
"Hey! hentikan! disini ada anakku!" sungut Fela ketika melihat adegan di depannya. Tangannya sejak tadi terus menutupi mata putrinya agar tidak ternoda dengan adegan tidak senonoh di depannya.
Jerry melepas tautan bibirnya, ibu jari nya mengusap bibir sensual yang sudah lama berkeliaran dalam fantasinya selama ini. Jerry tidak pernah menyangka jika hari ini adalah hari yang selama ini di nantikannya.
"Maaf Fe, aku lupa jika disini ada dirimu," ucap Jerry seraya membalikkan tubuhnya untuk menatap Fela yang memasang wajah masamnya.
"Dasar tidak tahu malu! belum apa-apa udah nyosor aja lu! dasar Bebek!" sarkas Fela, ibu dua anak ini sangat geram melihat kelakuan dua orang dewasa yang bo-doh itu.
Jerry terkekeh ketika melihat wajah masam Fela, ia sangat gemas melihat wanita bersuami itu. "terima kasih Fe, akhirnya kamu membocorkan rahasia ini di waktu yang tepat," seloroh Jerry sambil berjalan ke tempat Fela berada.
Sebuah senyum tipis terbit dari bibir Jessica tatkala ia melihat wajah tampan yang sedang tertawa lepas bersama Fela dan suaminya.
"Ya Tuhan ... apa semua ini nyata?" gumam Jessica dalam batinnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Jerry mempunyai perasaan sebesar itu untuknya.
"Sepertinya aku harus pulang, kalian pasti butuh waktu berdua untuk membahas perasaan yang selama ini terpendam," ucap Fela seraya beranjak dari sofa.
"Dasar ember!" sarkas Jerry sambil menatap Fela.
"Bodo amat! akhirnya aku bebas dari seorang pria yang suka nulis pesan macam orang nulis cerpen, yeah!" Fela berseloroh, hal itu berhasil membuat Jerry kesal.
Gelak tawa kembali di antara mereka. Setelah beberapa menit ngobrol hal yang tidak penting, akhirnya Fela dan suaminya pamit untuk pulang karena mereka sudah terlalu lama meninggalkan bayi gemas yang ada di rumah.
"Hati-hati, Bro ...." ucap Jerry sambil menepuk bahu suami Fela. Ia mengantar mereka sampai di depan pintu lift.
Jerry mengulas senyumnya setelah kembali ke kamar Jessica. Ia berdiri di sisi bed untuk menatap wajah yang sedang tertunduk di hadapannya.
"Je ...." Jerry menyentuh pipi Jessica dengan lembut, membuat sang pemilik mengangkat kepalanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Jerry dengan pandangan yang tak lepas dari wajah cantik tanpa polesan make-up itu.
Jeje tak juga mengeluarkan suaranya, ia masih sibuk menyelami manik hitam yang ada di hadapannya untuk mencari sebuah kebenaran.
"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku, Jer?" akhirnya setelah beberapa menit terdiam, Jeje mengeluarkan suaranya.
"Karena aku tidak mau jika kamu menjauh dari ku, Je. Aku takut kejadian waktu kita masih SMA terulang lagi," ucap Jerry, hal itu berhasil membuat Jeje menaikkan satu alisnya.
Keheningan mulai menyapa keduanya karena Jeje mencoba untuk mengingat kejadian apa yang pernah mereka alami hingga membuat Jerry trauma.
"Aku benar-benar lupa, Jer," ucap Jeje dengan nada penuh sesal.
__ADS_1
"Kejadian itu terjadi saat kita kelas tiga SMA, waktu itu aku pernah mengungkapkan perasaanku kepadamu, Je. Tapi ... kamu menolaknya dan sempat marah padaku. Akhirnya aku mengatakan jika aku hanya mengerjaimu," ucap Jerry dengan jelas, tak sedikitpun ia lupa tentang kejadian saat itu.
"Aku membiarkan cintaku tak bertuan, Je ... aku tidak masalah, asal aku bisa berada di sisimu dan membuatmu nyaman, meski aku harus merasakan sakit jika kamu menjalin hubungan bersama pria lain." sebuah pengakuan dari Jerry yang berhasil membuat hati Jeje terenyuh.
Jeje tak sanggup lagi untuk menatap manik hitam yang banyak menyimpan rasa untuknya. Ia kembali menghambur dalam dekapan hangat Jerry. Matanya terpejam untuk menikmati degup jantung Jerry yang mulai tak beraturan. Bulir bening kembali membasahi kemeja yang di pakai oleh Jerry.
"Kamu tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, Je. Tidak usah merasa bersalah kepadaku, oke?" Jerry membelai rambut yang di biarkan tergerai itu, ia sangat tahu apa yang ada dalam pikiran Jeje saat ini.
Jerry mengurai tubuh Jessica, ia menatap mata sendu yang di penuhi air mata. Jerry menghapus sisa air mata yang ada di pipi Jessica.
"Sudah saatnya kita menata masa depan, Je ... Lupakan masa lalu, dan sambutlah masa depanmu bersamaku, Je ...." sungguh, tatapan Jerry benar-benar membuat Jessica semakin gugup.
Cinta yang telah lama terpendam, kini mulai terbuka untuk mencari pemiliknya. Jessica sendiri sudah lama merasakan perasaan itu kepada Jerry, tapi sebisa mungkin ia melupakan semua perasaan itu, ia merasa tak pantas untuk menjadi wanita yang yang akan mendampingi seorang Jerryan Wongso.
"Tidak Jer, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Biarlah hubungan kita sama seperti sebelumnya." sebuah jawaban dari Jessica yang membuat Jerry terkejut.
"Kenapa, Je? bukankah kamu juga memiliki perasaan yang sama kepadaku?" tanya Jerry.
"Aku tidak mau mengulang kesalahanku, Jer ... kamu masih punya Dara, tidak seharusnya kita bersama. Menikahlah dengan Dara, Jer ...." ucap Jeje dengan wajah yang kembali tertunduk.
Jeje tidak mau merebut apa yang bukan miliknya. Jeje sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, merebut pasangan orang lain. Meski ia sendiri tahu bahwa Jerry mempunyai rasa yang besar untuknya.
"Kenapa Jer? kenapa kamu harus meninggalkan Dara? dia wanita yang pantas untuk mendampingimu terbang bersama Wongso IND," tanya Jessica dengan tatapan yang tak percaya.
"Dia tidak mencintaiku dengan tulus, Je ... aku tidak ingin menikah dengan wanita yang memiliki cinta bersyarat." kini Jerry menjauh dari tempat Jessica berada, ia memilih untuk berdiri di depan kaca besar dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit.
Flashback on
Makan malam romantis telah usai. Lilin-lilin di atas meja yang ikut menyaksikan keromantisan sepasang kekasih pun telah padam. Keheningan mulai terasa di Apartemen mewah milik Dara karena sang pemilik sedang asyik mamadu kasih di balkon Apartemen.
"Kapan aku bisa menemui orangtuamu, Dar?" tanya Jerry dengan tangan yang tak henti membelai rambut berwarna coklat milik Dara.
Dara menarik diri dari dekapan hangat sang kekasih. Ia menatap lekat manik hitam milik pria keturunan Mexico itu.
"Kamu mau melamarku?" Dara mencoba menerka apa yang ia temukan dari manik hitam di hadapannya.
"Iya," senyum tipis mengiringi jawaban singkat Jerry.
Dara beranjak dari tempatnya, berjalan menjauh menuju pembatas balkon. Kepalanya menengadah untuk menatap gemerlap bintang yang menghiasi langit malam.
__ADS_1
"Kamu meragukan keseriusanku, Dar?" tanya Jerry ketika sampai di sisi Dara. Jerry mengamati kegundahan yang terpancar di raut wajah cantik yang ada di sampingnya.
"Aku mempunyai syarat yang harus kamu penuhi jika ingin hubungan kita lanjut ke jenjang pernikahan," ucap Dara sambil menatap wajah penasaran milik kekasihnya itu.
"Katakan!"
"Bisakah kamu meninggalkan Jessica dan putranya ketika kamu melamarku nanti? aku tidak bisa hidup bersama dengan pria yang memiliki rasa kepada wanita lain," ucap Dara dengan tegas.
"Aku bisa saja menjauh dari Jessica, tapi tidak untuk Fano ... sampai kapanpun aku akan tetap ada sebagai ayahnya, Dar!" Jerry sangat tidak suka jika ada yang mengusik dirinya dan Fano.
"Kalau begitu lupakan saja rencanamu, aku tidak akan menikah denganmu sebelum kamu menjauh dari kehidupan Jessica dan Fano. Aku ingin memilikimu seorang diri," ucap Dara dengan penuh penekanan.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Jerry dengan kedua tangan yang di silangkan di depan dada.
"Lebih baik kita mengakhiri hubungan ini, aku tidak bisa hidup dengan pria yang mencintai wanita lain," ucap Dara yang berhasil membuat Jerry membelalakkan matanya.
Jerry tidak menyangka jika Dara bisa mengatakan semua itu. Ia pun tak bisa memaksakan keputusan Dara yang memang benar adanya.
"Baiklah kalau memang itu keputusanmu, aku akan menerimanya. Mulai saat ini hubungan kita berakhir Dar, terima kasih atas semua cinta yang kamu berikan selama ini," ucap Jerry sebelum meninggalkan Dara yang sedang termangu di balkon Apartemen.
Dara menghela nafasnya setelah mendengar keputusan Jerry. Ia sudah menduga bahwa hubungannya dengan Jerry akan berakhir seperti saat ini, karena sudah lama ia tahu bahwa Jerry menyimpan rasa kepada Jessica.
"Aku tahu perpisahan akan meninggalkan sebuah luka, tapi akan lebih baik terluka saat ini daripada harus terluka karena sebuah perceraian di masa yang akan datang. Maafkan aku Jer, aku pun sudah lama menghapus rasa cintaku kepadamu, aku sudah menyiapkan semua ini sebelumnya karena aku mengerti jika kamu tidak akan bisa terlepas dari jerat cinta Jessica." Dara bermonolog dalam hatinya sambil menikmati hembusan angin malam yang menyejukkan.
Flashback off
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
jadi bagaimana menurut kalian? mau Jerry dan Jeje bersatu gak nih?
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1