
Satu persatu masalah telah di lewati Jessica dan Jerry, ketenangan dan kebahagiaan seakan tak pernah pudar dari penghuni rumah megah keluarga Wongso. Bu Monik pun bisa bernafas lega karena setelah ini tidak ada yang mengganggu Jessica dan Fano, beliau selalu berdoa agar Fano selalu ada dalam pelukan keluarga ini.
Fery dan keluarganya telah berangkat ke pulau Karakelang satu minggu yang lalu, orang-orang suruhan Jerry lah yang mengantarkan mereka ke pulau yang dekat dengan perbatasan Indonesia-Filipina. Sebuah rumah di salah satu perumahan yang ada di kabupaten kepulauan Talaud telah di siapkan Jerry untuk Fery sebagai bentuk tanggung jawabnya. Pria keturunan Mexico itu tidak mau jika ketiga putri Fery harus terlantar karena ulah kedua orangtuanya.
Semua yang di lakukan Jerry sudah di pikirkan dengan matang. Sebenarnya ia sendiri muak dengan Fery karena mengingat kejahatan yang dilakukan oleh Fery. Semua Fasilitas Rumah, mobil dan pendidikan yang di berikan Jerry semata-mata hanya untuk kelayakan hidup ketiga putri Fery yang tidak bersalah. Di Talaud Fery akan mulai hidup yang baru dari nol, entah dia akan bekerja di mana karena di sana tidak ada perusahaan besar seperti di Jakarta.
Angin berhembus kencang mengiringi rintik hujan yang turun dengan derasnya. Langit seakan menumpahkan semua air yang tertampung di awan gelap. Suara guntur pun saling bersahutan. Malam ini suasana alam nampaknya sangat mendukung untuk mereka yang sedang merajut cinta menuju puncak kenikmatan seperti yang di lakukan Jerry dan Jessica.
Keduanya seakan tak pernah bosan melakukan permainan panas yang bisa membuat mereka berdua terkulai lemas di akhir permainan. Rasa lelah seakan sirna ketika mereka sudah berpacu untuk menciptakan gelombang-gelombang yang menggetarkan jiwa.
"Terima kasih, Sayang." tiga kata yang selalu terucap dari bibir Jerry setelah permainan berakhir.
***
Mentari pagi perlahan menampakkan diri di cakrawala timur, mengikis sisa-sisa hujan yang turun semalam suntuk. Sinar mentari pun mulai menerobos masuk ke salah satu kamar yang ada di rumah bergaya eropa.
Bella mengerjapkan matanya pelan ketika sinar mentari menyapanya di balik jendela kaca yang tidak tertutup tirai. Rasa malas begitu mendera, membuat Bella enggan untuk beranjak dari ranjang empuknya, ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Ezar berdiri di sisi ranjang setelah membersihkan diri di kamar mandi. Ia berkacak pinggang sambil menatap sang istri yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidur.
"Baby, bangunlah! tidak baik seorang ibu hamil tidur di pagi hari! ayo bangun!" ucap Ezar seraya menarik selimut yang menutupi tubuh Bella.
Bella menggeliatkan tubuhnya, ia benar-benar malas hari ini. Entah apa yang membuatnya enggan beranjak dari tempat tidur, yang pasti ia hanya diam sambil menatap Ezar dengan mata sayunya.
"Aku sedang nyaman seperti ini, nanti saja ya aku bangunnya," bujuk Bella dengan menampilkan wajah manja.
"Baiklah, kalau begitu aku sarapan di kantor saja," ucap Ezar dengan di iringi senyum manisnya.
Setelah Bella di nyatakan hamil oleh dokter kandungan tiga hari yang lalu, sikap Ezar sangat berubah, ia menjadi sosok suami yang hangat sama seperti dulu sebelum Jessica masuk ke dalam hatinya. Ezar sangat bahagia karena ia akan mempunyai anak kedua, sudah lama Ezar menantikan hal ini.
"Aku akan mandi sebentar lagi, kita sarapan bersama, oke?" Bella segera turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Dua puluh menit telah berlalu begitu saja, kini Ezar, Bella dan Alana sedang menikmati sarapan bersama. Ezar begitu perhatian kepada Bella, Ia terus mengisi piring Bella dengan berbagai makanan yang tersaji di meja makan.
"Stop Baby! aku sudah kenyang!" ucap Bella ketika Ezar menambahkan sayur di piringnya.
__ADS_1
"Kamu harus makan yang banyak, agar anak kita tidak kelaparan disini," Ezar mengusap perut rata Bella.
Bella tersenyum simpul ketika merasakan usapan lembut sang suami di perutnya. Usia kandungan Bella belum genap satu bulan. Tidak ada morning sickness yang melanda hari-harinya, hanya ada rasa malas di pagi hari dan sore.
"Ya Tuhan ... terima kasih Engkau telah mengirim rezeki yang tak pernah hamba duga. Hamba sangat bersyukur karena Engkau telah mengembalikan suami hamba seutuhnya. Hamba janji tidak akan mengulang kesalahan untuk yang kedua kalinya, menyianyiakan suami yang baik seperti Ezar." Bella bergumam dalam hatinya sambil menatap Ezar yang sedang menikmati secangkir kopi hitam.
"Baby, sejauh apapun kamu berlari dariku, pada akhirnya kamu akan tetap kembali karena aku adalah satu-satunya tempatmu pulang, bukan Jessica ataupun wanita lainnya. Aku akan menghujanimu dengan cinta dan kasih agar tidak ada celah dalam rumah tangga kita." sekali lagi Bella bergumam ketika melihat wajah tampan Ezar.
Selama satu minggu ini, Perasaan Bella menjadi tak karuan. Setelah sedih karena harus jauh dengan kakak tercintanya kini ia merasakan rasa bahagia karena kehadiran janin yang sedang tumbuh di gua garba nya. Mungkinkah ini yang di sebut perasaan nano-nano seperti yang biasa di ucapkan oleh emak-emak jaman now?
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷