
Satu bulan kemudian .....
Wajah ceria Fano telah kembali seperti dulu, setelah kejadian penculikan yang di lakukan Fery, bocah berusia kurang dari enam tahun itu sempat mengalami trauma. Psikolog terbaik pun telah di datangkan Jerry untuk menyembuhkan Fano dari rasa traumanya.
Jerry belum melakukan apapun untuk menghukum Fery yang sudah keterlaluan. Ia membiarkan pria itu bersenang-senang sampai waktunya tiba. Ia sudah menyiapkan kejutan yang akan meledak dalam waktu dekat.
Jerry sebenarnya bukan tipe pria pendendam dan tega, ia hanya ingin membuat Fery merasa jera jika mau mengusik kehidupan keluarganya, apalagi sampai membuat Jessica menangis. Sungguh, rasanya ia ingin menghajar ayah kandung Fano itu.
"Kalau begitu, segera hubungi Pak Adrian agar menarik semua sahamnya dari perusahaan Fery, lakukan pelan-pelan, jangan sampai terlihat mencolok, Dan!" ucap Jerry sebelum panggilan bersama Dani berakhir.
Pria keturunan Mexico itu berdiri di dekat pagar pembatas balkon kamarnya. Tatapannya menerawang jauh entah, pikirannya berkelana untuk mencari cara agar kehancuran Fery tak berimbas kepada ketiga putrinya yang masih kecil. Jerry tak sampai hati jika ketiga putri Fery harus menerima imbas dari perbuatan orangtuanya.
Hampir tiga puluh menit Jerry berada di balkon kamar, angin malam pun mulai menyapa tubuhnya. Rasa dingin mulai merasuk ke dalam tubuh gagah pria keturunan Mexico itu.
"Sayang, ngapain sih di luar? betah banget!" tanya Jessica ketika melihat Jerry menutup pintu yang terhubung ke balkon.
"Seperti biasa, menikmati sebatang rokok sebelum tidur," ucap Jerry seraya menghempaskan diri di ranjang, tepat di samping sang istri.
Jessica kembali fokus pada layar pipih nya, dimana sebuah video tentang program kehamilan terputar di layar pipih itu.
"Sayang, bagaimana kalau kita ke dokter Maitri? aku ingin melakukan program hamil," tanya Jessica setelah meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Sudahlah, Sayang. Jangan terlalu memikirkan hal itu, aku masih ingin seperti ini. Jadi jangan lepas kontrasepsi mu dulu," ucap Jerry sambil menatap Jessica.
"Aku belum siap melihatmu kesakitan seperti dulu, apalagi setelah melihatmu operasi kemarin. Kamu tidak usah memikirkan masalah anak, akan lebih baik jika kita fokus kepada Fano dulu." Jerry memberi pengertian kepada Jessica.
Jessica menatap manik hitam yang suami yang sedang memancarkan keseriusan di sana, "aku takut Mommy kecewa kepadaku karena aku tidak kunjung hamil," ucap Jessica dengan wajah sendunya.
"Kamu tahu 'kan bagaimana Mommy selama ini? Mommy tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena ini adalah rumah tangga kita, Mommy bukan seorang ibu yang suka ikut campur masalah rumah tangga anak-anaknya, Mommy hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia, Sayang," ucap Jerry panjang lebar. Ia meraih tubuh Jessica ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Mata Jessica terpejam ketika Jerry mulai menghujani puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang. Jessica bisa merasakan ketulusan cinta dari sang suami yang tiada habisnya.
"Kita akan memikirkan masalah anak nanti saja, ketika aku sudah siap melihatmu kesakitan saat melahirkan," ucap Jerry seraya mengeratkan dekapannya.
Pria mana yang tidak ingin memiliki anak dari wanita yang menjadi pendamping hidupnya, tapi rasa trauma yang di alami Jerry membuat keinginan itu harus terpendam. Ia belum siap melihat bagaimana saat Jessica mengalami morning sickness saat hamil muda dan bagaimana susahnya ketika melahirkan nanti.
"Sekarang tidurlah, jangan memikirkan masalah anak lagi," ucap Jerry sambil membelai rambut Jessica.
...๐น๐น๐น๐น...
Waktu terus berjalan tanpa kenal lelah, hari pun berlalu begitu saja meninggalkan kenangan di hidup semua insan. Jarum jam masih berada di angka sepuluh pagi, tapi matahari lebih memilih bersembunyi di balik mendung yang mulai datang di langit Jakarta.
Hari ini Jerry tidak ada jadwal ke kantor, semua urusan kantor sudah ada staf dan ahli yang menangani bidang masing-masing. Jerry tinggal duduk manis di rumah menikmati uang yang bekerja, sesekali saja ia harus datang ke kantor karena ada hal penting yang membutuhkan persetujuannya.
Rencana menghancurkan Fery mulai berjalan, perlahan tapi pasti, Fery akan kehilangan semua Investor yang berjasa dalam perusahaannya, dengan begitu perekonomiannya perlahan akan hancur karena harus menutup kerugian yang terjadi.
Rencana yang di susun Jerry dan Dani sudah berjalan selama dua minggu ini, bisa di pastikan jika saat ini Fery mulai merasakan kehancuran perusahaannya.
"Sudahlah, tenang saja! aku tau apa yang harus aku lakukan, Sayang." Jerry menjawab ucapan Jessica tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ipad.
Perasaan Jessica bercampur aduk saat ini, ia sudah tau bagaimana rencana yang sudah di susun oleh Jerry. Jujur saja, ia sangat takut semua ini akan berdampak kepada ketiga putri Fery yang masih kecil.
Jerry meletakkan ipad nya setelah puas melihat hasil memuaskan yang di lakukan oleh Dani. Ia berjalan ke tempat Jessica berada.
"Fano pulang jam berapa, Sayang?" tanya Jerry seraya mendaratkan tubuhnya di samping Jessica.
"Kata guru kelasnya pulangnya nanti jam 12 setelah kunjungan ke museum berakhir," ucap Jessica.
"Sayang, diluar sedang hujan," ucap Jerry sambil menatap jendela yang ada di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Terus?"
"Cuaca seperti ini cocok loh buat kita berkembang biak," ucap Jerry dengan sorot mata penuh makna.
"Dasar mesum!" sarkas Jessica sambil me-re-mas lengan bergelombang Jerry.
Hujan deras mulai melanda kawasan tempat tinggal Jerry, suara guntur pun mulai terdengar saling bersahutan. Tapi semua itu tidak bisa mengganggu sepasang suami istri yang sedang memadu kasih di atas sofa yang ada di ruang kerja Jerry.
"Terima kasih, Sayang ...." ucap Jerry setelah menyemburkan cai-ran cinta nya di lorong gua garba Jessica.
Kedua insan ini seakan tak pernah bosan ber-cinta, dimana pun dan kapan pun saja mereka berdua bisa melakukan pergulatan itu asal situasi aman terkendali.
Suara ketukan pintu beberapa kali membuat keduanya segera bangkit dari sofa dan memakai kembali pakaian yang sempat tercecer di lantai.
"Maaf Nyonya Je karena sudah mengganggu waktu Nyonya, saya hanya ingin memberi tahu jika ada tamu yang sedang menunggu Tuan Jerry di ruang tamu," ucap Kokom setelah pintu ruang kerja terbuka lebar.
"Oh, baiklah sepuluh menit lagi kami akan turun," ucap Jessica sebelum Kokom berlalu dari hadapannya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โฅ๏ธ๐
Othor mau ngasih inpo nih, kalau novel ini akan segera tamat๐ญ kurang beberapa bab lagi mbak Jess akan tamat๐ฅ ada gak sih yang gak rela mbak Jess tamat?
_
_
__ADS_1
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท