Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Aku gugup,


__ADS_3

Lima tahun kemudian ....


Hari terus berganti mengikuti waktu yang terus berlalu tanpa kenal lelah. Rumah tangga Jessica dan Jerry selalu di penuhi bunga-bunga cinta yang terus bersemi dan tak pernah layu. Sandungan kecil pun menjadi pemanis dari rumah tangga mereka berdua. Bohong, jika rumah tangga tidak pernah mengalami masalah.


Perbedaaan pendapat terkadang harus menjadi perdebatan kecil di antara mereka berdua. Tapi semua itu tak pernah membuat keduanya bertengkar hebat seperti pasangan lain. Di usia pernikahannya yang kelima, keduanya semakin dewasa dalam menyikapi masalah yang menerpa.


Jessica belum juga hamil sampai saat ini. Ia telah melepas alat kontrasepsi dan melakukan program hamil sejak pernikahannya berada di tahun kedua. Terkadang Jessica merasa resah karena tak kunjung hamil. Serangkaian tindakan medis sudah di jalani Jessica, pengobatan alternatif pun pernah di coba, nyatanya semuanya belum bisa membuahkan hasil.


"Sayang, lebih baik kita istirahat dulu dari program hamil yang sudah kita jalani. Lebih baik kita menghabiskan waktu berdua untuk bersenang-senang agar kamu tidak stres karena masalah bayi."


Ya, itulah kalimat yang pernah di ucapkan Jerry enam bulan yang lalu. Jerry tak mengizinkan lagi jika Jessica melakukan tindakan apapun yang berhubungan dengan terapi agar bisa hamil.


Selama enam bulan ini, Jerry sering membawa Jessica ke luar negeri untuk menghabiskan waktu berdua tanpa Fano. Bocah kecil itu sekarang sudah berusia sepuluh tahun, ia tidak terlalu suka jika ikut kedua orangtuanya jalan-jalan keluar negeri. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di Rumah bersama Bu Monik. Fano tumbuh dengan baik, ia menjadi pria kecil yang punya banyak prestasi di sekolah, baik akademik maupun non akademik.


Jessica sendiri telah mempercayakan butik dan salonnya kepada Rima dan Ana. Ia hanya berkunjung kesana dua kali dalam satu bulan. Jerry tidak mengizinkan lagi ia harus terjun langsung ke butiknya seperti dulu.


***


Mentari pagi bersinar dengan semangat yang tinggi, langit pun berubah menjadi cerah, gelapnya malam terkikis dengan datangnya sang raja sinar. Jerry berkacak pinggang di sisi ranjang ketika melihat tubuh sang istri yang lemah. Sejak pulang dari Dubai dua hari yang lalu, Jessica hanya menghabiskan hari-hari nya di atas tempat tidur.


"Sayang, pagi ini kita harus ke dokter! kali ini kamu harus nurut! aku sangat khawatir melihat keadaanmu seperti ini," ucap Jerry ketika melihat tubuh lemah sang istri.


Jessica menyadarkan tubuhnya di headboard ranjang, kedua bola matanya menatap Jerry dengan tatapan sendu hingga membuat Jerry menjadi semakin khawatir.


"Ada apa?" tanya Jerry seraya duduk di tepi ranjang.


Jessica menundukkan kepalanya, ia sangat bingung harus berkata bagaimana kepada Jerry tentang keresahannya, "Emm ... bagaimana kalau kita ke dokter Maitri saja?" Jessica menatap dalam manik hitam sang suami.

__ADS_1


"Kenapa ke dokter Maitri?" Jerry penasaran.


"Rasa sakit yang aku alami sama seperti dulu, sebelum aku di operasi. Aku takut ada kista lagi yang tumbuh di rahimku, Sayang." Jessica menghela nafasnya, sejak kemarin ia resah memikirkan hal ini.


"Baiklah, kita ke klinik dokter Maitri, bersiaplah!" Jerry menepuk paha Jessica.


Penunjuk waktu sudah berada di angka sepuluh pagi. Jessica dan Jerry sudah siap berangkat ke tempat praktek dokter Maitri. Wajah cantik yang biasa terlihat ON dengan lipstik merah merona kini tidak lagi terlihat, Jessica enggan untuk make-up seperti biasanya, ia lebih memilih warna nude untuk bibir ranum itu.


Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit di jalanan ibu kota yang macet, akhirnya sepasang suami istri itu sampai di klinik kandungan dokter Maitri. Suasana klinik masih sepi, hanya ada tiga pasien yang sedang antre di ruang tunggu.


"Sayang, aku gugup, aku takut," ucap Jessica setelah duduk berdampingan dengan Jerry di ruang tunggu.


"Jangan takut, kamu pasti baik-baik saja." Jerry mengusap lengan Jessica dengan segenap perasaan yang ia miliki.


Rasa resah terus mendera hati dan pikiran Jessica. Bayang-bayang rasa sakit beberapa tahun yang lalu sedang menari-nari di kepalanya. Telapak tangannya pun mulai terasa dingin, pertanda ia sedang di landa rasa cemas.


Jessica di arahkan asisten dokter Maitri untuk berbaring di bed pemeriksaan USG. Setelah perutnya di balur dengan Gel yang terasa dingin, akhirnya dokter Maitri datang dan duduk di samping bed Jessica.


"Selamat pagi Nyonya Wongso ... jadi apa yang Nyonya rasakan saat ini?" tanya dokter Maitri dengan di iringi senyum semanis madu.


Jessica menceritakan apa yang sedang ia rasakan dua hari ini tanpa terlewat sedikit pun. Rasa khawatir akan tumbuhnya kista di rahimnya pun telah ia sampaikan kepada dokter cantik mirip artis korea itu.


"Baiklah, kalau begitu mari kita lihat bagaimana kondisi rahim Nyonya. Silahkan Tuan dan Nyonya melihat layar yang ada di depan," ucap dokter Maitri sebelum melakukan pemeriksaan.


Dokter Maitri mulai menjelajah area perut bawah Jessica dengan alat yang sejak tadi ada di genggaman tangannya. Senyumnya mengembang begitu saja ketika melihat sebuah gambar hitam putih disana.


"Kapan terakhir kalinya Nyonya Je datang bulan?" tanya dokter Maitri.

__ADS_1


"Saya lupa dok, kan semenjak lepas kontrasepsi siklus menstruasi saya tidak lancar. Saya benar-benar lupa, dok," ucap Jessica dengan bola mata yang memutar untuk mengingat kapan dirinya terakhir datang bulan.


"Oke tidak masalah, Nyonya. Sekarang Nyonya dan Tuan bisa memperhatikan gambar di layar yang saya beri arahan itu, Nyonya dan Tuan bisa melihat bentuk kecil seperti kacang?" tanya dokter Maitri yang mendapat anggukan dari Jerry dan Jessica.


"Nyonya Jessica tidak mengidap penyakit apapun, tidak ada kista yang tumbuh, tapi ada sesuatu yang lebih besar tumbuh di rahim, Nyonya ...." dokter Maitri menggantung ucapannya untuk menggoda pasien yang sudah ia kenal hampir sepuluh tahun itu.


"Katakan dok! bagaimana keadaan istri saya!" raut wajah cemas pun mulai terlihat di wajah Jerry.


"Nyonya Jessica baik-baik saja, Tuan. Di rahim Nyonya Jessica ada janin yang baru tumbuh hampir satu bulan," ucap dokter Maitri. "Selamat Nyonya, akhirnya anda akan menjadi seorang ibu lagi setelah beberapa tahun menanti," lanjut dokter Maitri.


Sepasang suami istri itu hanya diam termangu, mereka belum percaya jika Tuhan telah mengabulkan keinginannya. Jessica terisak di atas bed pemeriksaan pasien, ia sendiri tidak menyangka jika ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya.


Setelah puas konsultasi masalah kehamilan bersama dokter Maitri, akhirnya sepasang suami istri itu keluar dari ruangan dokter Maitri dengan raut wajah bahagia.


"Ya Tuhan ... terima kasih Engkau telah memberikan hamba kepercayaan menjadi seorang ibu untuk yang kedua kalinya. Semoga tidak ada lagi gangguan yang datang setelah ini." gumam Jessica sambil menatap Jerry yang sedang duduk di depan apotek.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2