
Sebuah kapal yang berlayar harus berhenti di lautan, dimana ada badai besar yang menerpa, sang Nahkoda memilih untuk melepas kemudinya, menyelam ke dasar lautan yang di penuhi banyak duri, meninggalkan seorang permaisuri yang sedang terombang-ambing seorang diri, merasakan goncangan yang begitu besar di dalam kapal.
Luka yang tergores karena sebuah penghianatan sangatlah pedih, apalagi ketika orang yang kita cintai dengan lantangnya mengakui kebenaran yang di lakukannya selama ini. Lebih memilih pergi daripada harus memperbaiki.
Bahtera rumah tangga yang berawal bahagia kini berada di ujung kehancuran. Entah karena sang istri yang tak pandai menjaga rumah tangganya atau karena sang suami yang telah lupa akan kebahagiaan yang selama ini di dapatkannya.
Waktu terus berlalu begitu saja, sang surya dengan angkuhnya menampakkan sinarnya, membuat siapa saja ingin mencari perlindungan dari kuasa sang surya. Penunjuk waktu sudah berada di angka sebelas siang, namun tak sedikitpun Bella menggerakkan tubuhnya, ia masih tenggelam dalam duka rumah tangganya, ia masih duduk di kursi kerja sang suami dengan pandangan kosongnya.
Pikirannya melalang jauh entah kemana, mencari satu persatu kesalahan yang pernah ia lakukan. Berkali-kali ia merutuki ke-bo-do-ha-n nya karena membiarkan keangkuhan dan keegoisan menguasai diri sampai ia lupa bagaimana perasaan sang suami.
Semua terlanjur terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Kini, Bella sedang memikirkan hal yang harus di lakukannya setelah ini. Ia terus memijat keningnya yang terasa berat karena menanggung sebuah beban rumah tangga yang sudah tak berbentuk lagi, hancur.
Bella terus menatap foto pernikahannya bersama Ezar yang ada di meja. Ia menatap senyum khas yang terpancar dari bibir sang suami yang sangat di cintainya selama ini. Seulas senyum tipis terukir dari bibir pucatnya tatkala mengingat momen bahagia itu.
Manik hitam yang redup itu mulai menyusuri isi ruang kerja dengan nuansa abu muda. Sebuah ide muncul dari pikirannya.
"Aku harus mencari sesuatu disini, Ezar pasti menyembunyikan sesuatu di ruang kerja ini, setiap malam ia menghabiskan waktunya disini," gumam Bella seraya berdiri dari kursi nyaman itu. Ia mulai membuka persatu almari kaca yang ada di ruang kerja Ezar.
Bella kembali menghempaskan diri di kursi hitam itu, ia tak menemukan apapun disana. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada laci-laci yang ada di balik meja kerja, membuatnya segera menarik satu persatu laci yang ada di sana.
Bella menarik laci yang tertutup rapat di urutan paling bawah. Jantungnya berdegup kencang ketika menarik handle berwarna gold itu.
Kedua manik hitam yang telah sayu itu harus melebar sempurna tatkala melihat sebuah ponsel tersimpan disana. Ia segera meraih ponsel itu untuk mencari sesuatu yang tersimpan disana.
Detik berikutnya, bulir air mata kembali turun dengan derasnya tatkala ia membuka aplikasi berwarna hijau, dimana tersimpan pesan-pesan Ezar bersama Mrs. Cherry.
"Jadi ... malam itu yang menghubungi Ezar adalah selingkuhannya," gumam Bella ketika mengingat kejadian malam dimana nama Mrs. Cherry menghubungi sang suami.
"Ya Tuhan ...." jerit Bella yang tergugu di lantai granit berwarna hitam itu.
__ADS_1
Hancur, ya itulah yang di rasakan Bella saat ini. Apalagi ketika ia membaca satu persatu pesan mesra yang di tulis oleh suaminya, membuat dadanya semakin sesak.
Bella segera menutup aplikasi berwarna hijau itu, jari nya pun tak sengaja menekan galeri, banyak foto yang dan video yang tersimpan disana.
Tangis Bella pun semakin pecah, ketika melihat foto Ezar bersama Jessica dan dua anak kecil, salah satunya adalah Alana, putri kandungnya. Ia tidak menyangka Ezar sudah melakukan hal gila ini dengan melibatkan putrinya.
"Kamu benar-benar gila, Ezar!" teriak Bella dalam tangisnya.
"Bagaimana bisa kamu membawa putri kita pergi bersama wanita lain!" Bella semakin meracau tak karuan.
Air mata Bella seakan tak pernah habis, hampir setengah hari ia meneteskan bulir bening itu tanpa henti. Kedua netra indahnya terus menatap satu persatu foto dan video kebahagiaan putrinya ketika liburan bersama Ezar.
"Bahkan putriku nyaman bersama Ja-la-ng itu! Astaga ... kenapa semua ini bisa terjadi, salahku dimana ...." ucap Bella penuh sesal. Ia semakin tergugu ketika membayangkan hal itu.
Bella meletakkan kembali ponsel Ezar kedalam laci, ia segera bangkit dari tempatnya saat ini. Berjalan tertatih menuju sofa hitam yang ada di sudut ruangan. Ia harus istirahat agar bisa berpikir jernih dan bisa mencari jalan keluar untuk kerumitan ini.
Angin berhembus kencang, membuat daun-daun menari dengan indahnya. Jalanan ibukota masih di penuhi lalu lalang kendaraan bermotor, seakan mereka tak memperdulikan sang surya yang menunjukkan kuasanya.
Pintu Apartemen terbuka lebar, Ezar segera masuk ke dalam untuk mencari sosok wanita yang sejak tadi di memenuhi relung hatinya, wanita yang berhasil mengusik konsentrasinya saat bekerja.
"Je ... Kamu dimana?" teriak Ezar ketika tidak menemukan Jessica di ruang tengah atau pun balkon Apartemen.
Ezar segera mengayun langkah menuju kamar. Pandangannya terfokus pada wanita yang ada di samping ranjang king size itu, wanita yang sedang duduk di lantai dengan pandangan lurus ke depan.
"Je, kamu baik-baik saja?" tanya Ezar ketika mengangkat dagu Jessica agar menatap wajahnya.
"Kamu menangis? apa yang sudah di lakukan oleh Bella?" Ezar semakin panik melihat kebungkaman Jessica.
Kedua manik hitam itu saling memandang, saling menyelami satu sama lain. Tak lama setelah itu, senyum Jessica pun mulai terbit dari bibir polosnya.
__ADS_1
"Aku tidak menangis, Sayang." lirih Jessica dengan tenangnya.
Ezar segera meraih tubuh Jessica kedalam dekapannya. Ia terus menghujani puncak rambut Jessica dengan kecupan yang tiada henti, seakan ia benar-benar takut kehilangan wanita yang ada dalam dekapannya ini.
"Kenapa kamu belum pulang? apa ada sesuatu yang membuatmu resah?" tanya Ezar yang masih berlutut di hadapan Jessica.
"Aku masih ingin disini, menunggu kedatanganmu. Untuk apa aku pulang, putraku sedang bersama Jerry, dia tidak mengizinkan aku kesana," ucap Jeje dengan suara yang bergetar.
Hembusan nafas lega terdengar dari indera penciuman Ezar. Ia takut jika Jessica di serang Bella, ia takut Jessica tidak bisa melawan Bella, karena Ezar tahu bagaimana Bella jika sudah di penuhi amarah.
Jessica semakin menelusupkan wajahnya di dada nyaman milik Ezar. Entah apa yang membuatnya menjadi melow saat ini, yang pasti bukan Fano atau pun Jerry yang saat ini membuat hatinya gundah.
Lautan cinta yang di penuhi duri terlanjur ia selami, mau tidak mau ia harus menerima semua ini. Tidak ada penyesalan dalam hatinya karena semua ini sudah di ketahui oleh istri sah Ezar, namun ada sesuatu hal yang berhasil mengusik hatinya. Entah apa itu ....
_
_
Terima kasih sudah membaca dan mendukung karya ini, semoga suka 😍♥️
Jangan lupa follow akun sosmed othor yah...
IG : @tie_tik || FB: Titik Pujiningdyah
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1