Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Tak Sadarkan Diri,


__ADS_3

Mentari pagi telah beranjak dari tempatnya, menampilkan senyum terindah yang bisa menghangatkan semua insan. Penunjuk waktu masih berada di angka enam pagi, namun Fano sudah rapi dengan pakaian santainya. Anak kecil itu sangat antusias jika mendengar kata 'liburan' yang terucap dari bibir Jerry ataupun Jessica.


"Kak Lila, Mama kenapa lama sekali sih!" gerutu Fano ketika tak kunjung melihat batang hidung Jessica dalam ruang makan itu.


"Mungkin Mama masih ganti baju, Fano minum susu dulu ya," ucap Lila sembari menyerahkan segelas susu coklat kesukaan Fano.


Hampir tiga puluh menit Fano menunggu kehadiran Jessica, ia semakin kesal di buatnya karena sang mama yang tak kunjung keluar dari kamar. Fano memutuskan kembali ke lantai dua untuk menjemput sang mama.


Satu persatu anak tangga telah Fano lalui, kini ia berada di depan pintu kamar Jessica. Berkali-kali ia mengetuk pintu yang masih tertutup itu, namun tak ada jawaban dari dalam.


"Mama ... buka pintunya Ma!" teriak Fano dengan tangan yang tak henti mengetuk pintu kamar.


Fano semakin kesal karena tak mendapat jawaban dari Jessica, ia berpikir jika sang mama masih tertidur pulas di dalam sana.


"Fano ...." tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar di indera pendengaran Fano, membuat ia membalikkan tubuhnya untuk menatap sang pemilik suara.


"Papa ... buka pintu kamarnya Mama pa, tangan Fano panas dari tadi ngetuk pintunya Mama," celoteh Fano, ia mengadu kepada Jerry hal yang membuatnya kesal sejak tadi.


Jerry baru saja sampai di rumah Jessica, ia sengaja berangkat lebih pagi karena ingin sarapan bersama dengan Jeje dan Fano, "tunggu ya, biar Papa yang membuka kamar Mama," ucap Jerry.


Jerry menekan deretan angka yang ada di kunci digital yang ada disamping pintu, Ia tahu betul angka berapa yang di pakai Jessica untuk mengunci kamarnya.


Jerry mengedarkan pandangan ke seluruh isi kamar, namun ia tidak menemukan sosok Jessica di sana. Ranjang itu kosong tak berpenghuni, membuat Jerry mengernyitkan keningnya.


"Kamar Mama kosong, Fan." Jerry menatap Fano yang masih di sampingnya.


Tanpa menjawab ucapan Jerry, Fano masuk ke dalam kamar untuk mencari keberadaan Jessica. Tanpa mengetuk pintu ia membuka pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat itu. Pemandangan di dalam kamar mandi membuat Fano terkesiap.


"Mama!!" ucap Fano ketika melihat tubuh Jessica tergeletak di lantai kamar mandi.


Jerry segera masuk setelah mendengar teriakan Fano di dalam kamar mandi. Matanya membulat seketika tatkala melihat Jessica yang tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.


"Fano ... panggil kak Lila, minta kotak P3K!" perintah Jerry sembari mengangkat tubuh Jessica.

__ADS_1


Jerry membawa tubuh Jessica keluar dari kamar mandi lalu ia membaringkan tubuh lemah itu di atas tempat tidur. Jerry melepas high heels yang masih terpasang di kaki Jessica.


"Je ... bangun, Je!" Jerry menepuk pipi Jessica, lalu ia menekan pergelangan tangan Jessica untuk memastikan denyut nadi nya.


"Tuan ... ini kotak P3K nya," ucap Lila ketika sampai di kamar Jessica. Ia segera mengangkat tubuh Fano ke dalam gendongannya, "jangan menangis ya, Mama pasti bangun," ucap Lila sembari mengusap air mata yang terus membasahi pipi Fano.


Jerry mengoles sedikit minyak kayu putih di bawah hidung Jessica, ia terlihat panik saat ini karena melihat wajah Jessica yang semakin pucat.


Beberapa menit kemudian, Jessica mengerjapkan matanya pelan. Ia meringis karena menahan sebuah rasa sakit di perutnya.


"Jer, perutku sakit." Jerry menekan perut bawah sebelah kanan.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya, Je ... ayo bangunlah dan minum air dulu, setelah itu kita ke rumah sakit." Jerry membantu Jessica untuk duduk bersandar di headboard ranjang, lalu ia menyerahkan segelas air putih yang ada di atas nakas.


Fano merengek ingin ikut bersama Jessica tapi Jerry tak mengizinkannya, dengan segala bujuk rayu akhirnya Fano mau menuruti apa yang di ucapkan Jerry.


"Tolong jaga Fano," ucap Jerry kepada Lila sebelum keluar dari kamar Jessica.


Setelah membantu Jessica duduk dengan nyaman di dalam mobilnya, akhirnya kuda besi itu berlalu dari halaman rumah Jessica.


Jerry menambah kecepatan mobilnya ketika Jeje kembali merasakan rasa sakit itu. Ia semakin panik tatkala mendengar tangisan Jessica.


"Tahan ya Je, tidak lama lagi kita akan sampai," ucap Jerry sembari mengusap rambut Jessica.


Dua puluh menit berlalu begitu saja, kini Jerry telah sampai di Rumah sakit elit yang ada Di Jakarta selatan, dimana saham keluarga Wongso tertanam disana.


Dari kejauhan terlihat seorang suster berdiri di depan pintu IGD untuk menunggu kedatangan Jessica, suster itu sudah siap dengan kursi roda di hadapannya karena Jerry sudah menghubungi pihak Rumah sakit sejak dalam perjalanan.


"Bapak tidak bisa masuk, silahkan tunggu diluar ya Pak," ucap suster itu dengan kalem sebelum membawa Jessica masuk ke dalam IGD.


Resah dan gelisah, itulah yang di rasakan Jerry saat ini. Dipikirannya hanya ada Jessica, Jessica dan Jessica. Ia takut terjadi sesuatu yang serius kepada sahabatnya itu.


Setelah tiga puluh pintu IGD akhirnya terbuka, seorang suster berdiri di depan pintu untuk mencari seseorang, "keluarga Ibu Jessica silahkan masuk ...." Jerry akhirnya mengayun langkah untuk masuk kedalam IGD.

__ADS_1


Jessica terbaring di salah satu bed yang di dalam IGD, selang infus pun sudah terpasang di punggung tangannya, kondisinya lebih baik dari sebelumnya.


"Aku harus di rawat, Jer ...." lirih Jessica dengan mata sayu nya.


"Itu akan lebih baik, kamu harus sembuh. Oke?" Jerry mengusap rambut Jessica.


Jerry mengalihkan pandangannya ketika seorang suster datang bersama dokter jaga. Dokter itu pun menjelaskan hasil diagnosa awal Jessica,


"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik, dok ...." ucap Jerry setelah dokter tersebut selesai menjelaskan apa yang harus dilakukan setelah ini.


Jessica harus di rawat selama beberapa hari untuk memastikan penyakit yang di deritanya. Dokter IGD mendiagnosa bahwa ada kista yang tumbuh di ovarium Jessica, namun semua pemeriksaan itu di alihkan ke dokter spesialis kandungan agar mendapat hasil yang akurat.


"Setelah ini kami akan memindahkan Ibu Jessica ke ruangan khusus keluarga Wongso," ucap seorang perawat yang berdiri di samping dokter IGD.


"Terima kasih," ucap Jerry sebelum kedua orang itu berlalu pergi.


Jessica menatap langit-langit IGD untuk mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Ia mengingat kondisi terakhirnya sebelum hamil. Sebuah ketakutan tiba-tiba menyerang hatinya.


"Ya Tuhan ...." gumam Jessica dengan mata yang berembun.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โ™ฅ๏ธ๐Ÿ˜


Hallo para Reader kesayangan othor๐Ÿ˜ akoh cuma mau mengabarkan jika dalam beberapa hari ke depan, akoh tidak bisa double up ya dikarenakan di RL banyak kesibukan di keluarga besar๐Ÿ™ Akoh hanya bisa up satu bab sehari nih, ntr kalau bisa nyuri waktu pasti akoh double up๐Ÿ˜‚


_


_


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท

__ADS_1


__ADS_2