Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Pindah?


__ADS_3

"Sayang, apa kamu yakin akan membawa Fano bertemu dengan Fery?" tanya Jessica ketika memasangkan dasi untuk Jerry.


Jerry hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Jessica yang ke sekian kali. Pagi ini lebih dari lima kali Jessica mengajukan pertanyaan yang sama.


Hari ini adalah hari yang di sepakati Fery dan Dani untuk bertemu di kantor Wongso IND. Semua berkas sudah di persiapkan oleh Dani. Tim pengacara keluarga Wongso pun turut hadir di kantor.


Keadaan rumah tangga Fery dan Siva kembali seperti semula. Setelah dua hari tidak saling menyapa, akhirnya mereka berdua saling mengalah dan bersatu untuk menerima keputusan dari Jerry.


Kehidupan Fery dan Siva benar-benar hancur dari segi ekonomi, mereka harus menjual rumah utama dan semua aset yang mereka miliki untuk menutup kerugian serta membayar hutang perusahaan yang mengalami gulung tikar.


Kemewahan yang biasa menemani kehidupan Siva kini hilang sudah di telan kenyataan pahit. Mereka harus mulai dari bawah lagi agar bisa merasakan kembali kemewahan yang pernah mereka rasakan sebelumnya. Mungkin kah ini yang di sebut roda kehidupan yang berputar?


Jawabannya adalah benar. Siapapun pasti akan menerima buah dari apa yang mereka tanam. Cukup lama sepasang suami istri itu menikmati masa-masa bahagia di atas penderitaan Jessica dan kini mereka telah mendapatkan balasan atas semua kejahatan yang pernah mereka lakukan.


Waktu terus berjalan tanpa kenal lelah, kini jarum jam itu sudah berada di angka sembilan pagi. Jerry, Jessica dan juga Fano sudah siap untuk berangkat ke kantor. Jantung Jessica berdegup kencang karena takut terjadi sesuatu kepada Fano.


"Kenapa wajahmu terlihat tegang, Sayang?" Jerry sekilas menatap Jessica yang sedang duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran," jawab Jessica tanpa menatap wajah sang suami.


Mobil hitam yang di kendarai Jerry terus melaju membelah jalanan ibu kota yang di penuhi berbagai kendaraan. Macet pun tak dapat di hindari lagi.


Empat puluh lima menit telah berlalu, akhirnya mereka bertiga sampai di kantor Wongso IND setelah merasakan kebosanan karena macet panjang.


"Sayang, aku takut," ucap Jessica dengan suara yang lirih ketika berada di lobby kantor.


"Jangan takut, Sayang." Jerry menggenggam tangan Jessica untuk memberikan suntikan kekuatan untuk ibunya Fano itu.

__ADS_1


Jerry menggenggam tangan Jessica dan Fano, ia membawa kedua sosok yang di cintainya menuju ruangan khusus untuk pertemuan private. Menurut kabar yang baru saja di sampaikan Dani lewat sambungan telfon, Fery dan istrinya sedang menunggu kehadiran Jerry.


Selang beberapa menit mereka bertiga telah sampai di ruangan, di mana ada Fery dan Siva yang duduk berdampingan. Raut wajah sepasang suami istri itu terlihat resah setelah melihat kehadiran Jerry.


"Papa! Fano takut sama Om itu Pa!" teriak Fano ketika kedua manik hitamnya menemukan kehadiran Fery di ruangan itu.


Fano bersembunyi di balik tubuh Jessica, ia mencengkram bagian samping dress Jessica dengan erat, "Ma, Om itu jahat! Fano takut, Ma!" gumam Fano dengan suara yang lirih.


Jerry membalikkan tubuhnya, ia berlutut di hadapan Fano, "Jangan takut, ada Papa di sini! Om itu tidak akan berani membawa Fano kabur. Kita duduk dulu di sana, oke?" Jerry mencoba meyakinkan Fano agar mau duduk di dekat Fery.


Fery menatap Fano dengan sejuta perasaan yang membuncah di dada. Ia ingin sekali memeluk putranya itu tapi apalah daya, ia tidak bisa melakukan hal itu karena kesalahan yang ia perbuat sendiri.


"Ada apa kamu memanggilku datang ke kantor ini?" tanya Fery ketika semua orang duduk di tempat masing-masing. Di ruangan itu hanya ada Jerry beserta keluarga kecilnya, Dani dan tim pengacara keluarga Wongso yang berjumlah empat orang.


"Dan, tolong ambilkan berkasnya!" Jerry menatap Dani dengan sorot mata penuh makna.


Dani segera mengeluarkan map biru yang tersimpan di tas kerjanya. Ia membuka map itu dan meletakkan di atas meja tepat di dekat Fery.


Fery dan Siva mulai membaca dua berkas yang sudah di siapkan Jerry untuk mereka. Fery melebarkan matanya, ia tidak menyangka jika Jerry akan mengirim keluarganya ke Kabupaten Kepulauan Talaud yang ada di pulau Karakelang, Sulawesi utara. Begitu pun dengan Siva, rasanya ia ingin menangis karena setelah ini harus tinggal di pulai kecil yang sangat berbeda dengan Jakarta.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Fery dengan wajah yang datar, dalam keadaan seperti ini pun, wajahnya masih menampakkan keangkuhan.


"Dan!" Jerry memberi isyarat agar Dani membuka file yang sudah di kumpulkan di dalam laptop.


Jerry mulai menjelaskan satu persatu masalah Fery yang sudah lama di pendam. Ada tiga kasus besar yang tersimpan di dalam laptop Jerry, hal itu semakin membuat Fery merinding karena melihat betapa cerdasnya Jerry dalam mengatur strategi.


"Jika kamu tidak menyetujui keputusanku, maka aku akan menggelar kasus besarmu ke jalur hukum. Jadi pikirkan lagi kamu ingin memilih jalan yang mana!" Jerry menyilangkan kedua kakinya sambil menatap Fery dengan mata elangnya.

__ADS_1


"Istrimu sendiri yang memohon kepada kami agar membebaskanmu dari kehancuran perusahaan mu yang belum selesai. Jadi, aku memberimu keringanan dengan menjauhkanmu dari Jakarta." Jerry tak melepaskan pandangannya dari wajah Fery.


Jessica semakin bingung dengan situasi yang sedang di hadapinya saat ini. Ia hanya menjadi pendengar yang baik di ruangan ini.


"Di Talaud sudah aku siapkan satu unit rumah, mobil dan fasilitas pendidikan untuk putrimu. Jika kamu menyetujui ide ku ini, maka kamu akan berangkat tiga hari lagi. Surat-surat pindahmu akan di urus Dani. Aku pun akan memberimu uang tunai satu milyar sebagai pesangon."


"Jadi bagaimana? hukumanku sangat ringan 'kan?" Jerry tersenyum simpul sambil menatap Fery.


Jerry sengaja memindahkan Fery dan keluarganya jauh dari Jakarta. Semua itu ia lakukan agar Fery tidak bisa mendekati Jessica dan Fano lagi. Dalam surat itu di tuliskan jika Fery berani kembali ke Jakarta dan mendekati keluarga Wongso lagi, maka Fery akan menerima konsekuensinya di jalur hukum.


Keheningan terasa di ruangan private itu. Fery menatap sang istri untuk meminta jawaban atas penawaran yang di ajukan Jerry kepadanya. Siva menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang tersirat lewat sorot mata Fery.


Hukuman yang di berikan Jerry kali ini lebih baik dari kehancuran perusahaan yang terjadi kemarin. Setidaknya Jerry masih memiliki perasaan dengan memberikan fasilitas untuk mereka di pulau yang jauh dari Jakarta. Siva sangat bersyukur karena keluarga kecilnya tidak menjadi gembel yang hidup di jalanan.


"Baiklah aku menyutujui semua poin yang tertulis di surat ini. Aku akan menjauh dari kehidupan kalian. Maafkan aku dan Istriku karena pernah menggores luka di hati Jessica," Fery menatap Jerry dan Jessica bergantian, sekilas ia menatap Fano yang sedang asyik dengan i-pad yang ada di pangkuannya.


Fery dan Siva menandatangani surat perjanjian dan berkas ber materai yang sudah di siapkan sebelumnya. Surat itu sah di mata hukum, jadi jika Fery melanggar isi surat yang sudah di sepakati itu, maka dia harus siap bertemu dengan pengacara keluarga Wongso di meja hijau.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Nah loh, Fery di buang Jerry tuh😂ada yang seneng gak?


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2