Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Aku bersedia,


__ADS_3

"Jer, apa yang sudah kamu katakan?" tanya Jeje dengan langkah cepat untuk mengimbangi Jerry.


Jerry menarik tangan Jessica menuju lantai dua sesaat setelah mengunci pintu butik dari dalam. Di pagi yang cerah ini, Jerry rasanya ingin menghukum Jessica, ia sangat tidak suka ada pria lain yang menyentuh wanita miliknya, mungkin dulu ia hanya diam, tapi untuk saat ini hal itu tak bisa di bendung lagi.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, kalau kamu ingin membuka butikmu, telfon saja karyawanmu!" ucap Jerry ketika sudah berada di ruangan Jessica yang ada di lantai dua.


Jessica pun mengikuti apa yang di perintahkan Jerry. Ia merogoh ponsel yang ada di dalam tas untuk menghubungi Rima dan yang lainnya agar datang lebih cepat.


"Ada apa, Jer?" tanya Jessica setelah menyelesaikan urusannya, kini ia berdiri di samping Jerry yang sedang bersandar di meja kerjanya.


"Kemarin malam Fery datang menemuiku, Je." Jerry mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Jessica menaikkan satu alisnya ketika mendengar kabar dari Jerry, lalu ia menerima ponsel yang baru saja di berikan Jerry kepadanya, layar ponsel itu menampilkan sebuah video, hasil rekaman CCTV di Ruang tamu milik Jerry.


Detik demi detik terus berjalan sampai video itu menampilkan adegan dimana Jerry mengungkap kebenaran identitas Fano. Jeje membekap mulutnya ketika mendengar ucapan Fery, dimana ia akan membawa Fano untuk ikut bersamanya.


"Tidak ... tidak ... ini tidak boleh terjadi." Jeje menggeleng beberapa kali. Ia semakin membelalakkan mata ketika melihat Jerry sedang menghajar Fery tanpa ampun.


Jessica menghentikan video itu lalu ia meletakkan ponsel Jerry di atas meja. Wajah cantiknya seketika berubah menjadi sendu ketika membayangkan Fano pergi darinya.


Jerry berdiri tegap di hadapan Jessica, ia tau jika saat ini Jessica sedang memikirkan tentang Fano.


"Jangan khawatir, Fano akan tetap bersama kita, aku tidak akan membiarkan Fery membawa putra kita," ucap Jerry sambil mengangkat dagu Jessica dengan jari telunjuknya agar ia bisa memandang manik hitam itu.


"Menikahlah denganku, Sayang ... agar aku bisa melindungi Fano dan dirimu," ucap Jerry dengan pandangan yang tak beralih dari manik hitam Jessica.


Jessica tertegun mendengar permintaan Jerry yang kesekian kalinya. Ia benar-benar bingung dengan langkah yang harus ia lakukan setelah ini.


"Jangan takut, Je. Aku selalu bersamamu, aku akan menjagamu dan Fano. Tolong pertimbangkan permintaanku," ucap Jerry dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Jeje menatap manik hitam yang menyiratkan sebuah perasaan cinta yang sangat besar untuknya. Tanpa di komando, tangan kanannya terulur begitu saja untuk menjelajahi rahang yang di tumbuhi jenggot tipis itu.


Jerry memejamkan matanya ketika merasakan sentuhan lembut dari wanita yang ada di hadapannya. Darahnya berdesir ketika merasakan tangan lembut itu menyusuri lehernya dan berakhir di tengkuk.


Kelopak mata Jerry yang tertutup itu, kini terbuka lebar ketika merasakan sebuah kecupan lembut mendarat di bibirnya. Tak pernah ia duga sebelumnya jika Jeje berinisiatif untuk menciumnya terlebih dulu.


Jerry kembali meraup bibir berwarna merah itu setelah beberapa detik terlepas. Kedua bibir itu akhirnya bersatu, saling bertautan satu sama lain hingga menimbulkan suara decapan di ruangan itu.


"Aku bersedia menikah denganmu, Jer," ucap Jessica setelah mengakhiri tautan bibirnya bersama Jerry.


"Katakan sekali lagi!" ujar Jerry untuk meyakinkan apa yang baru saja di dengarnya.


"Aku bersedia menjadi istrimu, aku mencintaimu ... sangat mencintaimu, Jerryan Wongso." sebuah jawaban yang selama ini diinginkan Jerry akhirnya terjawab juga.


Sekali lagi, tanpa permisi ... Jerry me-lu-mat bibir berwarna merah di hadapannya, pertautan keduanya pun kembali terjadi. Permainan lidah seakan tak dapat di hindari lagi, menyesap satu sama lain hingga membuat keduanya kehabisan oksigen.


"Tapi kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat ini, Jer. Tunggu sampai aku benar-benar sembuh," ucap Jessica di dada bidang Jerry.


"Kalau begitu kita harus menemui dokter Maitri sekarang juga, aku ingin memastikan keadaanmu," ucap Jerry seraya menarik pergelangan tangan Jessica agar mengikuti langkahnya.


Pasrah, ya itulah yang di rasakan Jessica saat ini. Ia tak kuasa untuk menentang keinginan Tuan muda keluarga Wongso ini. Ia hanya bisa mengikuti apa yang di inginkan Jerry saat ini.


Jessica mencoba menghapus semua keraguan yang ada dalam hatinya. Ia harus kembali membangun sebuah kepercayaan yang sempat membuatnya trauma dalam menjalani pernikahan.


Jerry adalah sosok pria sempurna di mata Jessica. Perhatian, cinta dan kasih sayang Jerry untuk Fano adalah perioritas pertama Jessica. Ia percaya jika Fano tak akan kekurangan kasih sayang dari seorang ayah, meski Jessica sendiri menyembunyikan Fery dari Fano.


Waktu terus berlalu begitu saja, kini mereka berdua telah sampai di Rumah sakit tempat dokter Maitri praktek setiap harinya. Tanpa harus antri lama, mereka berdua telah masuk ke dalam ruangan dokter Maitri untuk melakukan konsultasi.


Dokter Maitri menjelaskan apa saja yang harus di lakukan Jessica, kapan ia benar-benar bisa melakukan aktivitas S-e-x tanpa rasa khawatir dengan luka jahitan di perutnya.

__ADS_1


Jerry sangat antusias bertanya kepada dokter Maitri, ia benar-benar memastikan bagaimana kondisi Jessica.


"Terima kasih dok atas semu sarannya, kami permisi," ucap Jessica setelah konsultasi telah selesai.


Keduanya keluar dari ruangan dokter Maitri dengan senyum merekah yang menghiasi wajah masing-masing. Jerry tak melepaskan tangannya dari pinggang ramping Jessica, ia tidak perduli meski banyak mata yang memandang dirinya yang terlalu berlebihan di depan umum.


"Jangan ke Butik hari ini, kita pulang saja," ucap Jerry sebelum membukakan pintu untuk Jessica.


"Tapi, banyak yang harus ku selesaikan di Butik, Jer. Antar aku ke butik sekarang juga," titah Jessica seraya duduk di kursi depan.


Mengalah, mungkin kata itu yang sedang di lakukan oleh Jerry. Ia harus menurunkan egonya agar Jessica nyaman bersamanya.


"Nanti malam aku akan menemui di Rumah, kita makan malam bersama," ucap Jerry sebelum melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir Rumah sakit.


"Baiklah, akan aku siapkan makanan favorit mu," ucap Jessica dengan diiringi senyum yang sangat manis.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Yang punya vote boleh dong di kasihkan ke mbak Jeje🤣


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2