Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Bertemu dengan ....


__ADS_3

Matahari sudah beranjak naik untuk menyapa semua makhluk yang ada di bumi. Sinar yang menghangatkan kini berganti dengan sinar yang bisa membuat siapa saja bersembunyi darinya.


Penunjuk waktu masih berada di angka sepuluh pagi, waktu yang biasa di manfaatkan untuk menikmati kopi hitam di sela-sela pekerjaan yang terus berlangsung. Secangkir kopi hitam telah tersaji di atas meja kerja Jerry untuk mengusir rasa gelisah yang sedang menyelimuti dirinya.


Aroma kopi robusta menyeruak ke dalam indera penciuman Ezar tatkala ia menuang kopi hitamnya ke dalam lepek keramik berwarna putih itu. Rasa pahit dari kopi itu pun berhasil membuat pikirannya lebih rileks.


Jerry menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, ia memejamkan matanya untuk mengingat kehidupan tenang Jessica beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum ia mengepakkan bisnisnya di bidang kecantikan.


"Kembalilah seperti dulu, Je ... aku merindukan dirimu yang dulu," lirih Jerry dengan kelopak mata yang masih tertutup.


Cukup lama Jerry menyelami masa lalu Jessica, kini ia mulai membuka kelopak matanya. Tangan kanan Jerry bergerak di atas mouse untuk mencari file lama yang tersimpan di laptop hingga membuat kedua sudut bibirnya terangkat ketika melihat foto lama yang muncul di layar laptopnya.



Jerry terus menatap foto lama Jessica, foto yang di ambil ketika Jessica hamil tiga bulan. Rasanya ingin sekali Jerry kembali ke masa itu, masa dimana ia merasakan kelembutan dan jiwa penuh cinta yang di miliki Jessica. Ia tidak pernah menyangka jika Jessica akan memakai hatinya dalam drama ini.


"Dasar wanita bo-doh! kenapa kamu harus melakukan semua ini, Je? untuk apa kamu terjerumus dalam kubangan api yang bisa membakar dirimu sendiri!" Jerry mengumpat di depan laptopnya dengan pandangan yang tak beralih dari wajah kalem Jessica.


Jujur saja, saat ini hatinya sangat kacau memikirkan sosok wanita yang menjadi sahabatnya selama ini, ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpa Jessica. membayangkan saja ia tak sanggup.


"Aku akan menghukum para wanita angkuh yang tak pandai menjaga suaminya. Lihat saja Jer, setelah ini pasti mereka akan menyesal setelah tahu suaminya mempunyai wanita idaman lain."


"Tolong Jer, biarkan aku bermain-main sebentar dengan mereka yang sudah menyianyiakan suaminya."


Ya, begitulah kalimat yang pernah terucap dari bibir Jessica di awal ia menjadi seperti ini, Jerry tak melupakan sedikitpun setiap kata yang terucap dari bibir Jessica di masa lalu.


"Astaga Jeje!!" Jerry memijat pelipisnya karena nama Jessica terus berkeliaran dalam pikirannya.

__ADS_1


Jerry merogoh ponsel yang tersimpan di saku jasnya, ia menghubungi seseorang yang biasa membantunya, "Ikuti kemana pun Jeje pergi, pastikan dia aman! jangan biarkan seseorang menyentuhnya!" ucap Jerry ketika sambungan telfonnya terhubung.


Hembusan nafas berat terdengar disana, hanya ini yang bisa Jerry lakukan untuk menjaga Jessica dari kemungkinan terburuk yang akan menimpanya. Jerry segera beranjak dari tempatnya, ia berjalan menuju ruang rapat, karena hari ini ada rapat penting bersama para direksi.


...🌹🌹🌹🌹...


Sebuah midi dress selutut berwarna hijau botol melekat di tubuh ramping Jessica. Dress polos yang berhasil membuat penampilan Jessica terlihat sempurna siang ini. Ia membiarkan rambutnya tergerai begitu saja, membuat kadar ke anggunan yang ia miliki semakin meningkat.


Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam, kini Jessica siap untuk berangkat menemui seseorang yang kemarin malam menelfonnya. Ia sudah siap dengan segala hal yang akan terjadi hari ini, tak ada rasa takut sedikitpun dalam dirinya.


Jessica segera masuk kedalam mobil pemberian Ezar dulu. Ia sengaja berangkat lebih awal dari waktu yang di tentukan.


"Hmmm ... kira-kira apa ya yang akan di bahas kakaknya Bella nanti?" gumam Jeje dengan kedua mata yang fokus pada jalanan di hadapannya.


Dua puluh menit telah berlalu, Jeje telah sampai di Resto tempat ia membuat janji dengan seorang wanita yang akan ditemuinya setelah ini. Ia segera masuk ke dalam Resto mewah ini.


"Mari saya antar, Nyonya," ucap Waiters itu, lalu mereka berjala menuju ruangan yang ada di ujung Resto.


"Silahkan masuk, Nyonya ... ini adalah tempat yang Nyonya maksud," ucap Waiters itu setelah membuka pintu untuk Jessica.


"Terima kasih ...." ucap Jeje dengan diiringi senyum manisnya.


Jessica segera masuk, ia mengedarkan pandangannya. Ada tatapan kagum ketika manik hitamnya dimanjakan dengan dekorasi Resto yang indah dan rapi itu.


"Hmm ... boleh juga tempat ini," ucap Jeje seraya menarik kursi. Ia memilih duduk di kursi yang menghadap langsung ke arah pintu masuk.


Jeje membuka tas 'kremes' miliknya ketika mendengar ponselnya berdering. Nama Jerry tertulis di layar datarnya dan detik berikutnya sambungan telfon itu pun akhirnya terhubung.

__ADS_1


Sebuah senyum tipis terbit dari bibir merah itu, apalagi setelah mendengar penuturan panjang yang terucap dari pria yang ada di sebrang sana.


"Astaga ... iya Jer! sudahlah jangan khawatirkan aku, kamu tenang saja ... aku bisa menjaga diri," ucap Jessica. Ia tak habis pikir jika respon Jerry sangat berlebihan setelah mengetahui dirinya akan bertemu dengan keluarga Bella.


Hampir dua puluh menit Jessica menunggu kedatangan wanita yang membuat janji bersamanya tadi malam. Ia membuka media sosialnya untuk mengusir rasa bosan yang merasuki dirinya.


Jeje meletakkan ponselnya ketika tahu pintu di hadapannya akan segera terbuka. Ia merapikan rambutnya agar terlihat sempurna.


"Caca ...." Suara bariton seorang pria yang berdiri di ambang pintu berhasil membuat dirinya terkejut bukan main. Suara yang tidak asing di indera pendengarannya, dan nama panggilan itu berhasil membuatnya teringat pada seorang pria yang pernah hadir dalam hidupnya.


Jeje terhenyak dari tempat duduknya ketika melihat sepasang suami istri yang berdiri di ambang pintu. Ia berdiri dengan kedua manik hitam yang terpaku pada dua orang yang baru saja hadir di dalam ruangan VIP itu.


"Kamu ... kamu ...." hanya itu yang bisa Jeje katakan, lidahnya terasa keluh. Tak ada kalimat yang bisa keluar dari bibir berwarna merah itu.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Ada yg bisa nebak siapa yang hadir di hadapan Jessica?


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2