Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Depresi?


__ADS_3

Sebuah luka lama kini harus terbuka lagi, luka yang telah lama di pendam kini harus muncul kembali. Meski sang pemilik hati tak memiliki cinta lagi, namun tak sedikitpun ia melupakan apa yang pernah di lakukan mantan suaminya.


Jessica terus meluapkan semua rasa yang di pendamnya selama ini di hadapan Bella. Ia mencaci maki wanita yang tak pernah tahu jika ibu dan kakaknya pernah berbuat keji.


"Mulai saat ini jangan pernah mengatakan kamu adalah wanita yang tersakiti disini, anggap saja kamu sedang membayar apa yang dulu pernah di rebut oleh kakak dan ibumu yang la-k-nat itu!" ucap Jessica dengan nada tinggi.


"Asal kamu tahu, seluruh biaya kuliah mu di luar negeri adalah dari mantan suamiku, dan disana ada hak ku dan anakku yang di rebut dua wanita si-a-lan itu!" wajah merah padam terlukis di wajah Jessica.


Cacian demi cacian terus terlontar dari bibir berwarna merah itu, membuat Bella hanya diam sambil mencerna apa yang baru saja di katakan oleh Jessica, ia tidak pernah menyangka dua wanita yang sangat ia sayangi ternyata tega melakukan semua itu.


"Cukup! cukup! jangan di teruskan lagi!" ucap Bella seraya berdiri dari tempat duduknya, ia sudah tidak tahan lagi mendengar semua kata yang terlontar dari bibir Jessica.


Tanpa berpamitan, Bella berlari keluar dari Apartemen Jessica. Bulir bening perlahan turun dari matanya. Gemuruh yang ada di dada kini meluap sudah di samping lift, Bella duduk bersandar disana dengan air mata yang tak henti menetes.


"Ya Tuhan ... apalagi ini?" lirih Bella


Niat hati ingin menekan Jessica dengan menyinggung masalah hati dan anak, namun yang di dapat Bella justru hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.


"Kenapa harus aku yang menanggung semua akibat dari perbuatan Kakak dan Mama ...." gumam Bella dalam tangisnya.


Cukup lama Bella meratapi nasibnya, kini ia melangkahkan kaki menuju lift untuk segera keluar dari gedung raksasa ini. Ia harus bertemu dengan Mama nya untuk menanyakan semua kebenaran yang baru saja di katakan Jessica.


...🌹🌹🌹🌹...


Langit biru dengan hiasan awan putih yang indah kini berganti dengan warna gelap disana, sinar rembulan mulai nampak sempurna malam ini, menemani seorang pria yang sedang fokus di balik kemudi.


Malam ini setelah menikmati makan malam bersama kekasihnya, Jerry berencana mampir ke rumah Jessica dan tentunya setelah mengantar Dara kembali ke Apartemen. Ia harus memastikan keadaan Jessica baik-baik saja.


Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, Jerry akhirnya sampai di kediaman Jessica. Suasana terasa sunyi sepi, membuat Jerry mengernyitkan keningnya karena tak menemukan seorang pun di lantai satu.

__ADS_1


Jerry menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua. Kamar Fano menjadi tujuan pertamanya dan benar saja, ternyata Fano ada disana bersama Lila.


"Fano ...." ucap Jerry yang berdiri di ambang pintu.


"Papa ...." teriak Fano ketika melihat kehadiran Jerry disana, ia menghambur ke tubuh sang Papa.


Jerry mengajak Fano keluar dari kamar menuju balkon yang ada di lantai dua, sebuah tempat favorit untuk Jerry ketika berkunjung ke rumah ini.


"Fano, Mama kemana?" tanya Jerry yang sejak tadi tak melihat batang hidung sahabatnya itu,


"Mama ada di kamar pa, Fano panggilkan dulu ya Pa," ucap Fano sebelum berlalu pergi dari hadapan Jerry.


Jerry duduk di ayunan rotan yang ada disana, kedua bola matanya menatap bunga-bunga cantik yang tersusun rapi di dekat pagar pembatas. Entah mengapa malam ini Jerry begitu merindukan sang Daddy yang sudah tenang di alamnya.


Bayang-bayang Tuan Dario seketika musnah ketika Fano menepuk lengannya, ia baru saja kembali dari kamar sang Mama dengan wajah yang tertekuk.


"Mama tidak mau keluar, Pa ... katanya Mama tidak mau di ganggu pa ...." ucap Fano ketika berada di hadapan Jerry.


Jerry mengusap rambut Fano dengan penuh kasih sayang, entah mengapa setiap menatap manik hitam milik Fano, membuat hatinya terenyuh.


"Fano sekarang kembali ke kamar ya, Fano harus istirahat sama kak Lila, biar Papa yang ke kamar Mama," ucap Jerry kepada Fano. Ia mengantar Fano kembali ke kamarnya.


Kini Jerry melangkahkan kakinya menuju kamar Jessica, ia masih berdiri di depan pintu kamar yang tertutup rapat itu dengan segala pikiran yang tak karuan.


Pintu akhirnya terbuka lebar, Jerry mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar dengan suasana temaram itu, semua kaca tertutup rapat oleh tirai berwarna putih. Jerry menangkap sosok wanita yang sedang duduk meringkuk di sudut ruangan dengan suara isak tangis yang menggema disana.


"Astaga, dia sangat kacau," gumam Jerry sembari berjalan menuju tempat Jessica berada saat ini.


Jessica menengadahkan kepalanya ketika melihat sepasang kaki berdiri tegak di hadapannya. Tangisnya pun pecah ketika menatap wajah tampan yang tengah menatap sendu kearahnya.

__ADS_1


"Jerry ...." lirih Jessica di sela-sela tangisnya.


Jerry akhirnya duduk di lantai tepat di hadapan Jessica, ia mengusap pipi yang basah akibat air mata yang turun dengan derasnya. Jerry pun terbawa suasana yang terasa di kamar penuh luka itu.


"Kenapa Jer, kenapa? kenapa aku harus kembali tenggelam karena mereka? kenapa Ezar harus menjadi bagian dari keluarga la-k-nat itu, Jer?" cicit Jessica dengan suara seraknya.


Jessica benar-benar terpukul kali ini, ia seakan mendapat karma dari semua perbuatannya. Karma yang menyerang hatinya hingga membuat ia kembali merasakan rasa sakit yang begitu dalam. Sejak pulang dari Apartemen, ia mengurung diri di dalam kamar dengan semua kenangan kelam yang kembali menghantui dirinya.


Jerry tak kuasa melihat wajah sembab Jessica, ia meraih tubuh Jessica untuk masuk dalam dekapannya. Tempat ternyaman untuk Jessica saat ini.


Rambut indah yang biasa tertata rapi, kini terlihat sangat berantakan. Jessica benar-benar terpuruk saat ini karena semua hubungan yang tak pasti.


"Je ... kamu harus sadar, Je! kamu tak boleh seperti ini, ingat ada Fano yang membutuhkanmu!" ucap Jerry ketika menyadari Jessica hanya diam dengan tatapan kosongnya.


Jerry mengguncang tubuh Jessica agar ia kembali tersadar dari lamunannya. Jerry sangat takut jika Jessica harus mengulang kondisi buruk yang pernah menimpanya saat hamil dua bulan. Jessica pernah mengalami major depressive disorder/ MDD hingga membuat keluarga Wongso harus membawa Jessica ke Psikiater terbaik di Negara ini.


"Kamu tidak boleh seperti ini, Je!" ucap Jerry sembari mengangkat tubuh Jessica. Ia membawa tubuh lemah itu ke atas ranjang.


Jerry merogoh ponselnya, ia mencoba menghubungi Psikiater yang dulu pernah menangani Jessica. Ia mondar-mandir di dalam kamar Jessica dengan pikiran yang tak karuan.


"Aarrrggg!! kenapa semua ini harus terjadi!" teriak Jerry dengan tangan yang mencengkram rambutnya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍😍♥️


Maaf ya othor belum bisa double up🙏 lagi migrain kakak🙏🙏🙏

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


.


__ADS_2