Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
ICU?


__ADS_3

🎵Namun 'tak selayaknya perselingkuhan ini


Yang lama 'ku lalui menjadi tiada berarti


Semenjak 'ku merasa harapmu sia-sia


Hingga terluka hati 'kan membuatmu 'tak berdaya


Mungkin 'ku relakan untuk kau tinggalkan


Diriku di sini harus mengakhiri


Aku yang merasa lelah dan menyerah


Karena 'tak selamanya selingkuh itu indah ....


Jessica menghela nafasnya ketika mendengar lagu yang menggema di dalam mobil Jerry. Ia seakan tertampar dengan lirik lagu dari Merpati Band, ia menjadi kesal karena hal itu.


"Kenapa di matiin?" tanya Jerry ketika tak mendengar lagi suara merdu dari band yang terkenal di masa-masa mudanya dulu.


"Jangan banyak protes! kamu sengaja memutar lagu itu buat nyindir aku heh?" hardik Jessica dengan wajah yang masam.


"Kamu merasa?" pertanyaan Jerry berhasil membuat Jessica semakin kesal. Ia memukul lengan bergelombang yang ada di sampingnya.


Jerry meringis karena merasakan sakit di lengannya namun ia tak memperdulikan hal itu. Sesekali ia melirik Jessica yang sedang mengerucutkan bibirnya.


Beban berat yang beberapa hari ini dirasakannya kini hilang sudah. Jessica akhirnya bisa bernafas lega setelah menyelesaikan urusannya bersama Ezar. Sebuah rasa yang pernah singgah di hatinya kini seakan hilang begitu saja meski rasa bersalah kepada Ezar masih menghantui hati Jessica. Ia serasa menjadi wanita paling jahat setelah tadi melihat respon Ezar.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Je?" tanya Jerry ketika rasa penasaran hinggap dalam hatinya, jiwa keponya meronta-ronta karena kebungkaman Jessica.


"Aku merasa bersalah kepada Ezar, Jer! Aku yang membuatnya menjadi seorang suami bre-ng-sek, tapi akhirnya aku meninggalkan dia, aku wanita jahat 'kan Jer?" tanya Jessica dengan suara yang bergetar.


Jerry menghentikan mobilnya di depan sebuah ruko yang tak terpakai, kini ia menatap wajah yang sedang menahan tangis. Ia heran melihat Jessica yang akhir-akhir ini sering mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Lebih baik kamu menjadi wanita jahat untuk saat ini Je, daripada kamu harus menjadi wanita jahat disaat kamu benar-benar menikah bersama Ezar," ucap Jerry dengan manik hitam yang tak beralih dari wajah sendu di hadapannya.


"Hapus air matamu, Je ... aku sangat tidak suka melihat mu menangis seperti ini!" Jerry menyerahkan selembar tissu untuk Jessica.


Setelah kondisi cukup tenang, Jerry kembali melajukan mobilnya menuju tempat tinggal Jessica, dimana ada pangeran kecil yang menunggu kehadiran sang mama.


Tiga puluh menit telah berlalu begitu saja, mobil hitam Jerry telah berhenti di halaman rumah Jessica. Tanpa menunggu Jessica, Jerry keluar begitu saja, ia sudah tidak sabar untuk bertemu bayi menggemaskan yang kini sudah berusia lima tahun.


"Astaga ... aku yang punya rumah, dia yang masuk duluan!" gerutu Jessica yang masih berada di dalam mobil.


Jessica mengayun langkah untuk menyusul Jerry yang sudah berada di dalam rumah. Gelak tawa Fano dari ruang keluarga berhasil membuat Jessica menerbitkan senyum manisnya, ia sangat bahagia ketika mendengar sang putra tertawa renyah bersama Jerry.


"Wah ... ada apa nih?" tanya Jessica ketika sampai di ruang keluarga lalu ia pun duduk di sofa yang sama dengan Jerry.


"Papa besok mau ngajak kita liburan loh Ma, yeee Fano besok jalan-jalan!" Fano sangat antusias dengan kabar yang di berikan oleh Jerry.


"Fano besok harus sekolah, Nak ... liburannya minggu depan aja ya," ucap Jessica yang berhasil membuat ekspresi Fano berubah masam.


"Libur sehari aja gak masalah 'kan Je ...." Jerry mencoba membujuk Jessica agar tidak membuat Fano kecewa.


Fano adalah sumber kebahagiaan Jessica, apapun akan ia lakukan jika menyangkut tentang kebahagiaan putranya, karena Fano adalah semangat yang di kirim Tuhan untuknya ketika menghadapi masalah yang sangat berat.


Semua kebahagiaan yang di rasakan Jessica saat ini berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan keluarga Aruna saat ini. Di depan ruang ICU semua orang terlihat panik ketika menatap wajah pucat yang terbaring di dalam sana. Bella dan Siva terus meneteskan air matanya ketika melihat Bu Lidya di balik kaca ruang ICU.


Bu Lidya terkena serangan jantung setelah melihat kehadiran Jessica di rumah putrinya. Adanya komplikasi dalam tubuhnya, membuat Bu Lidya harus di rawat intensif di ruang ICU.


"Kak, aku takut kak," ucap Bella dengan air mata yang tak henti menetes, ia begitu khawatir melihat kondisi sang mama.


"Kita berdoa saja, semoga Mama cepat sadar," ucap Siva yang kini sedang meraih tubuh Bella ke dalam dekapannya.


Sementara itu, di kursi panjang yang tak jauh dari tempat Bella dan Siva berada, ada dua pria yang hanya diam dengan pikiran masing-masing. Kedua pria itu tak lain adalah Ezar dan Fery, pria yang pernah hadir dalam hidup Jessica.


Ezar benar-benar frustasi dengan situasi ini, ia terus memijat keningnya karena semua masalah ini sangatlah rumit. Rencana rumah tangga yang pernah di susunnya bersama Jessica kini hancur sudah karena sebuah alasan yang belum jelas kebenarannya.

__ADS_1


"Zar, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Mama bisa seperti itu?" akhirnya Fery membuka suaranya karena di rundung rasa penasaran yang besar.


Ezar akhirnya menceritakan apa yang terjadi di rumahnya hingga membuat Bu Lidya tak sadarkan diri. Fery begitu terkejut ketika mendengar nama Jessica disebut oleh Ezar, apalagi ketika mendengar rencana pernikahan kedua adik iparnya itu.


"Astaga ... jadi semua ini Caca penyebabnya," gumam Fery dalam hatinya.


Hembusan nafas berat terdengar dari indera penciuman Fery, ia tidak menyangka Caca yang ia kenal dulu telah berubah menjadi sosok yang sangat berbeda.


"Apa Kakak tau apa yang telah terjadi di masa lalu?" tanya Ezar sembari menatap manik hitam Fery.


Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Fery membuka suaranya. Ia mengungkap semua yang terjadi di masa lalu tanpa di tutupi sedikitpun.


"Jadi Kak Fery mantan suami Jessica?" Ezar meyakinkan apa yang baru saja di dengarnya.


"Iya." Sebuah jawaban singkat yang lolos dari bibir Fery.


Ezar pun beranjak dari tempat duduknya, ia berlalu begitu saja dari ruangan itu. Ia harus menenangkan diri setelah mengetahui jawaban dari alasan Jessica meninggalkannya.


Pria bertubuh tinggi itu akhirnya duduk di sebuah taman rumah sakit untuk menenangkan diri. Mencerna apa yang telah dijelaskan oleh Fery.


"Jadi ... Masa lalu pahit yang membuat Jessica meninggalkanku?" Ezar bermonolog dengan pandangan lurus ke depan.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Maaf upnya telat yak, othor lagi vaksin nih😂 jadi gk bisa double up yaa Zheyenkk😘


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2