
Aroma obat-obatan menyeruak masuk ke dalam indera penciuman siapapun yang masuk ke dalam gedung raksasa bernama Rumah sakit. Seperti seorang wanita berambut coklat yang sedang mendaftarkan diri di loket untuk berkunjung ke dokter gigi. Bella mengulas senyumnya kepada petugas yang ada di loket pendaftaran setelah selesai mendaftarkan diri.
Bella setiap bulan selalu datang ke dokter gigi untuk sekedar perawatan gigi. Ia harus tampil sempurna, apalagi di hadapan Ezar. Ia tidak mau kalau sampai kalah dengan Jessica, ia harus bisa merebut Ezar kembali dari Jessica.
Pasien dokter gigi sedang membeludak, membuat Bella tak mendapat tempat duduk yang ada di depan ruangan dokter gigi, terpaksa ia harus mencari kursi kosong yang ada di depan ruangan dokter anak. Ia pun duduk dengan anggun disana, ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Sang Mama.
"Nanti Bella akan mampir ya Ma," ucap Bella sebelum panggilan berakhir.
Bella mengedarkan pandangannya ketika mendengar nama Jessica Almahira dipanggil dari pengeras suara. Hatinya di rundung rasa cemas ketika mendengar nama keramat itu.
"Ya Tuhan ...." gumam Bella setelah melihat seorang wanita yang masuk ke dalam ruang praktek dokter kandungan. Kakinya seakan kehilangan tenaga ketika melihat suaminya ikut masuk kedalam ruang itu bersamaan dengan Jessica.
"Mungkin kah wanita itu hamil?" lirih Bella dengan hati yang bergemuruh.
Pikiran negatif terus menghantui dirinya, rasanya ia tak sabar lagi menunggu dua orang yang ada di dalam ruangan itu. Karena di rundung rasa penasaran yang begitu besar, akhirnya Bella beranjak dari tempatnya. Ia mendekat ke ruangan tempat periksanya para wanita dengan perut buncit.
Jantung Bella berdegup kencang ketika melihat handel pintu yang tertarik. Ia semakin cemas ketika melihat pintu itu terbuka lebar. Sungguh, hatinya semakin bergemuruh ketika melihat pasangan yang baru saja keluar dari ruangan itu dengan binar bahagia yang terlukis di wajah keduanya.
"kenapa mereka terlihat bahagia, apa wanita itu benar-benar hamil?" Bella bermonolog dengan suara yang lirih,
Bella segera beranjak dari tempat duduknya, ia mengayun langkah untuk mengikuti suaminya yang sedang bergandeng mesra di depan umum bersama selingkuhannya.
"Untuk apa kalian ke dokter kandungan?" tanya Bella ketika dua orang yang diikutinya berhenti di depan lift.
Ezar seketika membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara yang sangat di kenalinya. Ia tertegun ketika melihat Bella yang berdiri di belakangnya.
"Bella ...." lirih Ezar dengan tangan yang masih menggenggam tangan Jessica.
Kini Jessica pun membalikkan tubuhnya, ia terlihat tenang di hadapan Bella. Tak ada raut wajah yang menunjukkan rasa bersalah di hadapan istri sah kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kamu hamil?" Bella melayangkan pertanyaan itu tanpa basa-basi lagi. Kini ia menatap wajah tenang Jessica dengan wajah yang memerah karena menahan air mata yang sudah terbendung di pelupuk matanya.
Jessica tak bersuara, ia hanya mengangkat dua bahunya, membuat Bella semakin penasaran karenanya.
"Kamu bisa tanyakan langsung kepada Ezar," ucap Jessica. Hal itu membuat Ezar menepuk keningnya.
"Ezar ... aku bisa pulang sendiri, untuk saat ini Bella lebih membutuhkanmu untuk menjelaskan semua yang terjadi," ucap Jessica sembari menatap wajah Ezar.
"Tapi Je, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian," ucap Ezar tanpa memperdulikan perasaan sang istri yang berdiri di hadapannya.
"Sudahlah, jangan khawatirkan aku," Jessica menepuk pundak Ezar, "Semoga pekerjaanmu di Thailand lancar ya, hati-hati ...." ucap Jessica.
Bella membelalakkan matanya ketika melihat secara langsung bagaimana Jessica mengecup pipi suaminya, rasanya ingin sekali ia menarik rambut wanita yang sudah masuk ke dalam lift itu. Hancur, ya hati Bella semakin hancur saat ini, apalagi ketika melihat suaminya yang pasrah, Ezar seakan tak memperdulikan perasaannya lagi.
"Aku tadi hanya memastikan kondisi Jessica, ternyata dia tidak hamil," ucap Ezar dengan wajah penuh sesal, "jika kamu ingin membahas masalah ini, mari kita pulang ... aku tidak ingin kita bertengkar di tempat umum," Ezar meraih pergelangan tangan Bella.
Tatapan kosong terpancar dari kedua manik hitamnya, hati dan pikirannya sedang tidak sejalan saat ini. Bella menatap ke sebelahnya ketika Ezar menepuk bahunya membuat lamunannya hilang sudah entah kemana.
"Dimana mobilmu?" tanya Ezar.
"Pulang lah terlebih dahulu, temani Alana di rumah. Aku butuh waktu sendiri untuk meredam amarah yang sedang menggebu saat ini, pulanglah!" perintah Bella.
"Memangnya kamu mau kemana, Bel?" tanya Ezar, ia hanya memastikan keberadaan istrinya. Ia tahu hal yang baru saja dilakukan Jessica kepadanya, berhasil menambah luka dalam hati Bella, ia pun merasa bersalah karena hal itu.
"Itu bukan urusanmu!" sarkas Bella. Ia berlalu begitu saja dari hadapan Ezar.
Ezar menghela nafasnya, ia pun tak berhak marah jika Bella berlaku kasar kepadanya. Ezar mengayun langkah meninggalkan gedung raksasa yang di penuhi berbagai peralatan medis di dalamnya.
Sementara itu di dalam mobil berwarna putih, Bella tergugu dengan kepala yang tertunduk di atas setir mobilnya. Kali ini ia benar-benar hancur ketika melihat langsung bagaimana Jessica memperlakukan suaminya. Ia tidak bisa membayangkan apa saja yang sudah di lakukan Ezar bersama Jessica ketika berada di Apartemen.
__ADS_1
"Berarti mereka benar-benar melakukan hubungan intim ketika sedang berdua," lirih Bella ketika mengingat pengakuan Ezar jika Jessica sedang tidak hamil, ia menarik kesimpulan dari sana.
Bella meremas setir mobilnya, dadanya terasa sesak karena menahan amarah yang begitu besar dalam hatinya. Luka yang baru saja mengering kini harus kembali basah, bahkan saat ini dirinya lebih hancur dari sebelumnya.
Mobil putih itu seakan menjadi saksi bisu bagaimana ratapan pilu seorang Bella Aruna, Hampir tiga puluh menit ia tenggelam dalam tangisnya.
"kali ini Mama harus tau, aku tidak bisa menahannya lagi ...." ucap Bella seraya memutar kunci mobilnya. Ya, saat mengetahui kebenaran yang di katakan Jessica, Bella mengurungkan niatnya untuk memberitahu Bu Lidya, ia tak punya keberanian untuk mengatakan semua itu kepada sang Mama.
Bella melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah Sang Mama. Di sepanjang jalan, Bella terus meratapi nasibnya. Ia kehilangan arah dan tujuan hidupnya saat ini.
Tiga puluh menit kemudian, Bella telah sampai di halaman rumah Bu Lidya. Ia menatap bangunan megah di hadapannya, seketika ia teringat semua cerita yang di ucapkan Jessica saat itu.
"Ini kah rumah Jessica yang di rebut Mama dan Kakak, aku pun pernah tinggal di rumah ini," gumam Bella sebelum keluar dari mobil.
Setelah membersihkan wajahnya dari sisa air mata, Bella segera keluar dari mobil. Ia segera masuk ke dalam rumah dengan desain klasik ini.
"Mama ...." teriak Bella ketika melihat Bu Lidya sedang merangkai bunga lili di dekat tangga.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1