Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Memohon ....


__ADS_3

"Jessica!" ucap Siva ketika melihat Jerry dan Jessica baru saja tiba di ruang tamu. Siva beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat Jessica dan Jerry berdiri saat ini.


Jessica tertegun ketika Siva tiba-tiba berlutut di kakinya. Wanita berambut sebahu itu menangis sambil memeluk kaki Jessica.


"Jangan seperti ini! bangunlah!" ucap Jessica sambil menggerakkan kakinya agar Siva segera menyingkir dari sana.


"Tidak! aku tidak akan berdiri sebelum kamu mengampuni aku dan Mas Fery!" ucap Siva dengan suara yang bergetar.


Jerry hanya diam sambil mengawasi gerak-gerik Siva, ia tidak boleh kecolongan karena melihat musuhnya bertekuk lutut di kaki sang istri. Jerry terus menatap pergerakan tangan Siva, ia khawatir wanita itu membawa senjata tajam yang bisa melukai Jessica.


"Kalau kamu tidak mau berdiri, aku tidak mau menemui mu lagi!" Jessica mencoba mengancam Siva karena ia risih mendapat perlakuan seperti itu dari Siva.


Siva akhirnya mengikuti perintah dari Jessica, ia berdiri di hadapan Jessica dengan wajah sendu tanpa polesan make-up sedikitpun. Tatapan penuh harap tersorot dari kedua manik hitamnya.


"Silahkan duduk!" perintah Jessica.


Akhirnya mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu untuk ngobrol bersama Siva, "Apa yang membuatmu datang ke rumahku?" tanya Jessica seraya menatap Siva yang menundukkan kepalanya.


"Aku ingin memohon kepada mu agar suamimu mau mengembalikan perusahaan Mas Fery seperti semula," ucap Siva dengan suara yang lirih, "Mas Fery mengalami kecelakaan kemarin malam setelah tau perusahaannya gulung tikar dalam sekejap." suara isak tangis mengiringi pengakuan Siva.


Ya, memang itulah yang terjadi. Kemarin malam Fery mengalami kecelakaan setelah pulang dari kantor dengan membawa sejuta harapan yang telah pudar. Semua investor mencabut semua sahamnya hingga membuat proyek yang sedang berjalan harus berakhir tanpa keuntungan.


Fery menabrak pembatas jalan karena hilang konsentrasi saat berkendara, tidak ada korban atas insiden ini, kecelakaan Fery murni kecelakaan tunggal. Bagian depan mobilnya ringsek parah dan Fery sendiri harus di rawat di rumah sakit karena ada luka di kepala dan tangannya yang membutuhkan perawatan medis.


"Keadaan fisik Mas Fery tidak terlalu parah tapi psikisnya yang bermasalah, dia terus melamun, tatapan matanya kosong karena memikirkan nasib perusahaan." Siva terus terisak tanpa berani menatap dua orang yang duduk di sofa yang bersebrangan dengannya.


"Aku mohon, tolong kembalikan perusahaan suamiku, aku mohon!" Siva mengatupkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Siva yang dulu penuh keangkuhan, kini harus memohon belas kasih dari wanita yang pernah ia sakiti dulu, harga diri yang tinggi seakan musnah di telan kenyataan pahit yang terjadi saat ini.


"Apa kamu tidak malu memohon kepadaku seperti ini? di mana Siva yang pernah mengusir seorang wanita dari rumahnya sendiri? apa Siva sudah kehilangan harga dirinya karena sebuah harta yang hilang?" hardik Jessica, hal itu membuat Siva terperanjat dari tempat duduknya.


Lagi dan lagi ibu tiga anak itu duduk bersimpuh di lantai, tepat di depan kaki Jessica, "Aku minta maaf atas yang aku lakukan dulu, aku tahu perbuatanku sangat menyakiti dirimu, aku mohon ... tolong maafkan aku dan Mas Fery," Siva semakin terisak dengan kepala yang tertunduk.


Jerry hanya diam, ia menunggu jawaban dari sang istri karena ia sendiri tidak bisa memutuskan seorang diri tanpa persetujuan Jessica, semua yang di lakukan Jerry saat ini hanya untuk membalaskan rasa sakit yang pernah di rasakan oleh Jessica.


Siva terus memohon kepada Jessica, ia seakan tak pernah lelah menangis di kaki Jessica, rasa malu pun sudah hilang entah kemana.


Risih, itulah yang di rasakan Jessica saat ini. Ia tidak suka melihat tingkah laku Siva. Permintaan maaf terus terucap dari bibir Siva, ia pun terus menyebut nasib ketiga putrinya nanti bagaimana.


"Sayang ...." Jessica menatap Jerry penuh arti, hatinya mulai tersentuh karena memikirkan ketiga putri Fery.


Jessica adalah seorang ibu, ia pun membayangkan bagaimana jika situasi ini menimpa keluarganya nanti. Meski ia sendiri pernah merasakan di posisi Siva saat ini, ia masih bersyukur karena ada keluarga Wongso yang menolongnya.


Jerry menghela nafasnya, ia sudah menduga jika sang istri akan menjadi luluh. Harusnya ia tidak mengizinkan Jessica untuk bertemu dengan siapapun, tapi semua sudah terlanjur terjadi.


Jessica menganggukkan kepalanya pelan, jiwanya menjadi melankolis jika sudah membahas masalah anak. Ia tidak ingin menjadi wanita jahat karena membuat nasib ketiga putri Fery menjadi tak karuan karena masalah perekonomian orang tuanya.


"Begini saja, jika Fery sudah keluar dari rumah sakit, ajak lah dia ke kantor ku, ada hal yang harus di bahas jika kalian ingin semua yang terjadi saat ini berhenti. Jika kalian tidak datang, bersiaplah menerima kejutan berikutnya," ucap Jerry setelah berpikir beberapa menit sebelum berbicara kepada Siva.


Siva mengangkat kepalanya ketika mendengar keputusan Jerry, ia berusaha mencerna kalimat panjang yang di ucapkan Jerry. Tangannya mulai terasa dingin ketika menerka dua kata terakhir yang di ucapkan Jerry.


"Bagaimana?" tanya Jerry sambil menatap Siva dengan mata elangnya.


"Ba--baiklah ... aku akan mengajak Mas Fery setelah dia keluar dari rumah sakit," Siva terbata karena takut dengan tatapan Jerry.

__ADS_1


"Sekarang pulanglah! kemas semua barang-barang mu mulai hari ini!" ucap Jerry yang berhasil membuat Jessica menaikkan satu alisnya.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada sepasang suami istri yang ada di hadapannya, Siva segera pergi dari rumah megah bergaya america ini. Hatinya sedikit lega karena berhasil mendapat keringanan dari Jerry tapi di sisi lain, ia merasa tidak tenang karena memikirkan apa yang akan di lakukan Jerry setelah ini.


Jessica segera mengikuti langkah sang suami yang berjalan menuju ruang kerja nya. Ia masih penasaran apa yang akan di lakukan Jerry setelah ini. Ia belum tau rencana lanjutan yang telah di susun Jerry tanpa sepengetahuannya.


"Sayang, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jessica yang sedang berdiri di depan meja kerja Jerry.


"Nanti kamu pasti tau. Saat Fery datang ke kantor nanti, Kamu dan Fano akan ikut denganku untuk menemui pria itu," ucap Jerry tanpa menatap wajah penasaran Jessica.


"Kamu tidak ingin memberi tahuku sekarang?" Jessica semakin penasaran dengan maksud sang suami.


"Tidak! lebih baik kamu bersiap, kita akan menjemput Fano ke sekolahnya setelah ini," imbuh Jerry.


Beberapa menit kemudian, Jessica keluar dari ruang kerja Jerry dengan membawa sejuta rasa penasaran yang mengusik jiwa. Sementara itu, Jerry sedang sibuk mempersiapkan sesuatu yang harus di tanda tangani Fery nanti.


"Dan, siapkan segala hal yang pernah aku susun kemarin, kali ini kita akan memakai cara kedua," ucap Jerry setelah sambungan telfonnya terhubung dengan Dani.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Hmmm ada yang bisa nebak Jerry mau ngapain?


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2