Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Keputusan terakhir,


__ADS_3

Satu bulan kemudian ....


waktu terus berlalu berlalu begitu saja, seakan tak pernah lelah mengantar semua insan sampai pada tujuan masing-masing. Kehidupan damai telah dirasakan oleh Jessica, ia seakan kembali pada masa dimana hanya ada dirinya, Fano dan keluarga Wongso.


Dua minggu ini Jessica dan Fano sudah kembali ke rumahnya sendiri, meski ia harus sedikit memohon kepada Jerry, dan benar saja pria keturunan Mexico itu akhirnya mengizinkan Jessica kembali ke rumahnya.


Kehidupan normal yang dilalui Jessica terasa begitu cepat, kini ia di hadapkan pada sebuah keputusan besar yang sangat mempengaruhi hidupnya. Dua hari yang lalu Ezar memberikan kabar kepadanya jika dirinya sudah kembali ke Indonesia.


Malam yang begitu sunyi menemani Jessica yang sedang duduk sendirian di taman kecil yang ada di belakang rumahnya. Secangkir coklat hangat pun ikut menemaninya malam ini. Jessica sangat menyukai suasana di keheningan malam seperti saat ini karena pikirannya menjadi lebih jernih dan fokus.


Keputusan Jessica sudah bulat, ia akan mengakhiri hubungannya bersama Ezar. Semua surat kepemilikan dan barang-barang pemberian Ezar telah ia kumpulkan di dalam box besar. Jessica tidak ingin semua itu menjadi beban dalam hidupnya nanti.


Sebuah rasa yang pernah singgah dalam hatinya, kini hilang sudah entah kemana. Nama Ezar seakan sirna begitu saja dari hatinya, ia tak lagi merasakan keraguan seperti dulu.


"Maafkan aku, Zar ... keputusanku kali ini pasti membuatmu terluka, tapi aku tidak bisa untuk melanjutkan semua ini," gumam Jessica sembari menatap bunga-bunga indah yang tersusun rapi di hadapannya.


Perasaan yang di miliki Jessica ternyata bukanlah cinta, ia baru menyadari akan hal itu setelah lama tidak bertemu dengan Ezar. Ia hanya terobsesi kepada pria beristri itu. Ia sendiri menjadi bingung dengan perasaannya, siapakah sesungguhnya yang memiliki cintanya? Ya, pertanyaan itu selalu muncul dalam hatinya.


Usaha Jerry selama ini membuahkan hasil, perlahan ia berhasil mengembalikan kehidupan damai Jessica, rasanya ia bernafas lega setelah melihat sahabatnya kembali ke jalan yang benar, apalagi ketika mendengar janji yang terucap dari bibir Jessica di hadapannya waktu itu.


Malam semakin larut, akhirnya Jessica memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Rasa kantuk mulai menyerang dirinya.


Senyum tipis mulai terbit dari bibirnya ketika melihat wajah kecil yang sedang tertidur pulas. Berkali-kali ia mengecup kening berkulit putih itu untuk mencurahkan kasih sayangnya. Setelah kembali dari kediaman keluarga Wongso, Fano tidak mau tidur sendiri di kamarnya, ia lebih suka tidur dalam dekapan hangat sang Mama.


Alam mimpi yang indah telah menanti kedatangan Jessica, perlahan ia menutup kelopak matanya setelah memposisikan diri di tempat ternyaman.


...🌹🌹🌹🌹...


Matahari telah datang di ufuk timur untuk menyinari alam semesta, semua insan mulai mempersiapkan diri untuk melakukan kegiatan masing-masing. Seperti Jessica dan Fano saat ini, mereka berdua sedang menikmati sarapan bersama, bubur ayam menjadi menu pagi ini.


"Fano, Mama hari ini mau kerja, Fano di rumah saja sama Kak Lila ya," ucap Jessica setelah menyelesaikan sarapannya.


"Ini kan hari minggu Ma, biasanya Mama di rumah kan," ucap Fano dengan wajah yang tertekuk.


"Hari ini Mama ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda, jadi Mama harus ke butik Sayang," Jessica mencoba membujuk Fano agar tidak ikut bersamanya.


Hari ini Jessica akan pergi ke rumah Ezar, ia akan mengembalikan semua fasilitas pemberian Ezar, tentu saja kali ini ia harus merepotkan Jerry lagi karena tanpa bantuan Jerry dan pengacaranya, Jessica tak akan bisa menghapus namanya dari surat-surat kepemilikan Apartemen dan mobil pemberian Ezar.


Hampir tiga puluh menit Jessica merayu Fano agar tidak ikut bersamanya. Ia tidak mau jika Fano melihat sesuatu yang akan terjadi nanti, karena semua itu bisa mempengaruhi kondisi psikis putranya.


"Mama harus janji dulu," ucap Fano dengan wajah yang masam. Jessica menjanjikan sebuah liburan bersama Fano dan hal itu berhasil membuat Fano menjadi luluh.

__ADS_1


Jessica segera keluar dari rumahnya, ia harus buru-buru agar tidak terlambat ke rumah Ezar, karena setelah ini ia harus menjemput Jerry terlebih dahulu.


Beberapa puluh menit kemudian, Jessica telah sampai di halaman luas istana megah milik keluarga Wongso. Ia segera keluar untuk mencari Jerry yang ada di dalam.


"Jer ... Jerry ...." teriak Jessica ketika sudah berada di ruang keluarga.


"Pelankan suaramu, Je! Aku bukan pria tuli!" ucap Jerry yang baru saja keluar dari ruang makan.


Jessica menghempaskan diri di atas sofa yang ada di ruang keluarga. Ia menatap Jerry yang sedang berdiri di samping sofa.


"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu kali ini, Je?" tanya Jerry sembari membenarkan arlojinya.


"Sudah, keputusanku sudah bulat Jer!" ucap Jessica dengan yakin.


"Baiklah kita berangkat sekarang," ucap Jerry sebelum berlalu dari hadapan Jessica.


Jessica mengekor di belakang Jerry, pagi ini ia sendiri yang harus mengendarai mobil pemberian dari Ezar, mengikuti Jerry yang memimpin di depan karena Jerry lah yang tau dimana tempat tinggal Ezar.


"Semoga keputusanku kali ini tidak salah ...." gumam Jessica dalam hatinya.


Rasa cemas melanda diri Jessica, ia tak kuasa membayangkan wajah Ezar nantinya. Entah mengapa hatinya menjadi gelisah, tidak seperti sebelumnya.


Perjalanan kali ini cukup jauh, Jessica memutar sebuah lagu untuk mengusir rasa bosan yang kini melanda dirinya. Jessica semakin memperbesar volume suara ketika sebuah lagu dari Melly Goeslaw feat Krisdayanti terdengar dalam mobilnya.


Tentukan arah yang ku mau


Tempatkan aku pada satu peristiwa


Yang membuat hati lara


Didekat engkau aku tenang


Sendu matamu penuh tanya


Misteri hidup akankah menghilang


Dan bahagia di akhir cerita


Cinta.... tegarkan hatiku


Tak mau sesuatu merenggut engkau

__ADS_1


Naluriku berkata


Tak ingin terulang lagi


Kehilangan cinta hati


Bagai raga tak bernyawa


Aku..... junjung petuahmu


Cintai dia yang mencintaiku


Hatinya dulu berlayar


Kini telah menepi


Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia


Jessica meremas setir yang ada dalam genggamannya, lagu ini mengingatkannya lagi dengan penghianatan yang di lakukan Fery. Entah mengapa ia masih saja menitikkan air matanya ketika mengingat nama itu.


"Lupakan Je, lupakan!! jangan mengingat luka lama mu, hidupmu sekarang sudah lebih baik!" gerutu Jessica pada dirinya sendiri, ia sedang memberikan semangat pada hatinya agar bisa melupakan luka yang pernah ia rasakan.


Setelah menempuh perjalan panjang, akhirnya mobil Jessica berhenti di halaman luas sebuah rumah bergaya eropa. Jessica keluar dari mobilnya untuk menghampiri Jerry yang sudah bersandar di pintu mobil yang tertutup.


"Apa kau yakin kalau ini tempat tinggal Ezar?" tanya Jessica untuk memastikan mereka tidak salah alamat.


"Iya, ini adalah rumah Ezar, aku sangat yakin, Je!" Jerry menunjukkan sebuah pesan dari orang kepercayaannya yang ia tugaskan mencari alamat Ezar.


Tanpa banyak bicara Jessica kembali ke mobilnya untuk mengambil box berisi barang-barang pemberian Ezar, tidak ada satupun yang ketinggalan di rumahnya.


"Biar aku yang membawanya." Jerry merebut box yang ada di bawa Jessica.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Maaf ya kemarin dan hari ini tidak bisa double up🙏😂 kalau weekend othor suka oleng nih😝


...IG: @tie_tik || FB: Titik Pujiningdyah...

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2