
Satu bulan kemudian ....
Waktu terus berlalu, hari pun terus berganti. Hubungan terlarang antara Jeje dan Ezar terus berlanjut, mereka semakin berani jalan berdua di tempat umum seperti saat ini, saling menggenggam satu sama lain menyusuri pusat perbelanjaan terbesar yang ada di Jakarta selatan.
Ezar tidak perduli lagi tentang rumah tangganya, ia membiarkan hubungannya dengan Bella terasa dingin seperti es balok yang sulit mencair. Ia tak mau ambil pusing dengan apa yang dilakukan Bella di belakangnya, ia lelah meminta Bella untuk meninggalkan teman-teman sosialitanya. Ia tak perduli lagi dengan semua hal itu karena ada Jessica yang selalu menemani hari-harinya walau lewat video call setiap malam di ruang kerjanya.
Kesibukan di kantor, membuat Ezar jarang ada waktu untuk bertemu dengan Jessica, banyaknya proyek yang berhasil kontrak dengan perusahaannya, membuat Ezar sering menghabiskan waktunya di kantor.
Siang ini, setelah meeting diluar kantor ... Ezar menghubungi Jessica untuk bertemu di sebuah resto jepang, tempat ia dan klien nya meeting beberapa puluh menit yang lalu.
Makan siang bersama Jessica telah usai, kini mereka berdua berjalan menuju toko penjualan sepatu dengan brand terkenal di Indonesia. Pilihan Jessica tepat pada sneaker berwarna merah maroon dengan harga yang fantastis, Ezar pun dengan mudah menggesek kartu ajaibnya untuk membayar sepatu pilihan Jessica.
Setelah puas menghabiskan waktu bersama di pusat perbelanjaan, mereka berdua memutuskan untuk keluar dari gedung raksasa ini. Kedua tangan itu saling bertautan, memberikan tanda bahwa mereka saling memiliki satu sama lain.
"Kamu tidak membawa mobil kan, Je?" tanya Ezar sembari menatap wajah cantik yang ada di sampingnya.
"Sesuai perintahmu, aku tadi di antar salah satu karyawanku," ucap Jeje dengan diiringi senyum yang indah, membuat Ezar semakin gemas dibuatnya.
Keduanya terus berjalan sampai di lantai dasar pusat perbelanjaan in karena, mobil Ezar terparkir di halaman luas yang ada di bagian depan gedung raksasa ini.
Sementara itu ... di balkon resto yang ada di gedung yang sama ada Bella yang sedang menikmati makan siang seorang diri. Ia sedang menghabiskan waktu tanpa siapapun yang menemaninya.
Pandangan matanya tak sengaja menangkap seorang wanita yang memakai midi dress berwarna hijau apel masuk ke dalam mobil hitam, berkali-kali mengerjapkan matanya untuk mengingat mobil yang tak asing itu. Manik hitam itu terus mengikuti mobil yang sudah meninggalkan area pusat perbelanjaan ini.
"Itu seperti mobil Ezar," gumam Bella. Ia tidak begitu hafal dengan plat nomor mobil yang ada di rumah, karena ada banyak koleksi mobil yang berjajar rapi digarasi rumahnya.
Bella merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya, ia menghubungi Ezar untuk memastikan keberadaan suaminya, namun tidak ada jawaban dari Ezar.
__ADS_1
"Mungkin dia lagi sibuk," lirih Bella setelah menikmati jus apel yang menyegarkan tenggorokannya. Ia pun memeriksa dimana keberadaan Ezar saat ini lewat GPS yang antara ponselnya dan ponsel Ezar yang saling terhubung. Lega, ya itulah yang di rasakan Bella saat ini, karena GPS menunjukkan jika Ezar ada di kantornya.
Bella segera beranjak dari kursinya ketika selesai menghabiskan semua makanan yang di pesan. Ia berjalan menuju pintu keluar setelah membayar semua makanan yang sudah berpindah di perut ratanya.
"Bel ...." suara seorang wanita yang ada di belakang tubuh Bella berhasil menghentikan langkahnya.
Sebuah senyum manis terbit dari bibir berwarna merah muda milik Bella tatkala melihat seorang wanita yang sedang berjalan ke arahnya.
"Hay Lun ...." Bella menyambut wanita bertubuh sintal itu, keduanya saling berpelukan dan tak lupa cipika-cipiki sebagai salam hangat saat bertemu teman lama.
"Hay Bel, lama kita tidak bertemu," ucap Luna setelah tubuhnya terurai dari Nyonya Bachtiar ini. Sebuah senyuman terukir indah dari kedua sudut bibirnya.
Bella mengajak Luna untuk duduk di bangku panjang yang ada di depan resto, keduanya saling bertukar kabar satu sama lain. Obrolan ringan pun terdengar disana.
"Oh ya Bel, bagaimana Apartemen yang baru di beli Ezar beberapa bulan lalu? apa keponakannya suka dengan Apartemennya?" tanya Luna dengan antusias, karena dia lah orang yang di hubungi Ezar untuk mencarikan sebuah Apartemen Elit di Jakarta.
"Iya Bel, Apartemen ...." Luna pun menjelaskan dimana Apartemen yang di beli Ezar beserta harga fantastis yang di bayar kontan oleh Ezar.
Raut wajah bahagia Bella mendadak hilang tatkala mendengar nama wanita yang memiliki surat-surat Apartemen yang di beli oleh Ezar. Irama jantung Bella semakin berdetak kencang, memikirkan siapa wanita itu karena Ezar adalah anak tunggal, dan pastinya tidak memiliki seorang keponakan.
"Bel, aku harus pergi, klien ku sudah menunggu," ucap Luna setelah menerima telfon dari seseorang.
"Ah iya, kapan-kapan aku mampir ke rumahmu ya ..." ucap Bella sebelum Luna bangkit dari tempatnya.
Wanita bertubuh sintal itu pun meninggalkan Bella yang masih termenung di tempatnya, namun langkahnya harus terhenti tatkala mendengar suara Bella yang menyebut namanya.
"Ada apa, Bel?" tanya Luna ketika membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Apa kamu bisa memberitahuku alamat lengkap Apartemen yang di tempati keponakan suamiku? maksudku di lantai berapa Apartemennya?" Ucap Bella dengan wajar yang di buat sesantai mungkin agar Luna tidak curiga.
Luna segera mengetik sebuah alamat di ponselnya, tak lupa ia mengirim alamat itu ke ponsel Bella tanpa curiga sedikitpun, ia benar-benar polos dalam hal ini, "Sudah aku kirim, Bel. Aku permisi dulu ya ...." ucap Luna sebelum melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Bella saat ini. Ia harus segera menemui klien yang sudah menunggu kedatangannya.
Ketidak tenangan kembali mengusik hati dan pikiran Bella, ia terus berpikir siapa wanita yang menempati Apartemen yang di sebutkan oleh Luna, pikiran negatif terus menghantuinya.
Bella memutuskan untuk segera keluar dari gedung raksasa ini, ia harus segera pulang untuk menemani Alana yang sedang di rumah bersama pengasuhnya.
Bella melajukan mobilnya membelah jalanan yang masih padat itu, dan tentunya dengan sejuta rasa yang mengguncang jiwanya. Pikirannya kalut memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan suami yang selama ini sangat mencintainya.
"Haruskah aku bicara kepada mama tentang semua ini?" Bella bermonolog dengan pandangan fokus ke jalanan di hadapannya, "Tidak ... tidak ada yang boleh tau tentang keresahan hatiku, sebelum aku memastikan apa yang sebenarnya terjadi." lanjut Bella.
Mobil putih yang di kendarai Bella terus melaju di jalanan ibu kota yang masih padat ini. Jalanan yang terkenal akan hiruk priuk yang tiada hentinya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
Jangan lupa Follow akun sosial media othor yakk
IG: @tie_tik || FB: Titik pujiningdyah
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷