahnya. Perlahan kelopak matanya mulai tertutup, tapi bayangan wajah Ezar tiba-tiba berkeliaran dalam pikirannya.
"Astaga! aku lupa memberi tahu Ezar jika aku di Bali." Gumam Jeje sembari membuka kelopak matanya. Ia pun meraih tas yang terletak di atas nakas untuk mencari ponsel khusus bermain-main dengan para mangsanya.
Jeje tidak pernah memberitahu nomor ponsel aslinya kepada siapapun kecuali keluarga dan orang-orang terdekatnya. Ia memiliki ponsel khusus untuk suami orang yang sedang berpacaran dengannya. Dan benar saja, banyak pesan dan panggilan video masuk ke dalam ponsel khususnya, nama Ezar tertera disana.
Satu persatu pesan dari Ezar telah di baca Jessica, sebuah senyum simpul terbit dari bibirnya tatkala mengetahui jika Ezar sangat rindu dengannya.
Tiga menit kemudian, Jeje telah selesai membaca pesan yang menumpuk di ponselnya, dua jempolnya menari-nari di atas layar ponsel untuk mengirim sebuah pesan kepada Ezar, ia tersenyum geli setelah membaca pesan yang baru saja terkirim.
"Ezar ... Ezar ... Ternyata kamu benar-benar terjebak dalam cinta segitiga ini, kamu pria yang berbeda dari mereka sebelumnya." Jeje menengadahkan kepalanya, helaian nafas berat terdengar disana.
Beberapa hari ini pikiran dan hatinya tak lagi sejalan, entah rasa apa yang telah tumbuh dalam hatinya untuk pria beristri yang terjerat dalam cinta semunya. Sekilas sebuah pertanyaan muncul dalam diri Jessica.
"Apa aku mulai memiliki rasa dengan Ezar?"
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷