Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Obrolan sesama wanita,


__ADS_3

Satu minggu kemudian ....


Waktu terus berputar tanpa kenal lelah, mengantar semua insan melewati hari demi hari dengan rasa yang berbeda. Suka dan duka terus mengikuti mereka semua.


Begitu pun dengan Jessica, setelah menghadapi kenyataan pahit yang berhasil mengguncang jiwanya, perlahan ia bisa melewati kabut kenangan masalalu yang menyesakkan di dada dan tentu saja, semua itu ada campur tangan dari seorang pria keturunan Mexico, ya pria itu tak lain adalah Jerry.


Setiap hari Jerry meluangkan waktunya untuk menemani Jessica, memberinya kekuatan agar tidak terseret arus yang bisa menenggelamkan dirinya lagi. Jerry adalah saksi hidup atas semua yang terjadi dalam hidup Jessica, tak ada satu pun yang terlewati tanpa dirinya.


Hubungan Jessica dan Ezar masih berlanjut hingga saat ini, meski Jessica sendiri mulai merasakan keraguan dalam hatinya, namun ia belum bisa melepaskan Ezar begitu saja. Banyak hal yang harus ia pikirkan jika terus melangkah bersama dengan pria beristri itu.


Komunikasi antara Jessica dan Ezar hanya sebatas melalui telfon dan chat. Ezar benar-benar memenuhi janjinya kepada Bella untuk tidak bertemu dengan Jessica sampai Alana benar-benar sembuh dan Jessica tak keberatan akan hal itu, karena ia pun butuh waktu sendiri.


****


Penunjuk waktu masih berada di angka enam pagi, Raja sinar masih malu untuk menampakkan diri. Masih terlalu pagi untuk Jessica jika bangun dari tidurnya di hari minggu seperti saat ini. Namun, gejolak dalam perutnya sudah tak sabar ingin di keluarkan.


"Hoek ... hoek ...."


Jessica segera beranjak dari ranjangnya, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan sesuatu yang membuatnya mual sejak dua hari ini. Hanya cairan kekuningan yang terlihat di dalam wastafel putih itu.


Kondisi Jessica sedang tidak baik-baik saja sejak dua hari yang lalu, ia merasakan kram yang begitu hebat di perut bawahnya. Sebuah rasa tak nyaman yang pernah di rasakannya dulu.


"Apa mungkin jika Aku ...." lirih Jeje sembari menatap pantulan wajahnya di cermin besar yang ada di hadapannya.


Setelah di rasa kondisinya kembali stabil, Jeje segera membersihkan dirinya, ia mengisi hati bathup nya dengan air hangat dan tak lupa ia menuangkan sabun miliknya ke dalam sana.


Tiga puluh menit kemudian, Jessica keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang terlilit di kepalanya, membungkus rambut hitam yang basah.


Langkah Jessica harus terhenti di depan pintu menuju walk in closet, karena tiba-tiba saja perutnya kembali merasakan kram. Ia bersandar di samping pintu untuk mata yang terpejam.


"Ya Tuhan ...." rintih Jessica.


Lima menit Jessica merasakan hal itu, perlahan rasa sakit itu menghilang begitu saja. Jessica kembali melanjutkan aktifitasnya di walk in closet untuk mencari dress rumahan.


Tak butuh waktu lama untuk Jessica menghabiskan waktunya di ruangan yang di penuhi koleksi pakaian dan pernak-pernik miliknya, kini ia sudah duduk di depan meja riasnya, bersiap untuk memoles wajah cantiknya dengan beberapa make-up yang berjajar rapi disana.


Dering ponsel yang ada di atas meja berhasil menghentikan kegiatan Jessica, ia meletakkan pensil alisnya untuk mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Untuk apalagi dia menghubungiku?" gumam Jessica ketika melihat nama Bella di layar ponselnya.


Panggilan berlangsung cukup lama karena Bella harus membujuk Jessica agar mau bertemu dengannya, dan pada akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di Apartemen nanti sore.


"Apa dia akan mengajak kakaknya?" gumam Jessica setelah panggilan berakhir.


Sejenak Jessica memikirkan langkah yang harus di lakukannya jika nanti terjadi sesuatu disana. Tatapan nanar terpancar dari kedua manik hitamnya.


"Pers3tan dengan apa yang terjadi nanti! aku gak peduli ...." akhirnya Jessica menyudahi segala pikiran buruk yang ada dalam pikirannya.


Jessica melanjutkan kembali kegiatan yang sempat tertunda, buru-buru ia menyelesaikan polesan di wajahnya sebelum menemui Fano di kamarnya.


...🌹🌹🌹🌹...


Lenguhan panjang lolos dari bibir merah Jessica tatkala merasakan sebuah rasa yang berhasil membuatnya terbang tinggi. Sensasi rasa nikmat yang di berikan Ezar hampir membuatnya meledak tak karuan. Gerakan cepat yang di lakukan oleh Ezar berhasil membuat Jessica sampai pada puncak ke-ni-k-ma-tan hingga dua kali dalam sekali permainan.


"Aku mencintaimu ... aku mencintaimu, Je," Rancu Ezar di sela-sela permainannya.


Lagi dan lagi hanya sebuah erangan yang menjadi jawaban dari Jessica, ia tak dapat lagi berpikir jernih jika dalam keadaan seperti ini.


Ting ... tong ....


Bel kembali berbunyi, akhirnya Jessica beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu untuk Bella. Ia harus bersikap tenang agar bisa menahan diri di hadapan Bella.


"Silahkan masuk," ucap Jessica ketika pintu berhasil terbuka. Ia memberikan jalan untuk Bella agar masuk ke ruang tamu.


Keduanya duduk berhadapan, Jessica terus menatap Bella yang masih membisu. Seketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantuinya.


"Katakan, ada apa kamu menemui ku lagi?" tanya Jessica tanpa basa-basi.


"Aku ingin bicara denganmu sebagai sesama wanita, bukan sebagai istrinya Ezar," ucap Bella dengan tenangnya.


"Terus?" Jessica menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.


Bella pun akhirnya berbicara tentang bagaimana perasaannya saat ini. Bella melakukan semua ini demi menyelamatkan rumah tangganya, ia mencoba membujuk Jessica dengan cara lembut yang telah ia susun sejak kemarin malam.


"Je, aku dan kamu sama-sama wanita, bagaimana jika semua ini terjadi padamu?" tanya Bella sembari menatap wajah cantik di hadapannya.

__ADS_1


Jessica hanya melengos mendengar pertanyaan dari Bella, senyum smirk pun terbit dari bibirnya, "aku sudah pernah merasakannya lebih dari ini," ucap Jessica dengan nada penuh kebencian.


Bella tertegun setelah mendengar jawaban dari Jessica, ia semakin penasaran dengan wanita yang ada di hadapannya apalagi ketika melihat ekspresi wajah penuh kebencian yang tersirat dari wajah Jessica.


"Lalu kenapa kamu melakukan ini semua?" tanya Bella lagi,


"Karena aku ingin tau bagaimana rasanya menjadi pelakor, aku ingin tau sensasi dari bersenang-senang dengan pria beristri," ucap Jessica yang berhasil membuat Bella meremas ujung dress yang di pakainya.


Bayangan wajah Ezar seketika terlintas dalam pikiran Bella, rasanya ia tak sanggup membayangkan suaminya berbagi ke-ni-k-ma-tan dengan wanita lain.


"Kita sama-sama mempunyai anak, pernah kah kamu berpikir bagaimana perasaan anak kita jika tau orangtuanya mempunyai pasangan lain?" Bella mencoba menekan Jessica dengan menyinggung tentang perasaan seorang anak.


Jessica terhenyak dari tempat duduknya, ia berdiri di hadapan Bella dengan wajah yang memerah karena emosi.


"Aku tidak merebut suamimu sepenuhnya, aku hanya ingin kau berbagi, aku tidak pernah memisahkan anakmu dari Ezar!" ucap Jessica yang sedang berkacak pinggang di hadapan Bella.


"Jangan membawa anak disini! asal kamu tahu, apa yang aku lakukan tak sebanding dengan apa yang dilakukan ibumu, Nyonya Lidya yang ke-pa-ra-t itu!"


Bella terkejut bukan main, bagaimana Jessica bisa tahu siapa nama ibunya. Ia menjadi semakin penasaran apalagi setelah Jessica mengatakan jika ibunya ada seorang ke-pa-ra-t, "apa maksudmu? kenapa kamu menyebut Mama seperti itu?" tanya Bella,


"Kamu yakin ingin mendengar sebuah kebenaran yang selama ini di sembunyikan oleh kakakmu yang ja-la-ng itu? kamu siap heh?" Teriak Jessica, kali ini ia sudah lepas kendali karena harus mengingat semua kejadian yang pernah menimpanya dulu.


"Waktu itu ...."


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍β™₯️


Mohon maap ye karena telat up hari iniπŸ™πŸ˜‚


Hayo hayo ada yang bisa menebak ada apa di episode selanjutnya?


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2